Penderita HIV Enggan Berobat

NERACA

Penderita HIV/AIDS di Kabupaten Kotawaringin Timur, Kalimantan Tengah, sebagian besar enggan menjalani program pengobatan secara rutin yang disiapkan pemerintah.

"Banyak yang periksa dan terbukti positif tapi mereka malah lari. Dari sekitar 45 orang yang positif, jumlah yang mengakses obat secara rutin itu hanya dua orang padahal disediakan cuma-cuma," kata Kepala Dinas Kesehatan Kotim, dr H Faisal Novendra Cahyanto.

Fakta ini sangat disayangkan karena minum obat secara rutin sangat membantu penderita HIV/AIDS. Penggunaan obat terbukti membuat peningkatan kekebalan tubuh dan menurunkan virus HIV di dalam tubuh.

Ia mengatatakan observasi dari dua penderita HIV/AIDS yang mengonsumsi obat secara rutin menunjukkan perkembangan kesehatan yang cukup bagus. Ini seharusnya disadari para penderita lainnya agar dengan sukarela mau menjalani program pengobatan.

Faisal menjelaskan masyarakat harus membantu mengubah stigma buruk tentang penderita HIV/AIDS agar mereka lebih terbuka dan mau berobat. Kebanyakan penderita malu dan khawatir akan dijauhi jika banyak orang yang mengetahui dirinya terjangkit penyakit mematikan itu.

Mereka, lanjutnya, ada yang hidup berpindah-pindah alamat, namun ada pula yang menetap tetapi enggan menjalani pengobatan karena berbagai alasan pribadi.

"Pemerintah sangat berharap mereka bersedia didampingi agar dapat dibantu untuk menjalani pengobatan," sambung Faisal.

Dinas Kesehatan, lanjutnya, terus mengajak mereka yang berisiko tinggi tertular HIV/AIDS untuk berkonsultasi dan memeriksakan diri secara sukarela. Ada dua klinik VCT(voluntary consult and test)yang disiapkan yaitu di RSUD dr Murjani Sampit dan Puskesmas Pasir Putih.

"Ke depan kami akan menjalankan provider inisiatif test and consult, jadi kalau ada pasien ada tanda-tanda HIV/AIDS maka dokter berhak melakukan inisiatif pemeriksaan tapi setelah memberikan pemahaman. Tapi tetap harus persetujuan pasien," katanya.

Data Dinas Kesehatan Kotim, dari 54 kasus AIDS yang ditangani RSUD dr Murjani Sampit pada 2005 hingga September 2014 lalu, tercatat 34 persen penderitanya adalah ibu rumah tangga yang tertular oleh suami mereka yang heteroseksual.

Selain itu, tercatat 7 persen penderita merupakan anak yang tertular dari orangtua. Selanjutnya, 7 persen penderitanya merupakan homoseksual dan 7 persen penderita lainnya merupakan pengguna narkotika yang menggunakan jarum suntik secara bergantian.

Penderita lainnya yaitu kelompok heteroseksual berisiko tinggi dengan persentase sebanyak 7 persen, serta 43 persen lainnya merupakan penderita dari kalangan heteroseksual lain-lain.

Related posts