Gaet Investasi IT, Perlu Dibikin Kawasan Khusus

NERACA

Jakarta – Guna memberikan daya tarik bagi perusahaan-perusahaan Informasi Teknologi (IT) dunia, pemerintah diminta membentuk kawasan khusus. “Hipmi Jaya mengusulkan ada kawasan khusus atau semacam distrik khusus buat perusahaan-perusahaan TI, content provider, komputer dan sejenis seperti konsep Silicon Valley (area khusus perusahaan TI di Amerika Serikat)," kata Ketua Umum Himpunan Pengusaha Muda Indonesia (Hipmi) DKI Jakarta Rama Datau Gobel, seperti yang ditulis, Kamis (17/12).

Rama Datau memaparkan, area khusus yang ada di wilayah ibukota saat ini adalah seperti Sudirman Central District Business (SCBD), dan diharapkan ke depannya ada area khusus TI. Menurut dia, banyak perusahaan teknologi informasi dari luar negara yang ingin membuka kantor di Indonesia antara lain sebab faktor pasarnya yang luas dan menggiurkan. “Hanya saja mereka belum lihat ada value added (nilai tambah) dan insentifnya seperti apa kalau mereka buka kantor di Indonesia,” katanya.

Karena itu, ia mengemukakan bahwa perlu adanya zona khusus seperti Silicon Valley yang merupakan daerah di AS yang memiliki banyak perusahaan yang bergerak dalam bidang komputer, semikonduktor, teknologi informasi serta industri kreatif. Ia mengingatkan bahwa perusahaan media sosial Facebook sudah terlebih dahulu membuka kantor di kawasan SCBD Sudirman Jakarta. Kemudian, para petinggi Twitter juga telah mendatangi Gubernur DKI Jakarta Basuki Tjahja Purnama. Rama mengemukakan, dengan adanya kawasan seperti Silicon Valley Indonesia dinilai akan menjadi basis pertumbuhan sektor ekonomi kreatif.

Ia juga mengingatkan bahwa sektor ekonomi kreatif juga memiliki tingkat kontribusi yang sangat besar untuk perekonomian negara. “Kalau berkumpul di satu kawasan, akan gampang mengelolahnya, gampang dilirik perbankan, bahkan akan banyak didukung oleh investor non-bank, seperti angel investor (perusahaan pemberi modal) dari luar negeri,” pungkasnya.

Dikuasai Asing

Sebelumnya, Mantan Menteri Telekomunikasi dan Informasi Tifatul Sembiring menyatakan bahwa nilai bisnis sektor telekomunikasi dan informatika (IT) di Indonesia sangat besar. Perputaran bisnisnya pun mencapai ratusan triliun rupiah per tahun. Sayangnya, bisnis ini masih dikuasai asing. “Bisnis IT di Indonesia itu besar mencapai Rp 400 triliun lebih per tahun,” ungkapnya.

Tifatul mencontohkan, pelanggan Telkomsel saja mencapai 131 juta pelanggan. Bila 1 pelanggannya menghabiskan/membelanjakan pulsa Rp 1 juta/tahun, nilainya mencapai Rp 131 triliun/tahun. “Itu baru 1 operator, bayangkan berapa banyak operator di Indonesia, belum lagi bisnis TV digital, iklan televisi sangat besar sekali,” ucapnya.

Namun Tifatul menyayangkan, total belanja investasi (capital expenditur/Capex) perusahaan IT di Indonesia saat ini masih sebagian besar dikuasasi asing. “Capex perusahaan IT di Indonesia sayangnya 70% masih dikuasai asing, makanya saat ini bagaimana caranya agar menarik porsi tersebut menjadi milik kita, supaya kita tidak hanya jadi obyek tapi juga pelaku,” tutup Tifatul.

President & General Manager Asia Pasifik & Japan CA Technologies, Kenneth Arredondo mengatakan, software dan teknologi menciptakan bisnis baru dari bawah ke atas dan bahkan merevolusi industri di Asia Pasifik dan Jepang. “Pelanggan selalu menuntut aplikasi baru. Sedangkan karyawan membutuhkan saran agar bisa lebih maju dalam berkompetisi. Departemen TI harus berkembang dari penyedia sumber tunggak menjadi konsultan bisnis, broker, dan penasehat untuk meminimalisasikan risiko dari ekonomi yang berbasis tekonologi,” jelasnya.

Perubahan ini akan terus berlanjut dengan 81% responden di Asia Pasifik dan Jepang mengantisipasi perubahan tersebut selama 5 tahun ke depan, dibandingkan dengan Amerika Serikat yang hanya 42%. Adanya apresiasi ini akan mengubah distribusi anggaran dalam sebuah organisasi dengan seksama. Selama ini, anggaran untuk TI lebih banyak digunakan untuk perawatan dan pemeliharaan. Namun hal ini akan berubah dalam rangka mendukung inovasi TI tadi.

Menurut riset yang dilakukan CA Technologies, 74% responden di Asia Pasifik dan Jepang mengatakan eksekutif TI teratas di perusahaan melaporkan kepada CEO untuk menekankan pentingnya TI bagi lini bisnis perusahaan, hubungan TI dan lini bisnis kontribusinya akan terus meningkat, dan pemimpin TI akan lebih selaran dengan bisnis dengan mengajarkan manajeman inovasi tekonologi.

BERITA TERKAIT

Pemkot Palembang Minimalkan Kawasan Kumuh

Pemkot Palembang Minimalkan Kawasan Kumuh NERACA Palembang - Pemerintah Kota (Pemkot) Palembang, Sumatera Selatan terus berupaya meminimalkan jumlah kawasan kumuh…

MNC AM Kenalkan Investasi Reksadana

Rendahnya literasi keuangan dan pemahaman terkait produk dan layanan keuangan menjadi penyebab banyaknya masyarakat terjebak pada produk investasi bodong. Berbagai…

APPTHI: KPK Perlu Didukung Karena Naikkan IPK

APPTHI: KPK Perlu Didukung Karena Naikkan IPK NERACA Jakarta - Asosiasi Pimpinan Perguruan Tinggi Hukum Indonesia (APPTHI) menilai keberadaan Komisi…

BERITA LAINNYA DI INDUSTRI

Jelang 60 Tahun RI-Jepang - Menperin Pacu Kolaborasi Pengembangan Sektor Industri

NERACA Jakarta – Hampir enam dekade, Indonesia dan Jepang menjadi mitra strategis dalam upaya pembangunan ekonomi kedua negara. Oleh karena…

Produksi Lele Bioflok Sokong Suplai Pangan Berbasis Ikan

NERACA Sleman- Menteri Kelautan dan Perikanan yang diwakili Sekjen KKP, Rifky E Hardijanto melakukan panen perdana budidaya lele sisitem bioflok…

Industri Transportasi - Revolusi Media Digital Untuk Layanan Kereta Api

NERACA Jakarta - Saat ini DKI Jakarta dan sekitarnya sedang menggalakkan pembangunan infrastruktur untuk memenuhi kebutuhan transportasi umum di dalam…