Dana Asing Siap Keluar Dari Pasar Modal - Jika Rupah Melemah 10%

NERACA

Jakarta – Anjloknya nilai tukar rupiah terhadap dollar AS yang menembus level Rp 12.700 membuat kepanikan para pelaku pasar dan termasuk investor pasar modal dengan ramai-ramai berburu aksi ambil untung, sehingga membuat indeks harga saham gabungan (IHSG) ditutup terkoreksi.

Menurut team research PT Trimegah Securities Tbk (TRIS) menyampaikan, berlanjutnya pelemahan rupiah terhadap dolar AS berpotensi menciptakan arus modal keluar secara tiba-tiba. Hal itu dapat terjadi jika depresiasi nilai tukar rupiah tersebut menyentuh level psikologis sebesar 10%.

Kata associate Director Head of Research and Institutional Business Trimegah Securities, Sebastian Tobing, selama ini penurunan rupiah terhadap dolar AS masih di bawah 5% dan investor asing masih memandang hal ini bukan sebagai hal wajar. Akan tetapi, jika depresiasi rupiah sudah melewati angka 10% yang dianggap sebagai batas psikologis, maka dana-dana asing berpotensi besar untuk meninggalkan pasar domestik. "Kalau penurunannya sudah 10%, asing akan menganggap ini sebagai masalah besar," ujarnya di Jakarta, Senin (15/12).

Menurut Sebastian, pelemahan rupiah saat ini di bawah 5% dinilai para investor asing sebagai inisiatif berinvestasi yang masih memberikan return positif. "Pasar berharap current account deficit jangan sampai 4 persen dari PDB, karena ini akan menjadi catalyst negatif bagi rupiah," katanya.

Sebastian memperkirakan, hingga akhir tahun ini defisit neraca transaksi berjalan akan berada pada kisaran 3% dari PDB. "Current account deficit yang masih besar ini, karena dipengaruhi oleh repatriasi yang juga besar di akhir tahun ini. Tetapi, di akhir 2015 bisa di bawah 3%," ujarnya.

Kata Menteri Koordinator Perekonomian Sofyan Djalil, melemahnya mata uang tidak hanya menyentuh rupiah, tren ini terjadi terhadap beberapa negara lainnya karena perekonomian Amerika Serikat (AS) yang sedang bagus,”Gejala rupiah ini bukan gejala spesifik Indonesia. Orang mengatakan megatren, dolar itu pulang kampung. Karena ekonomi AS ternyata bagus sekali,”ujarnya.

Sofyan melanjutkan, dolar Amerika yang tadinya beredar di luar negeri setelah melihat kesempatan di Amerika ternyata lebih baik, masuk kembali ke negeri Paman Sam itu. Hal itu yang menyebabkan depresiasi mata uang.

Hal itu, kata dia, tidak hanya terjadi terhadap kurs rupiah, tetapi juga beberapa negara lainnya. "Diketahui, dari 2014 year-on-year, dari Desember 2013-Desember 2014 itu rupiah hanya terdepresiasi 2,5%. Yen itu 15%. Thai bath sekitar enam persen, Malaysia ringgit sekitar 5-6%. Seluruh mata uang dunia mengalami hal yang sama," jelas Sofyan.

Terlebih, adanya bentuk antisipasi terhadap pertemuan bank sentral Amerika Serikat untuk tahun ini. FOMC, kata dia, akan digelar pertengahan bulan ini, yakni tepatnya pada 19 Desember. "Kalau keputusan FOMC, misalnya, mau menaikkan suku bunga FED, investasi dolar jadi lebih menarik lagi,”ujarnya.

Belum lagi perusahaan-perusahaan yang biasanya menukarkan mata uang asing untuk pembayaran utang. Faktor-faktor itu, kata dia, mempengaruhi melemahnya angka rupiah ini. Sofyan menegaskan persoalan ini tidak hanya menjadi persoalan Indonesia, tetapi dihadapi hampir seluruh negara. Hanya saja, lanjut dia, Indonesia sudah cukup lama terbiasa dengan posisi mata uang yang menguat, membuat masyarakat was-was saat rupiah berada di posisi ini. (bani)

Related posts