Trisula Incar Pendapatan Rp800 Miliar

NERACA

Jakarta – Perusahaan garmen, PT Trisula Internasional Tbk (TRIS) pesimis target pendapatan hingga akhir tahun ini sebesar Rp 800 miliar atau tumbuh dari target di awal Rp 750 miliar bisa terealisasi dengan alasan imbas dari kenaikan upah karyawan yang cukup tinggi di Bandung sebesar 25%, adanya selisih penghasilan akibat valuta asing dan kenaikan biaya operasional.

Direktur Utama PT Trisula Internasional Tbk, Lisa Tjahjadi mengatakan, target pendapatan hingga akhir tahun sulit tercapai sebesar Rp 800 miliar. Namun demikian, perseroan optimis di tahun 2015 pendapatan akan tumbuh di atas Rp 800 miliar, “Tahun depan kita yakin bisa mendapatkan pertumbuhan pendapatan diatas Rp 800 miliar, karena menuai hasil investasi dari pembukaan gerai baru dan menambah brand baru,”katanya di Jakarta, kemarin.

Dia menuturkan, untuk menggenjot target pendapatan diatas Rp 800 miliar pada tahun depan akan menggiatkan promosi, khususnya untuk memperbesar merek Jobs serta melakukan inovasi penjualan melalui on line shopping. Selain itu, perseroan juga akan menambah merek baru asal Amerika Serikat yaitu Hallmark pada tahun depan.

Disebutkan, untuk menambah merek Hallmark, perseroan menginvestasikan dana sebesar Rp 5 miliar yang sudah termasuk membuka 5 gerai baru. Kemudian, keyakinan target pendapatan dapat terealisasi juga didukung oleh pemerintah baru yang dipercayai pasar sehingga iklim pasar lebih sehat dan kondusif.

Tahun depan, lanjut Lisa, perseroan mengalokasikan belanja modal atau capital expenditure (capex) sebesar US$ 1 juta. Dananya akan dipergunakan untuk manufacturing pabrik yang dimiliki. Serta aktivitas promosi dan pemasaran. Dari sisi produk, perseroan berencana menghasilkan produk inovasi baru dengan teknologi ‘Seam Selling’ karena telah memiliki respon yang baik di pasar internasional.

Sekaligus meningkatkan brand awareness dari brand-brand yang ada. Melalui perusahaan marketing yang sangat profesional dibidang branding.

Selama sembilan bulan 2014, TRIS meningkatkan penjualan bersih sebesar 12%. Jika dibandingkan dengan total penjualan bersih selama sembilan bulan 2013. Pada akhir kuartal III/2014, penjualan TRIS Rp553,3 miliar. Sementara periode yang sama 2013 Rp495,3 miliar. Dari pertumbuhan penjualan bersih yang dicapai, segmen eceran domestik mengalami organic growth sebesar 25%. Sedangkan pasar penjualan ekspor mengalami peningkatan 6%. Berdasarkan realisasi kuartal III/2014, perseroan memprediksi penjualan 2014 berada dikisaran 94% dari rencana semula atau Rp750 miliar.

Selanjutnya, mengejar momentum natal dan tahun baru, perseroan akan meningkatkan promosi dan diharapkan terjadi pertumbuhan penjualan sebesar 25%. Namun angka ini, diakui Lisa, tidak besar dibandingkan dengan momentum Lebaran.

Menurut analis Daewoo Securities Indonesia Renaldy Effendy, TRIS adalah produsen busana dan atau bergerak dalam sktor ritel. Pelemahan nilai tukar rupiah dilihat akan memberikan pengaruh yang positif pada kinerja perusahaan tersebut. Seiring dengan 85% dari penjualannya yang berorientasi ekspor. Sementara itu, 35% dari COGS adalah dalam bentuk rupiah.

Selain itu, perbaikan perekonomian AS akan ikut memberikan dampak pada kenaikan tingkat keyakinan konsumen. Mendorong permintaan serta pengeluaran pada produk TRIS. “Berdasarkan simulasi yang dilakukan oleh perusahaan, setiap kenaikan 5% dari nilai tukar dollar AS diharapkan akan mendorong laba kotor naik sebesar 10%,” jelas dia dalam risetnya. (bani)

Related posts