Dalam Tekanan, IHSG Kembali Terkoreksi

NERACA

Jakarta – Mengakhiri perdagangan Senin awal pekan, indeks harga saham gabungan (IHSG) di Bursa Efek Indonesia (BEI) ditutup melemah 28,732 poin (0,55%) ke level 5.187,933. Sementara Indeks LQ45 berkurang 7,997 poin (0,89%) ke level 890,831.

Kata analis Asjaya Indosurya Securities, William Suryawijaya, laju IHSG tertahan oleh aksi ambil untung pelaku pasar saham di tengah pergerakan bursa global yang bervariasi. Kendati demikian, dia menilai bahwa penurunan indeks BEI pada awal pekan ini merupakan hal yang wajar sebelum kembali beranjak melanjutkan pola tren penguatannya menuju level batas atas ke 5.247 poin,”Arah pergerakan indeks BEI dalam jangka pendek masih berada dalam jalur 'up trend', saat terjadi koreksi merupakan momen bagi investor untuk melakukan akumulasi beli," katanya di Jakarta, Senin (12/1).

Sementara itu, analis HD Capital Yuganur Wijanarko mengatakan bahwa penurunan IHSG BEI cenderung terbatas, situasi itu dapat membuka peluang kenaikan pada perdagangan saham selanjutnya,”Kami melihat penurunan IHSG ke arah bawah cukup terbatas, maka dapat dikatakan momentum naik masih terbuka,”ujarnya.

Oleh karena itu, dirinya memproyeksikan indeks BEI Selasa bergerak di kisaran level 5.165-5.251 poin dengan tren kembali terkoreksi. Transaksi investor asing hingga sore terpantau melakukan penjualan bersih (foreign net sell) senilai Rp 67,904 miliar di seluruh pasar. Sedangkan di pasar reguler sebesar Rp 235,273 miliar.

Perdagangan berjalan cukup sepi dengan frekuensi transaksi sebanyak 218.179 kali dengan volume 6,999 miliar lembar saham senilai Rp 4,824 triliun. Sebanyak 100 saham naik, 176 turun, dan 98 saham stagnan. Bursa-bursa di Asia rata-rata menutup perdagangan dengan positif sore. Hanya bursa saham Tiongkok yang anjlok cukup dalam akibat tekanan jual.

Saham-saham yang naik signifikan dan masuk dalam jajaran top gainers di antaranya adalah Samudera Indonesia (SMDR) naik Rp 650 ke Rp 12.300, Blue Bird (BIRD) naik Rp 475 ke Rp 10.475, Danayasa (SCBD) naik Rp 395 ke Rp 2.195, dan Pembangunan Jaya (PJAA) naik Rp 390 ke Rp 2.590. Sementara saham-saham yang turun cukup dalam dan masuk dalam kategori top losers antara lain Merck (MERK) turun Rp 14.000 ke Rp 146.000, Unilever (UNVR) turun Rp 1.125 ke Rp 32.100, Indo Tambangraya (ITMG) turun Rp 725 ke Rp 14.625, dan Indofood CBP (ICBP) turun Rp 450 ke Rp 12.500.

Perdagangan sesi pertama, posisi IHSG tidak berkutik dan masih berada di zona merah. Terpantau, IHSG ditutup terkoreksi 33,18 poin atau 0,64% ke level 5.183,49. Sementara bursa regional lainnya, seperti indeks Hang Seng naik 13,28 poin atau 0,06% ke 23.933,23 indeks Straits Times naik 0,84 poin atau 0,03% ke 3.339,28; indeks Shanghai berkurang 69,64 poin atau 2,1%2 ke 3.215,77.

Nilai transaksi di bursa Indonesia tercatat sebesar Rp2,37 triliun dengan 3,27 miliar saham diperdagangkan dan transaksi jual asing Rp54,42 miliar. Tercatat 114 saham naik, 170 saham melemah dan 82 saham stagnan.

Sektor saham di Bursa Efek Indonesia mayoritas melemah. Sektor dengan pelemahan terbesar adalah konsumer, yang susut 1,42%, diikuti perkebunan yang turun 1,32%. Sedangkan sektor yang menguat adalah perdagangan yang naik 0,52%, dan industri dasar terkerek 0,29%.

Adapun saham yang menguat, di antaranya PT Global Mediacom Tbk (BMTR) naik Rp115 menjadi Rp1.720, PT Astra International Tbk (ASII) menguat Rp25 menjadi Rp7.050, dan PT Matahari Departement Store Tbk (LPPF) naik Rp250 menjadi Rp14.550.

Sementara saham yang anjlok, di antaranya PT Gudang Garam Tbk (GGRM) turun Rp475 menjadi Rp59.525, PT XL Axiata Tbk (EXCL) turun Rp215 menjadi Rp4.390, dan PT Mayora Indah Tbk (MYOR) susut Rp150 menjadi Rp21.825.

Diawal perdagangan, IHSG dibuka melemah 13,91 poin atau 0,27% menjadi 5.202,74 dan kelompok 45 saham unggulan (indeks LQ45) melemah 3,52 poin (0,39%) ke level 895,30. Head of Research Valbury Asia Securites Alfiansyah mengatakan, sejumlah sentimen terutama dari ekternal masih mempengaruhi laju IHSG BEI dibayangi oleh pergerakan harga minyak mentah dunia yang cenderung menurun,”Apabila harga minyak mentah melanjutkan penurunannya pada pekan ini, maka berpotensi mendorong tekanan terhadap indeks saham dunia termasuk IHSG BEI," katanya.

Kendati demikian, lanjut dia, fluktuasi nilai tukar rupiah yang relatif stabil dapat menahan sentimen negatif eksternal itu,”Stabilitas nilai tukar rupiah merupakan salah satu poin kunci bagi IHSG BEI, jika rupiah stabil potensi indeks apresiasi bisa terjadi dalam pekan ini,”ujarnya.

Sementara Kepala Riset Woori Korindo Securities Indonesia Reza Priyambada menambahkan bahwa IHSG BEI bergerak melemah di tengah antisipasi pasar menjelang pengumuman Bank Indonesia (BI) terkait kebijakan tingkat suku bunga acuan (BI rate) yang sedianya akan dirilis pekan ini.

Di sisi lain, lanjut dia, volume beli diperkirakan masih melambat tidak akan jauh berbeda dengan perdagangan pada pekan sebelumnya,”Kendati demikian, potensi pembalikan arah IHSG BEI di tengah harapan pelaku pasar terhadap pemerintah masih ada terkait pembangunan infrastruktur yang menjadi program utama sehingga peluang kenaikan masih cukup terbuka," katanya.

Tercatat bursa regional, di antaranya indeks Bursa Hang Seng dibuka menguat 129,40 poin (0,54%) ke 24.049,35, indeks Nikkei naik 30,63 poin (0,18%) ke 17.197,73, dan Straits Times melemah 0,56 poin (0,02%) ke posisi 3.337,88. (bani)

Related posts