Koreksi Saham AirAsia Hanya Sesaat

Selasa, 30/12/2014

NERACA

Jakarta – Peristiwa hilangnya pesawat AirAsia dengan nomor penerbangan QZ8501 di lepas pantai Kalimantan dalam penerbangan dari Surabaya menuju Singapura kemarin, Minggu (29/12) membawa dampak bagi harga saham perseroan di bursa Malaysia yang terkoreksi 13% ke posisi 2,56 ringgit per lembar saham, dan 8,2% lebih rendah pada pukul 09:38 waktu setempat pada awal perdagangan di bursa Malaysia, Senin awal pekan.

Target harga saham AirAsia pun kemudian dipangkas dari 3,15 ringgit menjadi 2,64 ringgit per lembar saham. Sementara saham AirAsia X Bhd (AIRA) tergelincir 6,6%. Namun menurut Presiden Direktur PT Astronacci Indonesia, Gema Goeyardi, penurunan tersebut lantaran kekhawatiran wisatawan dalam menggunakan jasa perusahaan pasca insiden tersebut. Sebelumnya dia memperkirakan saham AIRA turun 10%,”Sesuai proyeksi. Ini akan mempengaruhi prospek perusahaan pada tahun depan, kemungkinan imbal hasil (yield) perusahaan akan turun dari level 35,82% saat ini," katanya di Jakarta, kemarin.

Pada pembukaan perdagangan, banyak analis menurunkan peringkat AirAsia dari rekomendasi beli menjadi rekomendasi jual. Saham AirAsia turun 7,8% (0,22 poin) ke 2,72 hingga 13% dan ini merupakan penurunan terbesar sejak 22 September 2011 lalu.

Gema menilai, saham perusahaan akan berbalik menguat beberapa hari ke depan, lantaran reputasi perusahaan sendiri yang cukup kuat,”Penurunan saham hanya reaksi sesaat, reputasi perusahaan cukup diperhitungkan oleh investor, saya kira insiden ini tidak akan berpengaruh banyak pada pendapatan dan yield perusahaan,”ungkapnya.

Sementara Manajer Investasi di Samsung Asset Management Co di Hong Kong, Alan Richardson mengatakan, insiden hilang kontaknya pesawat AirAsia QZ8501 ini cukup mengkhawatirkan, karena dalam waktu singkat memberikan sentimen negatif investor terhadap maskapai AirAsia.

Menurut Alan, peristiwa tersebut menimbulkan dampak yang mendalam terhadap sentimen perjalanan udara regional. "Harapan potensi pemulihan saham maskapai pada tahun 2015 kini terhambat karena adanya insiden ini," ujar dia.

Kemudian Direktur investasi yang berbasis di Singapura di Invesco Asset Management, Abdul Jalil Abdul Rasheed mengatakan, insiden ini kemungkinan akan menyebabkan beberapa tekanan pada saham AirAsia dan penjualan tiket pun kemungkinan akan turun.

Tercatat perdagangan saham Thai AirAsia turun 3,6% pada perdagangan di Bursa Bangkok pada Senin (29/12). Grup AirAsia termasuk Indonesia AirAsia, Thailand, Filipina dan India sebelumnya belum pernah mengalami kecelakaan sejak beroperasi pada 2002 lalu.

Bagi CEO AirAsia Group, Tony Fernandes, saat ini manajemen hanya akan memberi prioritas untuk menjaga dan melayani keluarga penumpang sambil menunggu hasil investigasi,”Fokus kami adalah untuk keluarga penumpang. Tidak ada yang penting bagi kami selain menjaga keluarga penumpang. Kami akan bekerja sama dengan pemerintah dan berharap pesawat bisa ditemukan secepatnya," tandasnya.

Menurut Tony, insiden pesawat hilang seperti ini merupakan yang pertama kali dialami oleh maskapainya yang juga memiliki maskapai anak perusahaan di Thailand, Filipina, India, Jepang, dan AirAsia X yang melayani penerbangan jarak jauh.

Kinerja keuangan AirAsia Berhad sampai 30 September sendiri tidak mengecewakan. Selama sembilan bulan di 2014, maskapai yang identik dengan penerbangan berbiaya murah tersebut (low cost carrier/LCC) berhasil mengantongi pendapatan RM 3,92 juta naik 2,34% dibandingkan realisasi pendapatan periode yang sama di 2013 sebanyak RM 3,83 juta. (bani)