Memetik Hikmah dari Sebuah Musibah

Oleh: Maswito, Anggota Majelis Pendidikan Provinsi Kepri

Senin, 22/12/2014
Belumlagi kering tetes air mata terurai, musibah itu datang lagi. Terakhir musibah longsor di Banjarnegara, Jawa Tengah yang mengubur dan menghancurkan rumah-rumah penduduk. Entah sudah berapa banyak kerugian, baik materil maupun moril yang harus ditanggung oleh mereka yang tidak berdosa.

Silang pendapatpun sering terjadi dalam menyikapi musibah yang terjadi itu. Ada yang berpendapat, musibah ini sentilan dari Yang Maha Kuasa, tetapi ada pula yang menepisnya. Kalangan lain berpendapat akibat ulah segelintir orang yang amat serakah dalam mengeksploitasi buminya, maka, seluruh bangsa ini menanggung akibatnya. Sementara pendapat terakhir mengatakan, ini semua akibat sebagian kita telah mulai melupakan dan bahkan meninggalkan kearifan lokalnya.

Presiden Jokowi ketika berkunjung ke lokasi bencana di Banjarnegara menyebut musibah beruntun yang melanda negara kita akhir-akhir ini betul-betul sebuah ujian yang maha dasyat dari-Nya. Semua ini (Musibah, red) patut menjadi renungan.

“Musibah telah menjadi tragedi traumatik khususnya bagi mereka yang kehilangan orang yang dikasihi secara sangat tiba-tiba. Musibah itu di luar jangkauan manusia,” ujar Jokowi.

Kita yang tidak kena musibah bisa merasakan penderitaan dan kepedihan tersebut dan berharap saudara-saudara kita yang kena musibah diberikan kesabaran dan ketabahan. Itulah sikap yang dituliskan dalam AlQur'an surat Al-Baqarah ayat 153: “Hai orang-orang yang beriman, jadikanlah salat sebagai penolongmu. Sesungguhnya Allah bersama orang yang sabar.”

Selanjutnya pada surat yang sama ayat 155-165 dikatakan, “Dan sesungguhnya Kami berikan kepadamu dengan ketakutan, kelaparan, kekurangan harta, jiwa dan buah-buahan (makanan). Dan sampaikanlah berita gembira kepada orang yang sabar (yaitu) orang-orang yang ketika ditimpa bencana, mereka mengucapkan inna lillahi wa inna ilaihi rajiun. Artinya sesungguhnya kami milik Allah, dan sesungguhnya kepada-Nyalah kami kembali.”

Hikmah apa selanjutnya yang bisa kita ambil selanjutnya dari musibah yang datang silih berganti dan diluar kemampuan kita itu? Cukup banyak dan perlu menjadi bahan renungan kita bersama. Tuhan menurunkan setiap musibah itu pasti ada hikmah dibaliknya.

Cendikiawan Islam terkemuka di Tanah Air, Prof. Dr. H. Azyumardi Marza (2005) mengatakan setidaknya ada empat hikmah yang bisa diambil terkait dengan musibah, yakni, pertama, menghilangkan kemungkinan munculnya prasangka kepada Allah SWT, Tuhan Yang Maha Kuasa, bahwa Ia telah meninggalkan, menghukum, dan bahkan menyiksa hamba-hamba-Nya dengan musibah dan ujian yang begitu berat. Dalam pikiran setiap manusia selalu ada anggapan jika sudah terlanda sebuah musibah, bukan tidak mungkin kita kehilangan pikiran dan perasaan yang jernih kepada berbagai pihak, termasuk kepada Tuhan. Untuk menghindari hal itu, orang – orang beriman diajarkan untuk menyadari bahwa setiap peristiwa dan musibah terdapat berbagai hikmah untuk direnungkan.

Dalam menghadapi musibah dengan tetap mempertahankan prasangka baik (huns al-zhan) kepada-Nya, orang beriman dianjurkan untuk banyak-banyak membaca wirid, mulai dengan istigfar (mohon ampun), tasbih (subhanallah, Maha Suci Allah), takbir (Allahu Akbar), dan lain-lain. Semua bacaan wirid selain menyucikan diri dari kemungkinan munculnya prasangka jelek (su’al-zhan) kepada Tuhan, juga sekaligus memperkuat keimanan dan sikap tawakal kita menghadapi berbagai musibah dan ujian berat.

Kedua, menghilangkan rasa saling curiga atau bahkan saling menyalahkan antara warga masyarakat dan pemimpin. Sepanjang bencana, kita sama-sama melihat mulai muncul suara kurang profesional yang menunjukkan sikap tidak sensitif. Misalnya, curiga bantuan yang disalurkan akan dikorupsi atau diselewengkan.

Atau ketika ada tokoh-tokoh tertentu – terutama tokoh politik mengunjungi, membantu dan menyantuni para korban musibah malah dinilai pihak tertentu untuk mendapatkan keuntungan politis dan popularitas serta tebar pesona. Pikiran sempit seperti ini terkadang membuat orang jadi “alergi” memberikan bantuan. Yang lebih menyakitkan lagi, bahwa seolah-olah terjadi “politisir” terhadap musibah tersebut. Ini realita yang banyak kita temui saat ini.

Kita sepakat sosial kontrol dan pengawasan dalam menyalurkan bantuan itu agar tidak diselewengkan perlu dilaksanakan. Tetapi, sikap sebuah prasangka yang baik perlu dikedepankan, bukan dengan prasarangka yang buruk dan penuh dengan kucurigaan. Sebab, pada gilirannya nanti prasangka jelek ini akan menimbulkan dampak yang tidak menguntungkan bukan hanya bagi penanganan situasi pasca musibah, tetapi juga bagi kehidupan sosial politik secara keseluruhan.

Penyakit tidak percaya (distrust) dan penuh curiga akhir-akhir ini cendrung semakin merajalela dalam berbagai level masyarakat kita. Sikap saling percaya (natural trust) yang merupakan perekat dalam kehidupan bermasyarakat, berbangsa dan bernegara kelihatan semakin menghilang. Ada pendapat masyarakat kita sudah menjadi zero trust society. Padahal juga jelas bahwa bangsa Indonesia tidak akan pernah kuat, apalagi untuk maju dan jaya, selama trust itu tidak ada di antara para pemimpin dan warga negaranya.

Ketiga, memperkuat kembali solidaritas kemanusiaan dan kebangsaan. Telah lama solidaritas kita seolah tercabik-cabik dalam hiruk pikuk dan konflik politik, baik pada tingkat lokal maupun nasional. Pada saat yang sama, korban terus berjatuhan diberbagai tempat di tanah air. Konflik itu tidak hanya kepada natural disasters seperti banjir, tsunami, gempa dan sebagainya tapi juga man made disasters seperti konflik dan kekerasan komunal.

Kita bersyukur, solidaritas itu secara instan muncul dengan kuat ketika terjadi bencana-bencana besar seperti sekarang ini. Gejala ini memperlihatkan, lubuk hati yang paling dalam bangsa Indonesia masih memiliki solidaritas yang kuat bagi saudara-saudara sebangsa setanah air yang mengalami kenestapaan. Seharusnya solidaritas itu terus tumbuh dan berkembang di luar masa-masa bencana dan darurat. Rasa solidaritas yang kuat menjadi modal dasar untuk memecahkan berbagai persoalan bangsa dan negara.

Keempat, memperkuat keyakinan kita bahwa kita manusia memang makluk lemah yang tidak berdaya menghadapi kekuatan alam yang tidak terduga. Apa yang sesungguhnya yang terjadi dalam proses alam ini masih menjadi rasia yang tidak diketahui manusia. Ilmu pengetahuan dalam mateorlogi dan geofisika hanya bisa mendeteksi dan memprediksi berbagai gejala, tetapi tidak mampu memastikan kapan terjadi suatu gempa atau tsunami.

Ilmu pengetahuan yang dimiliki manusia ternyata masih sedikit, seperti yang dikemukakan dalam AlQur'an “Wa mautitum min al al’ilm illaq qalila,” (tidaklah kamu diberi ilmu kecuali sedikit. Karena itu usaha-usaha keras menuntut lmu pengetahuan guna memahami tanda-tanda alam menjadi keharusan terus menerus.

Ambil Hikmah Positif

Melalui tulisan yang sederhana penulis berharap kepada setiap umat, apapun agamanya untuk mengambil hikmah positif dari musibah yang terjadi akhir-akhir ini. Kesombongan dan keserakahan yang sudah merasuk pada sebagian hati kita perlu dikikis dan diganti dengan pendekatan hakiki kepada-Nya. Kita harus yakin, setiap musibah itu pasti ada hikmahnya.

Lalu kepada pemimpin yang daerahnya kena musibah saya berharap janganlah meninggalkan rakyatnya ketika dirundung musibah. Rakyat tidak bisa menerima apapun alasan kepergian pemimpinnya ke luar negeri disaat negerinya dilanda duka nestapa. Permohan maaf tidak akan cukup, jika hati rakyat sudah terluka. Luka yang sulit diobati jika sang pemimpin meninggal mereka. Sakitnya tak cukup di sini (mengambil istilah penyanyi Cita Citata) tapi sampai ke relung hati yang paling dalam.

Kita masih ingat dengan sikap Presiden Amerika Serikat Barack Obama beberapa waktu lalau yang rela menunda keberangkatannya ke luar negeri termasuk ke Indonesia karena ada persoalan krusial di negaranya yang harus dia tuntaskan. Waktu itu terjadi peristiwa tumpahan minyak di Teluk Meksiko yang dampaknya mulai menjalar ke pantai di wilayah Amerika Serikat. Oleh karenanya, sangat penting bagi Presiden Obama untuk tetap di negaranya. Sebuah teladan yang patut ditiru oleh pemimpin yang asyik berpergian ke luar negeri di saat negaranya kena musibah.

Terakhir, semoga kita semua bisa mengambil hikmah dari setiap musibah itu. (haluankepri.com)