WIKA Revisi Target Kontrak Akhir Tahun

NERACA

Jakarta – Menyadari target kontrak tahun ini sulit tercapai, sebagai imbas dari kondisi politik dalam negeri yang belum kondusif, menjadi alasan PT Wijaya Karya Tbk (WIKA) merevisi target kontrak tahun ini dari Rp 25,83 triliun menjadi Rp 20,5 triliun atau turun sekitar 79,4%.

Direktur Keuangan WIKA, Adji Firmantoro mengakui, target kontrak tahun ini suli tercapai di penghung akhir tahun lantaran pemerintah pemerintah sibuk mengurusi urusan politik ketimbang pembangunan. Pihak swasta pun cenderung menahan berbagai proyek dengan pertimbangan situasi politik yang belum menentu,”Kondisi politik dalam negeri yang belum stabil hingga berkepanjangan ini, diluar dugaan kami, “katanya di Jakarta, Kemarin.

Hingga minggu ketiga November 2014, Adji mengaku kontrak baru WIKA sebesar Rp 13,5 triliun atau memenuhi 65,8% dari target akhir tahun Rp 20,5 triliun. Meski jauh dari target, Adji optimis WIKA masih bisa mengejar sisa kontrak sekitar Rp 7 triliun hingga akhir tahun. Di sisi lain, WIKA juga menunda sejumlah proyeknya. Hal ini membuat anggaran belaja modal alias capex perseroan tahun ini sebesar Rp 1,9 triliun tidak akan terserap semua.

Hingga akhir tahun, Adji memperkirakan capex WIKA yang terserap sekitar Rp 1,6 triliun.Tahun ini, WIKA menunda beberapa proyeknya, seperti proyek pembangkit listrik mini hydro di Sumatera, proyek pengolahan air di Jatiluhur, hingga proyek pembangkit listrik tenaga surya.

Dengan kontrak yang mundur, target penjualan perseroan tahun ini pun dipangkas menjadi Rp 13 triliun atau memenuhi 93% dari target awal Rp 14 triliun. Sedangkan target labanya diperkirakan Rp 600 miliar atau 88,5% dari target awal Rp 678 miliar. Pada kuartal tiga, perseroan masih mencatatkan pertumbuhan laba yang dapat diatribusikan ke pemilik entitas induk Rp 400,71 miliar.

Disebutkan, laba ini naik 2,66% dari tahun 2013 (year on year/yoy) atau 59,05% dari target 2014, Rp678,65 miliar. Hingga akhir September 2014, WIKA membukukan penjualan (tidak termasuk penjualan KSO) sebesar Rp8,61 triliun, naik 8,85% dibandingkan penjualan pada periode yang sama tahun 2013 sebesar Rp7,91 triliun.

Dari capaian kinerja tersebut, WIKA memproyeksikan penjualan hingga akhir tahun dapat mencapai 97% dari target 2014 sebesar Rp14,09 triliun. WIKA menargetkan penjualan (termasuk penjualan KSO) Rp18,82 triliun atau naik 25,63% dari realisasi tahun 2013 sebesar Rp14,98 triliun. Sementara perolehan laba yang dapat diatribusikan ke Pemilik Entitas Induk hingga akhir tahun berada pada kisaran 80-90% dari target tahun 2014 sebesar Rp678,65 miliar.

Proyeksi kinerja WIKA hingga akhir tahun tersebut dikaji berdasarkan adanya pemangkasan Anggaran Pendapatan Belanja Negara (APBN) tahun 2014 pada proyek-proyek infrastruktur milik pemerintah, tertundanya proyek-proyek sejumlah Badan Usaha Milik Negara. (bani)

BERITA TERKAIT

TERKAIT RENCANA REVISI UU DUNIA USAHA - Presiden Minta Masukan dari Kalangan Pengusaha

Jakarta-Presiden Jokowi memanggil kalangan pengusaha yang tergabung Apindo (Asosiasi Pengusaha Indonesia), Kadin Indonesia dan Hipmi, untuk meminta masukan terobosan baru…

Soal Aturan E-Bookbuilding - BEI Janjikan Tidak Akan Molor dari Target

NERACA Jakarta – Sekian kalinya, PT Bursa Efek Indonesia (BEI) memberikan janji bila aturan electronic bookbuilding (EBB) akan rampung pada…

Phapros Kantungi Kontrak Baru Rp 1 Triliun

Emiten farmasi, PT Phapros Tbk (PEHA) baru saja mengantongi kontrak kerja sama dengan perusahaan afiliasinya, yaitu PT Kimia Farma Trading…

BERITA LAINNYA DI BURSA SAHAM

BPII Terima Dividen Tunai Rp 12,99 Miliar

PT Batavia Prosperindo Internasional Tbk (BPII) pada tanggal 12 Juni 2019 memperoleh dividen tunai tahun buku 2018 sebesar Rp12,99 miliar…

Kerugian Steady Safe Susut Hingga 54%

Meskipun masih mencatatkan rugi di kuartal pertama 2019, PT Steady Safe Tbk (SAFE) mengklaim rugi bersih yang dibukukan senilai Rp1,809…

Volume Penjualan SMCB Masih Terkoreksi

Lesunya pasar semen dalam negeri dirasakan betul oleh PT Solusi Bangun Indonesia Tbk (SMCB). Perusahaan yang dulunya PT Holcim Indonesia…