Lifting Minyak 2014 Hanya Tercapai 97%

Rabu, 31/12/2014

NERACA

Jakarta – Kepala Bagian Humas Satuan Kerja Khusus Pelaksana Usaha Hulu Minyak dan Gas Bumi (SKK Migas) Rudianto Rimbono menyatakan bahwa lifting minyak yang telah ditargetkan dalam Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara Perubahan (APBN-P) tidak akan mencapai target 100%. Menurut dia, saat ini lifting minyak 2014 hanya mencapai 794 ribu barel per hari atau sekitar 97% dari target lifting minyak di APBN-P sebesar 818 ribu barel per hari.

“Ada banyak hal yang membuat lifting minyak tidak bisa mengejar sesuai target APBN-P. Misalnya soal kendala dari operator atau Kontraktor Kontrak Kerja Sama (KKKS) yang belum bisa mengerjakan kegiatan lantaran kendala teknis internal maupun eksternal. Di awal tahun itu agak parah operator tidak bisa melakukan kegiatan rutin. Di Onshore juga ada masalah sehingga memberi impact terhadap lifting minyak,” ujar di Rudi di Jakarta, Kemarin.

Ia melanjutkan, pada pertengahan tahun ada beberapa kejadian gangguan produksi yang menimpa KKKS sehingga memengaruhi upaya dalam mendorong lifiting minyak sesuai target. "Gangguan produksi yang seperti sumur tua dan kejadian lainnya," papar dia. Ia menambahkan, untuk produksi gas, persentasenya mencapai 100%, memenuhi target APBN-P 2014 atau sebesar 7.066 bare oil ekuivalen per day (boepd). "Untuk gasnya itu 100% dari target APBN-P 2014. Jadi untuk gas tidak perlu khawatir," kata dia.

Sementara itu, untuk 2015, pihaknya menargetkan lifting minyak sebanyak 849 ribu barel per hari. Target ini sesuai dengan target yang tercantum di asumsi APBN-P 2015. “Kalau volume lifting itu kita tetap usahakan berada di angka 849 ribu barel. Jika misal harga minyak antara USD65-USD85 ribu dolar. Jika government take-nya sekira USD12-USD19 miliar, nanti kita tunggu saja seberapa harga minyak, karena sekarang masih naik turun,” katanya.

Rudi juga mengatakan, di tahun 2015 mendatang SKK Migas akan lebih fokus pada kegiatan eksplorasi. Hal ini karena produksi minyak tidak akan pernah meningkat jika tidak ada penemuan cadangan baru. “Penemuan cadangan baru, akan terjadi kalau ada kegiatan eksplorasi, jadi fokus kita untuk jangka menengah dan panjang adalah eksplorasinya harus kita dorong,” tutur Rudi.

Pelaksana tugas (Plt) Direktur Jenderal Minyak dan Gas Bumi, Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Naryanto Wagimin mengatakan, untuk mewujudkan tercapainya lifting minyak di tahun 2015,diperlukan sinergi antar kementerian. Dia bilang, persoalan-persoalan di atas, jangan hanya disorot dari kementerian ESDM saja. Namun, dari berbagai kementerian atau lembaga, seperti Kementerian Keuangan, Kementerian Perhubungan, Kementerian Perdagangan dan Kementerian Kehutanan harus dilibatkan.

“Kita harapkan juga proyek IDD dan Masela itu cepat diselesaikan. Sementara untuk Pajak atau PBB itu kita sudah kordinasi dengan Kementerian Keuangan khususnya bagian Pajak,” katanya.

Sementara itu Board of Director Indonesia Petroleum Association (IPA), Lukman Mahfoedz mengatakan, bahwa untuk bisa mencapai produksi 2,5 juta KL di tahun 2020, perlu peningkatan eksplorasi dua hingga tiga kali lipat dari sekarang. Menurut Lukman, kepastian Investasi merupakan suatu hal mutlak jika pemerintah ingin mewujudkan ketahanan energi terutama dati sektor migas. Kepastian investasi sangatlah penting, karena 30% dari produksi nasional di tahun 2029 akan diikuti oleh perusahaan-perusahaan atau investor yang saat ini belum mendapatkan Final Investment Decesion (FID). “Kalau tidak ada kepastian, otomatis akan mempengaruhi target kita nanti," tukasnya.

Presiden IPA Craig Stewart menambahkan bahwa pemerintah harus merealisasikan sejumlah program yang telah direncanakan. Sebab, sangat penting menjaga produksi minyak nasional. Termasuk janji pemerintah soal pembebasan pajak bumi dan bangunan (PBB), serta mempercepat proses perizinan. “Kalau pemerintah konsisten, kami optimistis angka itu bisa dicapai. Saat ini banyak lapangan minyak di Indonesia yang turun produksi. Padahal, permintaan bahan bakar terus meningkat,” ungkap bos Salamander Energy Pte Indonesia tersebut.

Pengamat Energi dari ReforMiner Institute Komaidi Notonegoro mengatakan, target lifting minyak pada 2015 sebesar 849 ribu barel per hari (bph) dapat dicapai asalkan pemerintah benar-benar bekerja keras. “Ini lifting memang kan segitu awalnya, kemudian ada revisi tahun ini jadi 818 ribu bph. Kalau Blok Cepu on-stream dan berbagai proyek Enhance Oil Recovery (EOR) jalan optimistis dapat tercapai,” katanya.

Pemerintah, menurut Komaidi, juga harus bekerja keras menangani berbagai macam gangguan yang selama ini membuat cadangan minyak menurun terus. “Kalau tidak ada gangguan, maka target 2015 yang diajukan oleh pemerintah realistis. Gangguan gangguan harus diminimalkan,” kata dia.