IFF Siap Jadi Katalisator Pembiayaan Proyek Infrastruktur

Jumat, 05/12/2014

NERACA

Jakarta - PT Indonesia Infrastructure Finance menyelenggarakan Year-End Gathering bersama para klien, mitra kerja dan pemangku kepentingan. Acara ini diselenggarakan untuk menandai tahun 2014 sebagai tahun yang penting dalam perjalanan IIF sebagai institusi yang secara khusus dibentuk untuk berperan langsung dalam pembangunan infrastruktur di Indonesia.

Pada tahun ini, IIF semakin menunjukkan keberadaannya sebagai penyedia pembiayaan, dan secara membanggakan telah berhasil menapakkan kakinya sebagai satu elemen penting dalam pembangunan infrastruktur di Indonesia. Berbagai pencapaian dialami oleh IIF pada tahun ini, antara lain adalah dari sisi sektor infrastruktur yang dibiayai, dimana di tahun ini IIF telah berpartisipasi dalam pembiayaan untuk sektor-sektor jalan tol, telekomunikasi, air, pelabuhan, minyak dan gas bumi, dan kelistrikan. Dari sisi nilai, sampai dengan Oktober 2014, IIF telah berhasil membukukan komitmen pembiayaan sebesar sekitar Rp3,5 triliun, untuk penyaluran ke berbagai proyek infrastruktur dengan total nilai proyek sebesar sekitar Rp24 triliun.

Direktur Utama IIF, Sukatmo Padmosukarso mengatakan salah satu keunggulan IIF adalah kemampuan kami untuk menyediakan pembiayaan jangka panjang, termasuk dalam mata uang US Dollar, yang sangat dibutuhkan oleh proyek-proyek infrastruktur.“Selain itu, kami juga siap untuk memberikan pinjaman dalam bentuk subordinasi/mezzanine, bahkan ekuitas. Berbagai fleksibilitas pendanaan tersebut telah menjadikan kami pilihan menarik dalam struktur kapitalisasi suatu proyek infrastruktur,” kata dia di Jakarta, Kamis (4/12).

Komposisi pemegang saham IIF terdiri dari Pemerintah Indonesia melalui PT Sarana Multi Infrastruktur (Persero), para lembaga multilateral, yaitu IFC (sebagai wakil dari World Bank), Asian Development Bank (ADB), dan Deutsche Investitions-und Entwicklungsgesellschaft mbH (DEG), dan SMBC. Komposisi pemegang saham ini memberikan jaminan kapitalisasi yang sangat kuat bagi IIF untuk mendukung pengembangan portfolio pembiayaannya.

Di samping berbagai instrumen pendanaan proyek, IIF juga menyediakan jasa konsultan/advisory baik kepada swasta maupun kepada pemerintah. Khusus untuk jasa advisory kepada pemerintah, IIF secara signifikan telah berperan dalam pengembangan skema Kerjasama Pemerintah Swasta (KPS) di Indonesia, baik dari sisi penyiapan kebijakan maupun dari sisi pengembangan proyek-proyek KPS itu sendiri.

Dengan berbagai nilai tambah tersebut, IIF sangat yakin akan kemampuan dan komitmennya untuk menjadi katalisator dalam pembiayaan proyek-proyek infrastruktur yang dipersiapkan dengan baikdan layak secara komersial.“Kami sangat optimis bahwa dalam waktu yang tidak lama lagi, IIF akan menjadi katalisator dan barometer bagi para penyedia pembiayaan infrastruktur lainnya. Hal ini sejalan dan sesuai dengan tujuan pendirian IIF oleh Pemerintah Indonesia dan para lembaga multilateral,” ungkap Sukatmo.

PT Indonesia Infrastructure Finance (IIF) adalah perusahaan swasta nasional berbentuk perusahaan pembiayaan infrastruktur berdasarkan Peraturan Menteri Keuangan Republik Indonesia No. 100/2009, yang dikelola secara profesional dengan fokus untuk berinvestasi pada proyek-proyek infrastruktur yang layak secara komersial. Pendirian IIF merupakan salah satu elemen penting dalam rencana strategis Pemerintah Indonesia bersama dengan mitra dari lembaga keuangan internasonal dalam mengatasi hambatan arus investasi untuk mendorong pertumbuhan dan pembangunan infrastruktur di Indonesia.

IIF didukung oleh Pemerintah dan Lembaga-Lembaga multilateral dunia yang tercermin dalam kepemilikan saham IIF yakni Pemerintah Indonesia, melalui PT Sarana Multi Infrastruktur (Persero) (SMI) memiliki saham sebesar 33,88%, Asian Development Bank (ADB) memiliki saham sebesar 19,99%, International Finance Corporation (IFC) memiliki saham sebesar 19,99%, Deutsche Investitions-und Entwicklungsgesellschaft mbH (DEG) memiliki saham sebesar 11,24%, Sumitomo Mitsui Banking Corporation (SMBC) memiliki saham sebesar 14,9% . Disamping itu IIF juga mendapat dukungan pinjaman dari World Bank dan ADB.[mohar]