Reksa Dana Saham Jadi Kontributor Utama - Dana Kelola Reksa Dana Rp 97,5 Triliun

NERACA

Jakarta – Otoritas Jasa Keuangan (OJK) mencatat, dana kelolaan reksa dana saham sepanjang tahun 2014 tercatat sebesar Rp97,5 triliun. Dalam siaran persnya di Jakarta, kemarin, disebutkan, dana kelolaan reksa dana saham menjadi kontributor terbesar total dana kelolaan reksa dana sepanjang 12 bulan.

Jumlah tersebut sekitar 43,14% dari total dana kelolaan reksa dana hingga penghujung 2014 sebesar Rp288,35 triliun, dengan unit penyertaan sebanyak 141,76 miliar. Sementara kontributor kedua adalah reksa dana terproteksi, dengan dana kelolaan sebesar Rp41,85 triliun atau 18,52%.

Sementara reksa dana pendapatan tetap mencatat dana kelolan senilai Rp33,26 triliun atau 14,72%, reksa dana campuran mencapai Rp19,42 triliun atau 8,59%, dan reksa dana pasar uang Rp19,75 triliun atau 8,74% dari total dana kelolaan reksa dana.

Adapun reksa dana syariah saham membukukan dana kelolaan Rp6,28 triliun atau 2,78%, syariah terproteksi Rp1,46 triliun atau 0,65%, syariah campuran Rp1,66 triliun atau 0,73%, syariah indeks Rp147,8 miliar atau 0,07%, syariah pasar uang Rp733,17 miliar atau 0,32%, dan syariah pendapatan tetap Rp376,01 miliar atau 0,17%.

Sedangkan ETF pendapatan tetap mencatat dana kelolaan sebesar 2,01 triliun atau 0,89%, ETF indeks Rp622,7 miliar atau 0,28%, dan ETF saham senilai Rp482,79 miliar atau 0,21%. Asal tahu saja, dinilai memberikan imbal hasil atau return paling mengkilap ketimbang instrumen investasi lainnya, rupanya reksa dana saham masih menjanjikan di tahun 2015.

Hal ini diakui langsung, Viliawati, Analis Infovesta. Dirinya menilai, reksadana saham masih akan menjadi primadona di antara reksadana jenis lainnya, seperti reksa dana campuran, pendapatan tetap dan pasar uang. “Reksadana saham berpotensi mencetak kinerja yang lebih baik ditopang oleh pergerakan bursa saham yang lebih agresif dalam merespon kondisi pasar,” ujarnya.

Jika ingin untung berlipat, pilihan paling pas memang kelihatannya masih instrumen investasi berbasis saham. Sebab, instrumen di luar saham, seperti obligasi dan emas dinilai belum menunjukkan lampu hijau. Pasar obligasi tahun 2015 masih berfluktuasi akibat kenaikan yield surat utang negara dan emas belum berkilau.

Sebaiknya, investor mempertebal porsi investasi saham secara berkala. Namun demikian, lanjut Vilia, saham adalah investasi jangka panjang. Potensi kinerja reksadana saham juga dihantui dengan risiko fluktuasi yang lebih tinggi dibandingkan dengan jenis reksadana lainnya. Tidak semua saham layak investasi.

Beberapa faktor yang perlu diperhatikan investor, menurutnya, antara lain kondisi makro ekonomi, nilai tukar, inflasi, suku bunga acuan, neraca perdagangan, rilis data laporan keuangan emiten, serta kinerja kabinet pemerintahan baru. Adapun, sentimen global yang diperkirakan akan ikut mempengaruhi kinerja reksa dana, yakni kondisi ekonomi global, seperti Amerika Serikat, Uni Eropa dan Tiongkok, serta rencana kenaikan suku bunga The Fed yang berpotensi mengurangi dana asing yang masuk ke pasar modal domestik.

Vilia meramalkan, kinerja rata-rata reksadana di tahun 2015 yakni sekitar 8% - 12% return dari reksadana jenis saham, 7% - 10% dari reksadana campuran, 6% - 8% dari reksadana pendapatan tetap dan 7% - 8% dari reksadana pasar uang. (bani)

Related posts