Tatkala Seseorang Mengalami Kesalahan dalam Memahami Hidupnya - Oleh: Prof Dr H Imam Suprayogo, Dosen PTN

Kemarin saya menulis tentang fenomena kesalah-pahaman. Banyak orang salah dalam memahami sesuatu, termasuk ketika seseorang memahami dirinya sendiri. Kadang kesalahan itu berakibat fatal. Apa yag dilakukan menjadi salah, karena didasari oleh pemahaman yang salah. Sebagai contoh, seseorang dikiranya terlalu hebat, hingga dipilih menjadi pemimpin. Pemahaman itu ternyata keliru. Setelah menjadi pemimpin, ternyata tidak mampu berbuat banyak, sehingga tidak membawa perubahan. Begitu pula, seseorang dianggapnya cakap, dermawan, mengerti agama, dan seterusnya, ternyata semua anggapan itu salah. Akibatnya, hanya mendatangkan kekecewaan.

Akibat salah paham menjadi amat fatal, manakala menyangkut sesuatu yang amat besar, luas, dan mendasar, yaitu misalnya tentang kehidupan ini. Hidup ini hanya sekali, dan sebenarnya juga tidak mudah dijalani. Untuk itu perlu bekal pengetahuan dan kekuatan yang cukup. Sedangkan pengetahuan yang diperlukan itu tidak dimiliki. Siapapun tidak pernah tahu, apa yang seharusnya dilakukan tanpa belajar dari orang lain sebelumnya. Pada awal pertumbuhannya, setiap orang belajar dari orang-orang yang terdekat, yaitu kedua orang tuanya sendiri dan orang selainnya yang hidup bersamanya.

Setiap anak yang dilahirkan akanb belajar dari kedua orangt tuanya. Oleh karena itu nabi pernah mengatakan bahwa manusia dilahirkan dalam keadaan suci. Kedua orang tuanyalah yang menjadikan seseorang itu yahudi, nasrani, dan majusi. Orang yang dilahirkan di keluarga yahudi, nasrani dan majusi akan mengikuti kepercayaan dan keyakinan mereka yang melahirkan itu. Umpama saja ada penyimpangan dari kenyataan itu, maka adalah oleh karena yang bersangkutan bersentuhan secara lebih intesnsif dengan dunia luar, baik lewat pergaulan, pendidikan, dan lain-lain.

Secara empirik, tidak pernah ada pengajaran, pendidikan, atau pelatihan menjadi manusia terbaik sebelum seseorang dilahirkan. Disebutkan di dalam kitab suci, bahwa ada perjanjian dengan Tuhan sebelum seseorang dilahirkan. Akan tetapi, pengetahuan tentang adanya hal tersebut sama sekali tidak diingat, kecuali setelah membaca klitab suci itu. Pada kenyataannya, seorang bayi, lahir di muka bumi tidak mengetahui apa-apa. Itulah sebabnya di dalam hadits nabi dinyatakan bahwa, setiap anak dilahirkan dalam keadaan suci sebagaimana disebutkan di muka.

Sejalan dengan pertumbuhan anak selanjutnya, pengaruh itu tidak saja diperoleh dari kedua orang tua dan keluarganya, melainkan dari berbagai arah hingga tidak terbatas. Apalagi ha itu di zaman modern seperti sekarang ini. Informasi membanjir dan dapat diperoleh lewat media apa saja. Akhirnya pengaruh itu sedemikian beragam. Manakala pada masa kecil, ketika masih dalam asuhan orang tuanya masih bersifat terbatas, maka menginjak dewasa, pengaruh itu luar biasa banyaknya. Tidak saja sekolah atau kampus perguruan tinggi, tetapi pengaruh itu dari buku-buku, majalah, jurnal, televisi, vidio, agamawan, seniman, budayawan, dan juga berbagai kalangan yang membawa pandangan hidup dan atau filsafat yang beraneka ragam.

Di tengah-tengah pengaruh dan informasi seperti itulah, seseorang harus memilih dan menentukan jalan hidupnya. Pilihan itu sebenarnya bebas sifatnya, tetapi tidak semua orang menggunakan kebebasannya. Betapa besarnya pengaruh dari luar, seseorang dalam menentukan jalan hidupnya berpegang pada kebiasaan orang tuanya, tradisi, adat istiadat leluhur, suku, seseorang yang diidolakan, dan seterusnya. Tidak semua orang mau dan bersedia untuk memahami sendiri terhadap pilihan-pilihan bebas terhadap jalan hidup yang sebenarnya terbentang luas. Dalam soal agama, ada berbagai pilihan, yaitu misalnya Hindu, Budha, Kristen, Katholik, Islam, Yahudi, Majusi, Kong Hu Cu, dan masih banyak lagi lainnya.

Terhadap pilihan agama itu biasanya orang mengikut, yaitu mengikuti orang tuanya, guru, tokoh, dan atau juga para penguasanya. Terkait dengan yang terakhir, tatkala penguasanya Hindu maka rakyatnya juga menganut hindu. Demikian pula tatkala penguasanya Kristen, maka rakyatnya menjadi Kristen. Tatkala raja-raja Jawa, Kalimantan, Sulawesi dan lain-lain masuk Islam, maka segera rakyatnya juga masuk Islam. Terkait dengan agama, orang biasanya mengikuti siapapun yang dianggap patut diikuti. Dalam soal agama, tidak banyak orang yang menentukan pilihannya atas dasar pemahamannya sendiri. Itulah sebabnya, seorang beragama belum tentu paham ajaran agamanya. Namun anehnya, sekalipun tidak paham terhadap ajaran agamanya, orang biasanya sedemikian fanatik dan sanggup membelanya.

Setiap orang dalam menjalani hidupnya selalu mendambakan keselamatan, kebahagiaan, hidup sejahtera, aman, dan juga keberuntungan. Dalam kehidupan yang terbuka seperti sekarang ini, ternyata tawaran jalan menuju kehidupan yang diharapkan itu cukup banyak. Semuanya memberikan penjelasan, bahwa jalan yang diwarkannya adalah yang terbaik. Demikian pula agama, menawarkan yang demikian itu. Bagi mereka yang memposisikan diri sebagai orang yang memiliki kebebasan dan menggunakan kebebasannya itu, maka sekalipun sulit akan memilih sendiri jalan hidup itu atas pemahaman yang dimilikinya. Akan tetapi, bagi orang awam, biasanya akan mengikuti orang tua, atau orang yang dipercaya dan atau diidolakan.

Islam menawarkan jalan hidup yang jika dilakukan sepenuhnya, diyakini menyelamatkan dan sekaligus membahagiakan, baik di dunia maupun kelak di akherat. Ajaran itu sudah terdokumentasikan dalam dua bentuk, yaitu al Qur'an dan hadits nabi. Ajaran itu di antaranya memuat tentang : (1) keharusan bagi umatnya agar selalu berusaha mendalami ilmu pengetahuan seluas-luasanya hingga mengenal siapa sebenarnya dirinya sendiri dan juga Tuhan yang Maha Menciptakan seluruh alam ini, (2) selalu meningkatkan kualitas kehidupannya sehingga meraih derajat bisa dipercaya, membersihkan dirinya secara menyeluruh, berpikir dan berbuat baik yang b ermanfaat untuk dirinya dan orang lain, (3) berusaha menegakkan keadilan, (4) menjalankan ritual sebagai upaya mendekatkan diri pada Tuhan, dan (5) selalu beramal saleh atau melakukan sesuatu atas dasar ilmu dan kemampuannya.

Setiap orang seharusnya selalu berusaha, secara terus menerus memahami terhadap kehidupan ini. Kehidupan bukan hanya sebatas menyangkut ekonomi, politik, sosial, hukum, ilmu pengetahuan, seni, kejiwaan, dan sejenisnya. Kehidupan ini berdimensi luas, yaitu meliputi hal yang bersifat lahir maupun yang bersifat batin, atau hal-hal yang tampak maupun sisi-sisi yang tidak tampak. Selain itu, ada yang bersifat kekinian, dalam arti berada di alam dunia ini, maupun kehidupan kelak setelah kematian, yakni di akherat nanti. Semua itu seharusnya dipahami secara baik.

Dalam proses pencaharian tentang makna kehidupan ini, sebenarnya tidak ada seorang pun yang boleh mengklaim, bahwa dirinya adalah yang paling berhasil mengetahui, mengerti, dan memahami terhadap kehidupan ini secara sempurna. Semua orang pada hakekatnya adalah berada pada proses tanpa henti untuk memahami semua itu, hingga yang bersangkutan mengakhiri hidupnya. Itulah sebabnya, kewajiban mencari ilmu, sebagaimana dinyatakan dalam hadits nabi, memiliki rentang waktu yang panjang, yaitu mulai dari ayunan hingga liang lahat. Dan itu pulalah sebabnya, setiap orang berkewajiban pada setiap saat, supaya tidak salah dalam memahami kehidupan ini, selalu memohon petunjuk atau hidayah-Nya. Ketika salah dalam memahami kehidupan ini, maka siapapun akan merugi, baik di dunia maupun di akherat kelak. Wallahu a'lam. (uin-malang.ac.id)

Related posts