Pertamina Kaji Penerbitan Global Bonds

Danai Investasi US$ 7 Miliar

Senin, 15/12/2014

NERACA

Jakarta – Guna mendanai ekspansi bisnis dan recana investasi tahun depan, PT Pertamina (Persero) menyatakan bakal menempuh banyak instrumen pendanaan sebesar US$ 7 miliar pada 2015. Beberapa opsi yang dipilih seperti penerbitan obligasi global dan pinjaman sindikasi dari perbankan.

Direktur Pertamina, Dwi Soetjipto mengatakan, terkait obligasi global, pihaknya masih melakukan kajian mendalam. Adapun instrumen lain seperti pinjaman sindikasi perbankan juga masih dipertimbangkan,”Kita lihat instrumen apa yang baik. Obligasi untuk saat ini juga tidak cukup baik," ujarnya di Jakarta, kemarin.

Dwi menambahkan, pihaknya telah mencanangkan belanja modal sebesar US$ 5 miliar. Dana tersebut disiapkan untuk pengembangan industri hulu. Salah satu caranya adalah dengan menambah sumur baru dan pembangunan kilang, terutama upgrade kilang yang ada.

Lebih lanjut, Dwi mengatakan pihaknya sudah menetapkan penambahan beberapa sumur di Malaysia. Namun, belum ditentukan tempatnya secara persis,”Dana akuisisi sumur ini sekitar US$ 1,5 miliar," katanya.

Adapun selain proyek hulu, Pertamina juga berencana meningkatkan kapasitas empat kilang pengolahan minyak di Cilacap, Balongan, Dumai, dan Balikpapan. Untuk itu, Pertamina akan menggandeng empat investor asing, yakni PTT Thailand, Saudi Aramco, Sinopec dan JX Nippon.

Nilai investasi keempat proyek ini diprediksi mencapai US$ 25 miliar, membengkak dari perhitungan sebelumnya US$ 17 miliar sampai US$ 20 miliar.”Total kapasitasnya akan menjadi 1,6 juta Bph (barel per hari) dari 1 juta Bph. Nantinya keuntungan yang diperoleh investor akan berasal dari keuntungan penjualan bahan bakar minyak (BBM)," kata Direktur Marketing Ritel Pertamina, Ahmad Bambang.

Disamping meningkatkan kapasitas kilang pengolahan, Ahmad mengatakan Pertamina juga akan membangun sejumlah kilang penyimpanan. Ini dilakukan dalam rangka menjamin cadangan BBM nasional demi memenuhi kebutuhan nasional,”Nantinya cadangan minyak Indonesia bisa menjadi 30 hari dari 18 hari saat ini," jelas Bambang.

Sebagai informasi, memburuknya kinerja BUMN yang merugi dan termasuk PT Pertamina memaksa pemerintah untuk tidak menarik dividen dari Pertamina pada tahun anggaran 2015. Dana tersebut bisa dipakai perusahaan untuk mendanai investasi,”Pertamina harus semakin kuat, sehingga negara kita bisa berdaulat di bidang energi. Untuk itu keadaan keuangannya sangat menentukan,” kata Menteri Badan Usaha Milik Negara (BUMN) Rini M. Soemarno.

Tahun depan, Pertamina ditargetkan menyetor dividen senilai Rp 9,6 triliun. Angka ini naik sekitar 1% dari target tahun ini senilai Rp 9,5 triliun. Pertamina merupakan penyumbang setoran dividen terbesar dibandingkan BUMN lainnya,”Kalau dividen diambil terus kan modalnya tak bertambah. Padahal untuk mengembangkan investasi mereka membutuhkan modal,”ungkapnya.

Sementara Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Sudirman Said mengatakan, Presiden Joko Widodo telah mengarahkan kemungkinan pengembalian deviden atau mengurangi setoran dividen BUMN. Hal ini supaya perusahaan pelat merah dapat meningkatkan investasi. (bani)