Inflasi Diprediksi Tembus 8,4% - Sepanjang 2014

NERACA

Jakarta - Bank Indonesia memproyeksikan bahwa inflasi hingga akhir 2014 akan lebih besar dari prediksi sebelumnya. Gubernur Bank Indonesia, Agus DW Martowardojo, menyebutkan bahwa inflasi sepanjang 2014 akan berada pada level 8,2%-8,4% (year on year / yoy).

Jumlah tersebut lebih tinggi dari prediksi sebelumnya yang ada di level 8,1%-8,3% (year on year / yoy). "Bulan Desember inflasi mungkin ada sedikit lebih tinggi apa yang kita lihat di minggu ketiga kalau sebelumnya masih di level 8,1%-8,3%. Itu mungkin bisa antara 8,2%-8,4%," katanya di Jakarta, Rabu (31/12).

Sementara itu, secaramonth to month(mom) inflasi pada Desember 2014 diprediksi ada di kisaran 2,2%-2,4%. "Penyumbang inflasi antara lain kenaikan harga bahan bakar minyak (BBM) sekitar 0,61%-0,65%. Lalu beberapa komponen pangan seperti cabai memberi kontrubusi besar pada 0,4%. Inflasi disumbang oleh kenaikan tarif angkutan," tambahnya.

Agus Marto mengatakan dengan kebijakan yang dilakukan pemerintah untuk menurunkan harga BBM dan menerapkan subsidi tetap, diharapkan dapat mengontrol angka inflasi. "Kalau tahun 2015 ada penurunan premium dampak menekan inflasi, yang saya ingin sampaikan bahwa kalau ada pergeseran tentu pemerintah berkoordinasi, tadi, kemarin dulu ini akan diupayakan akan terkendali. Kita menghargai koordinasi itu," tandas dia.

Pada kesempatan terpisah, pengamat ekonomi Universitas Padjajaran, Ina Primiana mengatakan, akhir 2014 terjadi inflasi yang tren-nya tinggi karena ada natal dan tahun baru. Ditambah lagi pasca kenaikan BBM subsidi November 2014 lalu yang mengakibatkan inflasi bisa terdongkrak sekitar 2%-3% pada Desember 2014.

"Inflasi Desember memang biasanya tinggi. Apalagi ditambah adanya kenaikan harga BBM kemarin yang mengakibatkan daya beli masyarakat menurun," katanya.

Namun begitu, dirinya memproyeksikan inflasi tinggi hanya sementara, dan dapat kembali normal di bulan Maret atau paling lambat April. "Biasanya masuk bulan Februari inflasi sudah menurun, ini karena ada kenaikan BBM subsidi. Bisa jadi Maret atau April 2015 baru kembali turun," tukas Ina. [agus]

BERITA TERKAIT

Kelola Reksadana Bakal Tembus Rp 500 Triliun

NERACA Jakarta – Selalu masih ada keyakinan pasar saham akan kembali pulih dan juga pasar obligasi menjadi alasan bagi sebagian…

Waspada Inflasi, Harga Telur Tembus Rp30 Ribu Per Kilogram

  NERACA   Jakarta – Salah satu penyumbang angka inflasi adalah sektor pangan. Telur juga menjadi satu diantara bahan pangan…

Presiden Jokowi Apresiasi Kepala Daerah - Inflasi Terkendali

    NERACA   Bogor - Presiden Joko Widodo menyampaikan apresiasi kepada para bupati yang berhasil mengendalikan inflasi di daerahnya…

BERITA LAINNYA DI INFO BANK

BI Tahan Suku Bunga Acuan 5,25%

      NERACA   Jakarta - Rapat Dewan Gubernur (RDG) Bank Indonesia (BI) pada 18-19 Juli 2018 memutuskan untuk…

Kredit BTN Tumbuh 19,14%

      NERACA   Jakarta - PT Bank Tabungan Negara (Persero) Tbk mencatatkan peningkatan penyaluran kredit sebesar 19,14% secara…

Laba Bank Jatim Tumbuh 5,01%

      NERACA   Jakarta - PT Bank Pembangunan Daerah Jawa Timur Tbk (Bank Jatim) mencatatkan laba bersih mengalami…