Menperin Resmikan Pabrik Pengolahan Kakao

NERACA

Gresik – Industri pengolahan kakao mempunyai peranan penting dalam peningkatan devisa dan peningkatan ekonomi. Konsumsi kakao masyarakat Indonesia saat ini masih relatif rendah dengan rata-rata 0,6 kg/kapita/tahun, jauh lebih rendah dibanding dengan konsumsi negara-negara Eropa yang lebih dari 8 Kg /kapita/tahun. Hal tersebut disampaikan oleh Menteri Perindustrian Saleh Husin saat meresmikan pabrik pengolahan kakao PT. Cargill Indonesia, di Gresik, Jawa Timur, dikutip dari keterangan resmi, Rabu.

Sebagaimana diketahui bahwa sektor industri merupakan penggerak utama perekonomian nasional yang perlu terus dikembangkan dalam rangka meningkatkan nilai tambah, pemenuhan kebutuhan pasar dalam negeri, meningkatkan ekspor dan penyerapan tenaga kerja. Untuk itu, Kementerian Perindustrian telah menetapkan industri pengolahan kakao sebagai salah satu industri prioritas untuk dikembangkan melalui program hilirisasi.

Menperin menambahkan bahwa untuk pengembangan perkakaoan nasional, pemerintah telah memberikan berbagai fasilitas melalui paket kebijakan, seperti : (1) Pembebasan Bea Masuk atas pengimporan mesin, barang dan bahan, (2) Bea Keluar Biji kakao dalam rangka menjamin pasokan bahan baku biji kakao di dalam negeri, (3) Pengurangan Pajak Penghasilan (PPh) bagi investasi baru maupun perluasan di bidang industri pengolahan kakao dan Fasilitas Pajak Penghasilan untuk Penanaman Modal di Bidang-Bidang Usaha Tertentu dan/atau di Daerah-Daerah Tertentu, (4) Pemberian Fasilitas pembebasan atau pengurangan Pajak Penghasilan dengan persyaratan merupakan industri pionir, rencana penanaman modal Rp. 1 Trilyun dan telah berproduksi secara komersial.

Dengan berbagai fasilitas yang diberikan pemerintah tersebut telah memberikan dampak yang cukup signifikan dalam mendorong perkembangan industri pengolahan kakao di tanah air, yaitu masuknya beberapa investor dibidang industri pengolahan kakao seperti PT. Cargill Indonesia yang berinvestasi di Gresik, Jawa Timur dengan menggunakan 70.000 MT (Metrik Ton) biji kakao untuk memproduksi cocoa liquor, cocoa butter dan cocoa powder dengan nilai investasi lebih dari US$ 100 juta.

Bisnis usaha Cargill di Indonesia tidak hanya pada industri pengolahan kakao, namun pada bidang-bidang industri lainnya seperti pakan ternak, kelapa sawit, pengolahan kopra/kelapa, pati dan pemanis buatan, yang seluruhnya menyerap tenaga kerja sebanyak 11.000 karyawan Hingga saat ini, Cargill telah memberikan pelatihan kepada 2465 petani kakao untuk meningkatkan hasil produksi melalui program Cargill Cocoa Promise dengan menyediakan tempat pelatihan petani dan pada akhirnya untuk meningkatkan pendapatan petani. Untuk 2 tahun ke depan Carill juga mentargetkan memberikan pelatihan petani kakao sebanyak 3000 petani di Sulawesi Selatan agar dapat meningkatkan produksi kakao berkualitas.

Dengan tumbuhnya industri hilir pengolahan kakao di Indonesia yang merupakan produk industri hilir pengolahan kakao PT. Cargill berupa: (1) Cocoa Liquor dengan kapasitas 6000 MT, (2) Cocoa Butter dengan kapasitas 21.000 MT dan (3) Cocoa Powder berkapasitas 28.000 MT, maka perlu didukung oleh ketersediaan bahan baku yang mencukupi. Untuk itu pada kesempatan ini kami mangharapkan dukungan dari instansi terkait dalam pengembangan hilirisasi kakao, seperti program GERNAS kakao dapat dilanjutkan kembali sebagai upaya menjamin ketersediaan bahan baku industri pengolahan kakao dalam negeri.

Menperin berharap dengan adanya pendirian pabrik PT. Cargill Indonesia ini kedepan dapat mendorong diversifikasi produk olahan kakao yang mempunyai nilai tambah lebih tinggi, disamping itu juga dalam rangka mendorong peningkatan konsumsi cokelat di Indonesia.

Related posts