Ekspansi Bisnis Sritex Dari Hulu Sampai Hilir

Garap Sektor Ritel Fhasion

Selasa, 09/12/2014

NERACA

Jakarta – Guna memperkuat bisnis tekstil dan garmen dari hulu sampai hilir, PT Sri Rejeki Isman Tbk. (Sritex) akan memperluas usahanya ke sektor ritel fhasion. Perseroan siap berinvestasi sebesar US$ 50-100 juta, atau sekitar Rp 1,2 triliun. Disebutkan, ekspansi bisnis perseroan di sektor ritel akan lebih memilih akuisisi brand dari lokal ketimbang brand asing. Nantinya, pembukaan gerai ritel dan fashion ini ditargetkan mampu membukukan penjualan sebesar Rp 2 triliun.

Direktur Utama Sritex Iwan Setiawan Lukminto mengatakan, perseroan bertekad menjadi pemasok merek pakaian untuk pasar dunia pada 2017. Perseroan akan mengakuisisi merek-merek pakaian jadi, baik lokal maupun global. Meski demikian, perseroan tetap akan mengembangkan merek sendiri. Selain itu, perseroan juga akan membangun toko-toko ritel sendiri.

Dengan masuk ke bisnis ritel, perseroan berharap bisa mengintegrasikan bisnisnya dari hulu sampai hilir,”Jika semua bisa berjalan lancar, kontribusi pendapatan dari bisnis ritel diharapkan bisa mencapai Rp 2 triliun. Pendapatan ini ditargetkan bisa terealisasi dalam tiga tahun,” ujarnya.

Tahun depan, perseroan menganggarkan belanja modal sebesar US$ 104 juta, lebih besar dari tahun ini yang hanya US$ 55 juta. Sebesar US$ 10 juta untuk menambah enam juta pakaian jadi, US$ 49 juta untuk menambah 80 juta meter kain mentah, dan US$ 45 juta untuk meningkatkan kapasitas dyeing dan printing kain.

Ekspansi bisnis Sritex dari hulu dibuktikan dengan rencana mengakuisisi lahan hutan tanaman industri untuk jangka panjang. Dimana hal ini dilakukan perseroan sebagai siasat untuk mengurangi ketergantungan bahan baku yang selama ini impor.

Iwan Setiawan Lukminto mengungkapkan, perseroan tengah mencari lahan sebesar 50 ribu hektar untuk membuka industri hutan tanaman industri, “Ada beberapa lokasi yang sedang kita cari diantaranya di Kalimantan dan Sulawesi,”paparnya.

Dia menjelaskan, pembukaan lahan hutan tanaman industri (HTI) ini dimaksudkan untuk mengurangi ketergantungan bahan baku industri. Rencananya, tanaman industri ini akan di tanam ukaliptus sehingga menghasilkan rayon sebagai bahan baku serat untuk katun,”Dengan pembukaan lahan ini, kita bisa menekan biaya produksi atau efisiensi,”ujarnya.

Namun sayangnya, dirinya belum mau bicara banyak untuk pembukaan HTI dengan alasan masih proses panjang untuk kajiannya dan rencana ini juga merupakan jangka panjang untuk 10 tahun kedepan. Dirinya berharap, hasil kajian bisa rampung tiga tahun kedepan dan diharapkan sudah bisa di tanam.

Untuk investasi sendiri, lanjut Iwan, dirinya belum bisa menyebutkan angkanya. Hanya saja yang pasti, perseroan akan mengandalkan pinjaman bank. Asal tahu saja, untuk tahun depan perseroan mengalokasikan belanja modal sebesar US$ 104 juta.

Direktur Keuangan Sritex, Allan Moran Severino menuturkan, belanja tahun depan berasal dari sisa capex atau belanja modal tahun lalu yang mencapai sebesar US$ 245 juta. Dana capex akan digunakan untuk mengembangkan perseroan,”Dana capex yang mencapai US$ 104 juta, sebesar US$ 45 juta akan digunakan untuk investasi finishing, sebesar US$ 10 juta untuk garmen dan sisanya akan digunakan untuk wifing dan spining benang,”ungkapnya.

Dia menjelaskan, dana capex berasal dari kas internal perseroan. Ada juga yang berasal dari penerbitan surat utang jangka menengah atau medium term notes (MTN) sebesar US$ 70 juta. Dana capex kami selama tahun kemarin sampai saat ini kebanyakan datangnya dari laba, meski ada yang diambil dari MTN untuk laba tahun ini," jelas dia. (bani)