CPAM Bidik Dana Kelola Rp 5,3 Triliun - Rilis 10 Produk Baru Reksa Dana

NERACA

Jakarta - PT CIMB Principal Asset Management menargetkan dana kelolaan (asset under management/ AUM) ‎hingga Rp 5,3 triliun pada tahun 2015 mendatang dari target akhir tahun ini sebesar Rp 3,7 triliun,”Guna memenuhi target dana kelola tahun ini, perseroan akan meluncurkan enam hingga 10 produk reksa dana baru dan utamanya reksa dana saham,”kata Presiden Direktur PT CIMB Principal Asset Management (CPAM), Fajar Hidayat di Jakarta, Kamis (11/12).

Selain itu, perseroan juga akan menambah tiga hingga empat bank distributor ‎baru dari dua bank distributor saat ini. Tercatat jumlah dana kelolaan CPAM hingga 10 Desember lalu mencapai Rp 3,46 triliun dari total 31 reksa dana‎ berbentuk kontrak investasi kolektif dan enam reksa dana berbentuk pengelolaan dana nasabah individu (PDNI).

Rinciannya, Rp 1,18 triliun reksa dana ‎terproteksi, Rp 1,10 triliun reksa dana pendapatan tetap, Rp 686 miliar reksa dana saham dan indeks, Rp 298 miliar reksa dana campuran, Rp 153 miliar PDNI dan sisanya Rp 34 miliar reksa dana pasar uang.

Sementara produk reksa dana CIMB-P Equity Focus tercatat paling cemerlang sepanjang sebelas bulan pertama tahun 2014, dengan imbal hasil 30,7%,”Produk reksa dana saham kami masih menduduki ranking 20 besar dari total 133 produk reksa dana saham di pasar," katanya.

Perusahaan juga berencana meluncurkan empat produk reksa dana berbentuk kontrak investasi kolektif lagi hingga akhir tahun. Sebelumnya, PT CIMB Principal Asset Management meluncurkan reksa dana CIMB-Principal SMART (Sectoral Multi Alpha Rotation Tactics) Equity Fund.

Produk ini dapat dibeli dengan investasi awal minimal Rp 100.000, dengan biaya subscription maksimal 2% di luar pajak, biaya peralihan maksimal 2% di luar pajak, biaya pengelolaan maksimal 5% di luar pajak dan biaya kustodian maksimal 0,25% di luar pajak.

Kata Fajar Hidayat, profil risiko moderat-agresif memungkinkan reksa dana ini memberi imbah hasil di atas indeks,”Telah diuji dalam backtest pada periode 2008 hingga September 2014 dan cenderung lebih tinggi (outperform) dari Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) pada siklus pasar naik maupun turun‎ dan indeks Infovesta Equity,”ungkapnya.

Produk reksa dana kelima yang diluncurkan perusahaan ini memiliki keunggulan mencari imbal hasil (alpha) semaksimal mungkin dengan strategi rotasi sektoral yang menyesuaiakan antara sektor cyclical dan defensif dengan bantuan indikator pasar (price to earning/ PER band).

Adapun bertindak sebagai bank kustodian produk ini adalah Standard Chartered Bank. Seperti diketahui, sektor cyclical merupakan sektor yang bergerak searah siklus ekonomi seperti otomotif, keuangan, komoditas, logam, properti, semen dan sebagainya. Sebaliknya, sektor defensif cenderung lebih stabil dan tidak terpengaruh pergerakan pasar seperi fast moving consumer good (FMCG), kesehatan, ritel, utilitas, komunikasi, jalan tol dan sebagainya.‎(bani)

BERITA TERKAIT

Bukalapak Rilis Tujuh Produk Reksa Dana Baru

NERACA Jakarta - Melihat tingginya minat investor terhadap produk reksa dana yang tersedia di BukaReksa, kini Bukalapak kembali menghadirkan tujuh…

Mandiri Investasi Bakal Rilis Tiga KIK EBA - Targetkan Dana Kelola Tumbuh 20%

NERACA Jakarta – Tahun depan, PT Mandiri Manajemen Investasi (Mandiri Investasi) menargetkan pertumbuhan total dana kelolaan atau asset under management…

PTBA Bidik Pendapatan Tumbuh 20% di 2018 - Garap Proyek PLTU Mulut Tambang

NERACA Jakarta – Optimisme membaiknya harga tambang batu bara di tahun depan, menjadi sentimen positif bagi emiten tambang untuk memacu…

BERITA LAINNYA DI BURSA SAHAM

Desa Nabung Saham Hadir di Monokwari

PT Bursa Efek Indonesia (BEI) akan mencanangkan "Desa Nabung Saham" di wilayah Kabupaten Manokwari, Papua Barat,”Desa Nabung Saham akan dibentuk…

BEI Suspensi Perdagangan Saham MNCN

Mengendus adanya transaksi yang mencurigakan melalui Nomura Sekuritas Indonesia, PT Media Nusantara Citra Tbk (MNCN) mengajukan penghentian sementara (suspensi) perdagangan…

Link Net Targetkan 150 Ribu Pelanggan

Kebutuhan jaringan internet di Indonesia memacu PT Link Net Tbk (LINK) gencar ekspansi jaringan. LINK optimistis bisa memenuhi target 2,8…