Cermin Daya Beli Melemah - INDEKS KEYAKINAN KONSUMEN MENURUN

Jakarta – Kondisi ekonomi Indonesia yang belum menggairahkan kini semakin terlihat, setelah Bank Indonesia mengindikasikan adanya pelemahan keyakinan konsumen pada Desember 2014. Ini menunjukkan tren penurunan persepsi masyarakat terhadap ekonomi domestik dalam 6 bulan terakhir. Indeks Keyakinan Konsumen (IKK) Desember tercatat 116,5, atau menurun 3,6 poin dibandingkan bulan sebelumnya.

NERACA

Meski pemerintah menurunkan harga BBM bersubsidi awal Januari 2015, guru besar ekonomi UGM Prof Dr Sri Adiningsih mengatakan kebijakan kenaikan harga BBM bersubsidi pada November 2014 memang menyebabkan inflasi yang tinggi. Oleh karena itu, berkaca pada tahun lalu maka pemerintah agar memperhatikan dampak inflasi dan kenaikan harga pangan, yang membebani kehidupan jutaan rakyat Indonesia yang berpenghasilan menengah ke bawah. Hal ini dilakukan supaya daya beli masyarakat tetap terjaga sehingga pertumbuhan ekonomi Indonesia bisa tumbuh.

“Apabila inflasi tinggi, bisa dipastikan daya beli masyarakat akan makin lemah. Pertumbuhan ekonomi pun akan melambat karena selama ini sektor konsumsi merupakan pendorong utama pertumbuhan ekonomi,” ujarnya kepada Neraca, Kamis (8/1).

Namun, menurut dia, pada tahun ini dimana adanya kebijakan penurunan harga bahan bakar minyak diperkirakan mampu mendorong pertumbuhan ekonomi mencapai enam persen pada tahun 2015. Penurunan ini mendorong daya beli masyarakat yang bangkit kembali.

“Ditambah kebijakan penghematan anggaran yang sudah ditempuh, saya kira akan efektif mendorong pertumbuhan ekonomi mencapai 6%,” ujarnya.

Sri menambahkan kebijakan pemerintah mengurangi subsidi BBM dan menurunkan harga BBM di kala harga minyak dunia turun memiliki dua keuntungan yang berbeda. Pertama, yakni memperluas ruang fiskal untuk belanja produktif dan kedua, memulihkan kembali daya beli masyarakat. Namun, pertumbuhan ekonomi Indonesia akan mampu melebihi target yang dicanangkan 5,8% pada 2015. Asalkan penyerapan penghematan anggaran untuk belanja produktif betul-betul mampu direalisasikan pemerintah.

Kemudian dalam menentukan acuan harga BBM nasional, kata dia, pemerintah perlu menentukan batas atas dan batas bawah harga minyak mentah dunia yang diikuti sebagai acuan harga BBM nasional. Jika masih tergolong wajar apabila pemerintah mengikuti harga minyak dunia pada kisaran paling tinggi yaitu US$70-US$90 per barel.

Sebelumnya survei konsumen Bank Indonesia menunjukkan bahwa keyakinan konsumen pada Desember 2014 melemah dibandingkan bulan sebelumnya. Indeks Keyakinan Konsumen (IKK) Desember 2014 tercatat 116,5, turun 3,6 poin dibandingkan indeks bulan sebelumnya. Meski melemah akibat dampak kenaikan harga BBM pada November 2014, tingkat keyakinan konsumen pada Desember 2014 tersebut masih relatif lebih baik dibandingkan kondisi pasca kenaikan harga BBM Juni 2013 (108,6).

Hasil survei juga menunjukkan bahwa konsumen memperkirakan tekanan kenaikan harga pada Maret 2015 mulai menurun. Selain itu, tekanan kenaikan harga pada 6 bulan mendatang (Juni 2015) juga diperkirakan menurun. Meski khawatir dengan berlanjutnya program pengurangan subsidi energi oleh pemerintah, responden optimistis pada 6 bulan mendatang distribusi barang akan semakin lancar dan ketersediaan barang semakin memadai.

Depresiasi Rupiah

Ekonom Utama LIPI Latief Adam berpendapat, inflasi yang cukup tinggi ini dikarenakan dua hal. Pertama, pengaruh depresiasi rupiah. Dengan rupiah yang melemah, sektor industri mengimpor bahan baku dengan lebih mahal. Biaya produksi naik lalu imbasnya terjadi kenaikan harga.

"Kedua, adanya kenaikan harga BBM. Masyarakat sudah memiliki pemikiran bahwa harga BBM akan naik. Untuk antisipasi, masyarakat sudah menaikkan harga," ujarnya, kemarin.

Latief menilai,kenaikan harga BBM di satu sisi kebijakan ini akan dapat menyeimbangkan postur fiskal dan penghematan anggaran subsidi BBM bersubsidi yang dapat dialokasikan ke sektor sektor prioritas pembangunan lainnya.

Bagi kelompok masyarakat berpendapatan rendah atau miskin, pilihan kebijakan untuk meringankan beban dan memberikan waktu penyesuaian dapat dilakukan melalui dana bantuan sementara langsung. Namun bagi kelompok masyarakat menengah, pilihannya melakukan penghematan konsumsi.

Menurut dia, apabila beberapa faktor di atas bertemu dan terjadi secara bersamaan, dunia usaha akan berhadapan dengan sejumlah tantangan seperti menurunnya daya beli masyarakat, biaya modal yang meningkat, dan tuntutan kenaikan upah buruh akibat meningkatnya harga dari komponen hidup layak.

Apabila hal ini terjadi, dunia usaha akan menghadapi dua tekanan sekaligus, yaitu dari sisi permintaan pasar (demand-side ) dan meningkatnya biaya produksi. Sejauh ini tantangan dalam doingbusiness di Indonesia terkompensasi dengan besarnya pasar domestik sehingga dunia usaha masih menikmati margin yang memadai untuk menutup biaya produksi.

Ketika pelemahan daya beli masyarakat terjadi, sementara komponen biaya produksi juga meningkat, hal ini membutuhkan langkahlangkah antisipasi dari para pengambil kebijakan untuk memberikan stimulus pada dunia usaha nasional, kata dia.

Pengamat ekonomi Universitas Atmajaya A Prasetyantoko menilai dengan inflasi yang tinggi akan membuat daya beli masyarakat menjadi menurun karena harga-harga pada naik sementara penghasilan tidak ikut meningkat. “Jika daya beli melemah maka ekonomi Indonesia sulit untuk terangkat. Karena pada umumnya, dalam beberapa tahun terakhir ekonomi Indonesia tumbuh karena masyarakat yang cenderung konsumtif, namun dari sisi produksinya tidak bisa mengimbangi. Makanya ketika daya beli terganggu maka ekonomi juga akan terganggu,” ujarnya.

Di tengah banyaknya tekanan, lanjut dia, pemerintah sudah seharusnya bijak dengan tidak mengeksekusi kebijakan yang berdampak pada masyarakat. Sebab, kebijakan yang berdampak langsung jelas akan memukul daya beli masyarakat, utamanya golongan bawah. Apalagi, ancaman ekonomi Indonesia di tahun juga datang dari ekternal, yakni pelambatan ekonomi global. “Sudah seharusnya stimulus justru diberikan, bukannya dengan pergolakan harga,” katanya.

Disamping itu, Prasetyantoko mengatakan gejala eksternal seperti rencana kenaikan The Fed funds rate akan membuat ekonomi semakin tak terkendali. “Jika beberapa komoditas energi mengalami kenaikan ditambah dengan kenaikan suku bunga AS itu maka dampak inflasinya bisa lebih besar. Yang penting, suku bunga harus naik, katakan saja menjadi 8% atau 8,5%. Jika hal itu terjadi, sepanjang 2015 kita hanya bergulat dengan persoalan inflasi dan kenaikan suku bunga. Pertumbuhan kredit akan tergerus menjadi sekitar 15% dan pertumbuhan ekonomi tak akan bisa mencapai 5,5% tahun depan,” ujarnya.

Pengamat ekonomi UI Eugenia Mardanugraha mengatakan tingginya tingkat inflasi 2014 yang merangkak hingga 8,36 Persen mencerminkan menurunnya daya beli masyarakat karena tingginya harga barang imbas dari kenaikan harga BBM subsidi bulan November 2014.

Menurunnya daya beli itu, karena memang kenaikan harga tidak diimbangi kenaikan tingkat pendapatan sehingga disaat harga barang melambung tinggi, daya beli langsung drop. "Masalah utamanya ditingkat pendapatan, lebih dari 75 persen masyarakat Indonesia berpenghasilan menengah, bahkan rendah, sehingga jika ada gejolak kenaikan harga barang belum siap mengantisipasinya," katanya. agus/iwan/mohar/bari

Related posts