Penguatan Rupiah Akan Jadi Katalis IHSG

Senin, 22/12/2014

NERACA

Jakarta – Keyakinan sebagian pelaku pasar bila nilai tukar rupiah tahun 2015 akan kembali menguat di level Rp 12.000 per dollar AS, karena kebijakan pemerintah yang sudah mengintervensi rupiah dan membaiknya fundamental ekonomi dalam negeri.

Hal inipun diakui ekonom Bank Negara Indonesia (BNI), Ryan Kiryanto. Dirinya menyakini, penguatan rupiah ke level Rp12.000 per dollar AS akan terjadi tahun depan, yang akan didukung penguatan pasar modal,”Mudah-mudahan dalam waktu tidak terlalu lama kurs rupiah akan dapat kembali ke kisaran Rp11.000-Rp12.000 per dollar AS ditopang oleh kenaikan IHSG pada rentang 5.400-5.600 di tahun 2015," ujar Ryan, di Jakarta, kemarin.

Dia menyebutkan, faktor eksternal juga terus membayangi pergerakan rupiah. Nilai tukar rupiah terhadap dolar AS menjelang akhir 2014, tidak akan lepas dari situasi ekonomi global. Faktor eksternal pertama adalah rencana normalisasi kebijakan The Fed melalui kenaikan suku bunga di Amerika Serikat.

Kedua, adalah jatuhnya harga minyak dunia yang amat tajam dari yang lazimnya di atas US$ 100 per barel menjadi US$ 65 per barel. Ketiga, ketegangan politik di Rusia pasca-aneksasi wilayah Kremia di Kroasia dan ketegangan politik di Timur Tengah menyebabkan pelaku pasar global memburu dolar AS sebagai safe heaven.

Keempat, karena berlakunya rezim suku bunga ultra rendah dan bahkan sampai minus 2% di kawasan Uni Eropa membuat mata uang euro tertekan terhadap dolar AS. Hal senada juga pernah disampaikan ekonom senior PT Mandiri Sekuritas, Aldian Taloputra. Dimana nilai tukar rupiah terhadap dollar AS pada 2015 akan mencapai Rp12.000,”Rupiah akan menguat. Tahun depan dollar AS melemah, kita bakal menguat di level Rp12.000 per dollar AS,”ujarnya.

Aldian menjelaskan, pelemahan rupiah yang terjadi saat ini sangat menguntungkan dalam meningkatkan laju ekspor, sehingga laju impor yang tadinya tinggi menjadi terkikis. Semua itu memberikan dampak yang positif bagi penurunan defisit transaksi berjalan atau current account defisit (CAD)."Semua ekonomi Indonesia tahun depan baik, baik rupiah yang akan menguat kembali. Semua faktor yang ada, baik dalam maupun luar akan bisa diatasi dengan baik," tegasnya.

Dia memprediksi, Bank Sentral AS atau Federal Reserve (The Fed) akan menaikkan suku bunganya di kuartal II-2015. Harga minyak dunia juga turun. Sehingga ekonomi di awal 2015 akan jauh lebih positif. Sebaliknya, Eric Alexander Sugandi, ekonom Standard Chartered Bank memprediksikan, tahun depan rupiah berpeluang menguat hingga ke kisaran Rp 11.000 dollar AS seiring membaiknya fundamental ekonomi Indonesia,”Kami perkirakan 2015, dolar AS bisa ke Rp 11.900,"kata Eric Alexander.

Dia menuturkan, ke depan fundamental ekonomi Indonesia akan membaik sehingga menopang penguatan rupiah. Kenaikan harga Bahan Bakar Minyak (BBM) bersubsidi yang dilakukan November lalu dampaknya akan positif bagi neraca perdagangan dan transaksi berjalan,” Dampak inflasi kenaikan BBM hanya sekitar 3 bulan, setelah itu akan membaik. Jadi sekitar Februari, kondisi bisa kembali stabil," tutur Eric. (bani)