IHSG Belum Lepas Dari Profit Taking

Rabu, 10/12/2014

NERACA

Jakarta –Derasnya aksi ambil untung investor, memaksa indeks harga saham gabungan (IHSG) terus tertekan sejak awal perdagangan hingga akhir perdagangan. Mengakhiri perdagangan Selasa sore, IHSG di Bursa Efek Indonesia (BEI) berkurang 21,701 poin (0,42%) ke level 5.122,312. Sementara Indeks LQ45 ditutup terpangkas 3,366 poin (0,38%) ke level 880,912.

Menurut analis PT Quant Kapital Investama, Kiswoyo Adi Joe, bursa saham eksternal yang melemah mempengaruhi laju IHSG BEI, di sisi lain sentimen di dalam negeri juga cenderung negatif,”Sentimen negatif eksternal bagi IHSG BEI masih terkait dengan potensi kenaikan suku bunga bank sentral AS (Fed rate) yang diperkirakan dapat lebih cepat menyusul data tenaga kerja Amerika Serikat yang terus mengalami perbaikan,”ujarnya di Jakarta, Selasa (9/12).

Kemudian, lanjut dia, pemangkasan proyeksi pertumbuhan ekonomi Indonesia pda 2015 menjadi 5,2%, lebih rendah dari perkiraan sebelumnya 5,6% oleh Bank Dunia menambah kekhawatiran investor saham di dalam negeri, kondisi itu cenderung mendorong pemodal untuk mengambil posisi lepas saham.

Sementara itu, analis HD Capital Yuganur Wijanarko mengatakan bahwa di tengah koreksi indeks BEI ini, pelaku pasar saham dapat membuka peluang untuk melakukan akumulasi saham di harga yang rendah,”Koreksi sebagai kesempatan akumulasi sebelum IHSG BEI kembali bergerak menguat," katanya.

Berikutnya, indeks BEI masih dalam tren melemah dan beberapa saham yang dapat diperhatikan diantaranya Bumi Serpong Damai (BSDE), Bank Rakyat Indonesia (BBRI), Waskita Karya (WSKT), Wijaaya Karya (WIKA).

Transaksi investor asing hingga sore tercatat melakukan penjualan bersih (foreign net sell) senilai Rp 461,041 miliar di seluruh pasar. Sedangkan nilai jual bersihnya di pasar reguler Rp 618,287 miliar. Perdagangan berjalan moderat dengan frekuensi transaksi sebanyak 250.541 kali dengan volume 7,482 miliar lembar saham senilai Rp 5,064 triliun. Sebanyak 133 saham naik, 153 turun, dan 94 saham stagnan.

Turunnya harga minyak dunia menjadi sentimen negatif di tengah lemahnya data ekonomi Tiongkok dan Jepang. Bursa-bursa di Asia sore ini rata-rata melemah. Saham-saham yang naik signifikan dan masuk dalam jajaran top gainers di antaranya adalah Indofood CBP (ICBP) naik Rp 250 ke Rp 11.850, Bukit Asam (PTBA) naik Rp 150 ke Rp 13.250, Matahari (MPPA) naik Rp 130 ke Rp 3.580, dan Tanah Laut (INDX) naik Rp 116 ke Rp 580.

Sementara saham-saham yang turun cukup dalam dan masuk dalam kategori top losers antara lain Taisho (SQBI) turun Rp 18.000 ke Rp 315.000, Elang Mahkota (EMTK) turun Rp 1.200 ke Rp 6.000, Gudang Garam (GGRM) turun Rp 800 ke Rp 59.075, dan HM Sampoerna (HMSP) turun Rp 575 ke Rp 68.000.

Perdagangan sesi pertama, IHSG ditutup terkoreksi tipis 8,686 poin (0,17%) ke level 5.135,328. Sementara Indeks LQ45 berkurang 1,720 poin (0,19%) ke level 882,558. Investor asing paling getol lepas saham hingga siang hari. Tapi indeks sektoral di lantai bursa bergerak seimbang, ada lima yang turun dan ada lima yang naik.

Perdagangan berjalan moderat dengan frekuensi transaksi sebanyak 145.167 kali dengan volume 4,284 miliar lembar saham senilai Rp 2,595 triliun. Sebanyak 139 saham naik, 124 turun, dan 77 saham stagnan. Pergerakan bursa-bursa regional tidak banyak berubah dari awal perdagangan. Turunnya harga minyak dunia menambah sentimen negatif di tengah lemahnya data ekonomi Tiongkok dan Jepang.

Saham-saham yang naik signifikan dan masuk dalam jajaran top gainers di antaranya adalah Bukit Asam (PTBA) naik Rp 200 ke Rp 13.300, Kimia Farma (KAEF) naik Rp 190 ke Rp 1.565, Sekar Bumi (SKBM) naik Rp 140 ke Rp 750, dan Indofood CBP (ICBP) naik Rp 125 ke Rp 11.725. Sementara saham-saham yang turun cukup dalam dan masuk dalam kategori top losers antara lain HM Sampoerna (HMSP) turun Rp 825 ke Rp 67.750, Gudang Garam (GGRM) turun Rp 800 ke Rp 59.075, Matahari (LPPF) turun Rp 400 ke Rp 15.250, dan Mandom (TCID) turun Rp 375 ke Rp 17.625.

Diawal perdagangan, IHSG langsung dibuka melemah 11,10 poin atau 0,22% menjadi 5.132,90 dan indeks 45 saham unggulan (LQ45) melemah 2,88 poin (0,33%) ke level 881,39,”Faktor dari dalam negeri dan ekternal cenderung membawa IHSG ke area negatif," kata Head of Research Valbury Asia Seucrities, Alfiansyah.

Dia mengemukakan bahwa Bank Dunia memproyeksikan pertumbuhan ekonomi Indonesia untuk tahun 2015 mendatang hanya tumbuh 5,2%, lebih rendah dibandingkan estimasi yang diumumkan bulan Juli lalu sebesar 5,6%,”Proyeksi yang dilakukan Bank Dunia atas perekonomian Indonesia menjadi katalis bagi indeks bursa saham domestik pada perdagangan saham Selasa, (9/12). Namun, jika Indonesia mampu memperkuat sektor investasi, maka pertumbuhan bisa lebih tinggi,”ungkapnya.

Dari eksternal, lanjut dia, indeks bursa saham Amerika Serikat tadi malam yang mengalami pelemahan dipicu oleh kekhawatiran investor terhadap harga minyak dunia yang turun serta ancaman pertumbuhan global berdampak pada pergerakan bursa saham di kawasan Asia, termasuk IHSG BEI.

Disebutkan, spekulasi bahwa kelebihan pasokan minyak akan terus meningkat hingga tahun depan, membuat saham-saham sektor energi terkoreksi. Tercatat bursa regional, di antaranya indeks Bursa Hang Seng dibuka melemah 190,02 poin (0,79%) ke 23.857,65, indeks Nikkei turun 57,84 poin (0,32%) ke 17.877,02, dan Straits Times menguat 25,43 poin (0,76%) ke posisi 3.323,64. (bani)