Kejar Kinerja Ekspor, Akselerasi Industri Manufaktur

NERACA

Jakarta – Pengamat ekonomi Universitas Gadjah Mada, Denni Puspa Purbasari mengatakan pengembangan industri manufaktur yang dapat mendongkrak kinerja ekspor dan memperbaiki defisit nercara transaksi berjalan perlu diakselerasi. Menurut Denni, akselerasi industri manufaktur ini dibutuhkan untuk menghasilkan perbaikan kinerja ekspor, sehingga dapat mengkompensasi impor barang modal yang digunakan pemerintah untuk membangun infrastruktur pada 2015.

"Untuk membangun infrastruktur itu nanti pasti defisit (transaksi berjalan) naik, karena banyak impor barang modal," kata dia yang dihubungi Antara dari Jakarta, Jumat, dikutip, Minggu (4/1).

Tanpa akselerasi, Denni memperkirakan pada 2015, melebarnya defisit,karena impor barang modal, masih akan membayangi neraca transaksi berjalan. Pemerintah telah menjanjikan fasilitas insentif pajak bagi investor yang serius mengembangkan industri manufaktur, terutama yang berorientasi ekspor.

Fasilitas tersebut juga dijanjikan bagi investor yang serius membangun industri penunjang, guna mensubstitusi kebutuhan bahan baku impor. Meskipun demikian, Denni justru memperkirakan pengembangan manufaktur dan mapannya industri substitusi impor itu baru bisa dirasakan Indonesia beberapa tahun mendatang, atau bukan di 2015.

Hal itu karena pada 2015, pemerintah masih akan berkutat dengan masalah-masalah yang menghambat pembangunan infrastruktur, seperti perizinan dan pembebasan lahan. "Maka itu, substitusi impor itu agenda jangka menengah sebenarnya. 2015 masih harus berurusan dengan infrastruktur," katanya.

Pada kesempatan sebelumnya, disebutkan, kinerja industri pengolahan non migas tetap menunjukkan tren yang positif sepanjang tahun 2014, dimana pertumbuhannya mampu melampaui pertumbuhan ekonomi (PDB) dan memberikan kontribusi terbesar terhadap PDB dibanding sektor-sektor lainnya. Hal tersebut disampaikan Menteri Perindustrian Saleh Husin dalam sambutannya didampingi Pejabat Eselon I dan II di lingkungan Kementerian Perindustrian pada acara Jumpa Pers Akhir Tahun 2014 tentang Kinerja Sektor Industri dan Kinerja Kementerian Perindustrian Tahun 2014 serta Proyeksi Pertumbuhan Industri Tahun 2015 di Kementerian Perindustrian, Jakarta, akhir tahun lalu.

Kemenperin mencatat, pertumbuhan industri pengolahan non-migas periode Januari-September 2014 mencapai 5,30% atau lebih tinggi dari pertumbuhan ekonomi (PDB) sebesar 5,11%. Bahkan, industri pengolahan non-migas mampu memberikan kontribusi terhadap PDB sebesar 20,65%, merupakan yang tertinggi dibandingkan sektor-sektor lainnya.

Sementara itu, ekspor produk industri periode Januari-September 2014 sebesar US$ 87,85 milyar atau meningkat 5,45% dibandingkan periode yang sama tahun 2013 dan memberikan kontribusi terhadap total ekspor nasional sebesar 66,20%. Neraca ekspor-impor produk industri pada periode Januari-September 2014 adalah minus US$ 5,22 milyar (neraca defisit). Sedangkan neraca ekspor-impor pada periode yang sama tahun 2013 lalu adalah sebesar minus US$ 16,13 milyar, sehingga terjadi penurunan defisit sebesar 67,70%.

Nilai investasi Penanaman Modal Dalam Negeri (PMDN) sektor industri pada periode Januari-September 2014 adalah sebesar Rp 41,84 triliun atau tumbuh 9,28% dari periode yang sama tahun 2013. Sedangkan nilai investasi Penanaman Modal Asing (PMA) sektor industri mencapai US$ 10,15 milyar atau menurun sebesar 18,33% dibandingkan periode yang sama tahun 2013.

Di samping itu, Menperin menegaskan, Kemenperin terus melaksanakan Program Pengembangan Industri, yang meliputi: (1) Industri Makanan, Minuman dan Tembakau, (2) Industri Tekstil, Barang Kulit dan Alas Kaki, (3) Industri Barang Kayu dan Hasil Hutan, (4) Industri Pupuk, Kimia, dan Karet, (5) Industri Semen dan Barang Galian Bukan Logam, (6) Industri Logam Dasar dan Besi Baja, (7) Industri Alat Angkut, Mesin dan Peralatan, (8) Industri Kecil dan Menengah, serta (9) Fasilitasi Pengembangan Industri.

Selanjutnya, dalam rangka meningkatkan tata kelola pemerintahan, Kemenperin juga telah melaksanakan berbagai upaya Reformasi Birokrasi dengan capaian kinerja dan prestasi utama antara lain: (1) Mempertahankan opini Wajar Tanpa Pengecualian (WTP) oleh BPK atas audit Laporan Keuangan tahun 2013, yang telah diraih secara berturut-turut selama 6 (enam) tahun sejak 2008; (2) Mendapatkan nilai 73,11 atau predikat “B+” atas hasil evaluasi akuntabilitas kinerja yang dilakukan oleh Kementerian PAN & RB; (3) Memperoleh peringkat keempat pada Penghargaan “E-Transparency Award 2014” dari 47 Kementerian/Lembaga; serta (4) Meraih penghargaan sebagai Badan Publik Pemerintahan Terbaik (peringkat kedua) dalam Keterbukaan Informasi Publik.

Mengenai proyeksi pertumbuhan industri non-migas tahun 2015, dapat disampaikan bahwa dengan melihat cukup baiknya kinerja sektor industri non-migas dalam tiga tahun terakhir ini, dan dengan meningkatnya investasi beberapa tahun terakhir, maka pada tahun 2015 pertumbuhan indutri non-migas diperkirakan dapat mencapai 6,1%. Cabang industri yang diperkirakan akan tetap tumbuh tinggi antara lain Industri Makanan, Minuman dan Tembakau, Industri Barang Kayu dan Hasil Hutan Lainnya, serta Industri Alat Angkut, Mesin dan Peralatan.

Related posts