Kurikulum 2013 dan Segala Permasalahannya

Oleh: Agus Salim, Mahasiswa Pas­casarjana IAIN-SU

Selasa, 09/12/2014

Bagi orang yang berge­lut dalam du­nia pendidikan, istilah kurikulum bu­kanlah istilah asing. Karena kuri­ku­­lum bagian dari dunia pendi­dikan. Me­nurut Prof. DR. Al-Rasyidin, M.Ag (2014:128), kurikulum adalah seluruh ren­cana pembelajaran yang dijadikan pedoman oleh se­mua civitas akade­mika yang terdapat dalam suatu lem­ba­ga pendidikan formal mau­pun non­for­mal untuk menca­pai tujuan yang di­inginkan. Jika kurikulum diidentik de­­ngan mata pelajaran kurang tepat. Oleh karena formula kurikulum itu bu­kan hanya pelajaran saja. Hasan Basri (2014: 127-128) yang dina­ma­kan kurikulum mencakup sistem dan me­tode pembela­jaran, hubungan inte­raktif antara pendidik dan anak di­dik, pe­ngawasan perkem­bang­an mental anak didik, dan sistem evaluasi.

Berdasarkan Peraturan Pe­merintah Re­publik Indo­nesia Nomor 32 tahun 2013 tentang standar nasional pen­didi­kan, kurikulum adalah seperang­kat rencana dan pe­ngaturan mengenai tujuan, isi, dan bahan pelajaran serta cara yang digunakan sebagai pedoman pe­­nyeleng­garaan kegiatan pembela­ja­­ran untuk mencapai tujuan pendidi­kan tertentu.

Berhasil atau tidaknya sua­tu pen­di­di­kan, tidak ter­lepas dari desain ku­ri­ku­lum yang dibuat pemangku jaba­t­an (Men­teri Pendidikan). Oleh karena ku­ri­kulum me­ru­pakan alat untuk men­ca­pai tujuan pendidikan dan seka­ligus pe­do­man dalam pelak­sanaan pengaja­ran pada se­mua jenis dan tingkat pen­di­­di­kan.

Jika kita menoleh ke be­lakang, dunia pendidikan ki­ta telah mengalami perubah­an kurikulum. Bahkan kuri­kulum yang baru belum di­terapkan sepenuhnya, sudah muncul kurikulum baru. Hal ini konsekuensi pergantian dan kepentingan yang ber­kuasa. Pe­nulis tidak mau ber­andai-andai tentang hal ini. Tapi faktanya seperti itu.

Perbedaan orang yang ber­kuasa di bi­dang pendidik­an juga memiliki pe­ngaruh. Ungkapan yang sering terde­ngar dari masyarakat adalah “Berganti men­teri maka ber­ganti pulalah ke­bijakan da­lam pendidikan di negara ini”, khususnya kurikulum yang diterapkan.

Harus diakui pula bahwa perubahan kurikulum di sua­tu negara memang si­fatnya dinamis. Seiring dengan per­kem­bangan zaman dan ke­ma­juan se­karang ini, dunia pendidikan tidak bo­leh ber­diam diri dan tetap memper­ta­hankan kurikulum sampai berpuluh-puluh tahun. Jadi, sifat kurikulum bersifat di­namis.

Orientasi Kurikulum

Kurikulum didesain sede­mikian rupa tentu memiliki orientasi terhadap anak di­dik. Secara sederhana orien­tasi kurikulum adalah mem­be­ri­kan arah dan pedoman un­tuk memenuhi ke­butuhan anak didik serta disesuai­kan de­ngan minat, bakat, dan ke­mam­pu­a­nnya.

Pendidikan tidak hanya me­ngajar­kan ilmu dan kete­ram­pilan serta kepe­ka­an rasa (kebudayaan) atau agama, se­­yogianya pendidikan mem­beri per­lengkapan ke­pa­da anak didik untuk me­me­cahkan persoalan-persoalan yang dihadapinya, baik per­soalan yang su­dah tampak atau maupun persoalan-per­soalan di masa mendatang. Oleh karena itu, pendidikan harus berorien­tasi kepada masa mendatang. Oleh kare­na anak didik yang ditempa seka­rang untuk generasi yang mendatang. Umar bin Khaththab berkata, “Didik­lah anak-anakmu, sesung­guhnya mereka dilahirkan untuk zaman yang berbeda dengan zamanmu”.

Kurikulum 2013

Kurikulum 2013 yang me­rupakan ke­bijakan dari menteri yang lama, se­perti­nya menyisakan ketidak­je­lasan sam­pai saat ini. Mi­sal­kan buku, sam­pai sekarang pendistribusian buku ti­dak diketahui nasibnya. Karena ma­sih ada sekolah yang be­lum menerima dan menggu­nakan buku kurikulum 2013.

Proses percetakan dan pend-is­tri­busian sampai ke sekolah yang lamban men­­jadi alasan kurikulum 2013 tidak ter­laksana dengan baik. Sistem per­ce­takan bersifat sentral (pusat) se­ha­rus­nya menjadi evaluasi bagi ke­men­trian pendidikan. Seyo­gianya, perceta­kan buku kurikulum baru diserahkan ke­pada daerah. Dengan demikian pen­dis­tribusian buku akan begitu cepat dan merata. Jika memang ada suatu daerah benar-benar tidak ada didapati per­cetak­an, maka percetakan diserah­kan kepada daerah yang ber­dekatan. Dalam hal ini se­mua pihak harus ikut ber­par­tisipasi.

Efektifkah Kurikukulum 2013?

Dalam beberapa kesem­pat­an, Men­teri Pendidikan dan kebudayaan Dasar dan Me­nengah, Anies Baswe­dan, mengatakan akan meng­evaluasi Ujian Nasional (UN) dan Kurikulum 2013 terkait adanya penolakan.

Orang yang paling mera­sa­kan tentang implementasi kurikulum 2013 adalah guru dan orangtua. Bagaimana se­­orang guru begitu repotnya menja­lan­kan kurikulum 2013. Sebagai orang­tua juga tidaklah hebatnya. Hal ini kita dapat lihat bagaimana komentar-ko­mentar masya­rakat Indonesia di hala­man facebook Kementrian Pendi­dikan. Walaupun, kurikulum merupakan salah satu pe­nentu keberhasilan pendidik­an, namun fungsi guru tidak kalah hebat­nya.

Permasalahan lainnya ada­lah tentang kurikulum 2013 adalah tentang eva­luasi. Menurut penulis pe­ker­jaan meng­evaluasi setiap anak didik menjadi be­ban ba­gi setiap guru. Oleh karena, dalam kurikulum 2013 diha­ruskan setiap waktunya meng­evaluasi anak didik­nya. Padahal setiap guru meng­hadapi anak didik da­lam jumlah banyak. Belum lagi mengajar di tempat yang lain.

Kurikulum 2013 yang te­lah dijalan­kan, dari segi teori, muatan dan arahnya baik. Tapi dalam taraf aplikasi ba­nyak hal yang harus dieva­luasi kembali. Ini lah harapan guru-guru dan para orangtua yang ada di negeri ini kepada kemen­trian yang baru. (analisadaily.com)