Sentul City Bangun Resort di Senggigi Lombok

Investasikan Dana Rp 300 Miliar

Rabu, 10/12/2014

NERACA

JAKARTA – Pulau Lombok saat ini menjadi destinasi tujuan wisata kebanyakan para turis mancanegara dan lokal, hal ini tentunya menjadi potensi pasar yang perlu digarap. Maka untuk memanfaatkan tren pasar tersebut, pengembang properti, PT Sentul City Tbk (BKSL) pada tahun depan akan menjajahi Lombok, Nusa Tenggara Barat (NTB) dengan membangun resort di pinggir pantai Senggigi, seluas 9 hektar.

Wakil Direktur Utama PT Sentul City, Andrian Budi Utama mengatakan, perseroan memiliki lahan di Lombok sudah dari tiga tahun lalu dan berada di dua tempat di sekitaran Senggigi, yang terdiri dari 1 hektar dan satunya lagi seluas 8 hektar,”Rencananya tahun depan akan dibangun resort semuanya ada di pinggir pantai,”ujarnya di Jakarta, kemarin.

Pembangunan resort ini akan dibangun secara bertahap. Pertama, perseroan membangun resort di atas tanah seluas 1 hektare dengan nilai investasi sekitar Rp 300 miliar. Dana ini di luar capex tahun depan sebesar Rp 700 miliar. Sementara pembangunan resort, kata Andrian, akan menggandeng Aston sebagai operatornya untuk menangani 300 kamar. Sedangkan, lahan 8 hektar belum akan dikerjakan pada tahun depan, di mana perseroan saat ini masih mengkajinya.

Selain itu, perseroan menegaskan, berbagai tetap berjalan normal, walaupun pada pertengahan tahun anak usaha perseroan PT Bukit Jonggol Asri (BJA) tersandung kasus suap terkait pengajuan rekomendasi tukar-menukar kawasan hutan seluas 2.754 hektare."Kasus BJA itu tidak berkaitan dengan Sentul City. Kami masih menjalankan seusai dengan yang ada," kata Andrian Budi Utama.

Menurut Andrian, rekomendasi tersebut ditujukan kepada Pemerintah Kabupaten Bogor untuk menentukan lahan produksi, sehingga bukan hutan lindung. Hal ini, dinilainya sebuah proses yang wajar dalam meminta rekomendasi kepada pemerintah setempat.

Direktur Sentul City Fransetya Hasudungan menambahkan, berbagai proyek di BJA tetap berjalan sebagaimana yang telah direncanakan dan persoalan BJA tidak ada kaitannya dengan masalah alih fungsi hutan. "BJA berjalan dengan normal," ucap Fransetya di tempat yang sama.

Diketahui, Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) telah menetapkan Chief Executive Officer (CEO) BKSL, Kwee Cahyadi Kumala sebagai tersangka. Penahanan tersebut terkait kasus dugaan suap terkait pengajuan rekomendasi tukar-menukar kawasan hutan seluas 2.754 hektare di Kabupaten Bogor oleh PT Bukir Jonggol Asri.

Disamping itu, PT Sentul City Tbk menargetkan pada kuartal pertama 2015, sudah menentukan salah satu investor untuk mengembangkan pusat perbelanjaan atau mal seluas 7,8 hektar di kawasan Sentul City, Bogor. Saat ini perseroan sedang melakukan pengkajian terkait pemilihan investor yang akan menyewa atau membangun mal. Tercatat, sudah ada empat investor yang sudah berminat bekerjasama.

Kata Andrian, nilai investasi untuk pembangunan mal diperkirakan mencapai Rp 1,2 triliun. Adapun dananya nanti kemungkinan akan berasal dari internal dan pinjaman perbankan,”Masih kita kaji, karena belum ditentukan siapa investornya nanti," ucapnya.

Lebih jauh dia mengatakan, kehadiran mal di kawasan Sentul City sangat penting dikarenakan sebelumnya perseroan sudah membangun rumah sakit, tempat wisata, dan sekolahan. (bani)