Catatkan Rekor, Transaksi Asing Rp 51 Triliun - Kepercayaan Investor Kembali Pulih

NERACA

Jakarta – Meskipun target calon emiten tahun ini sebanyak 30 perusahaan meleset dari target, namun industri pasar modal masih mengantungi banyak prestasi. Salah satunya, pihak PT Bursa Efek Indonesia (BEI) mencatat aliran dana asing yang masuk pasar modal Indonesia (foreign net buy) sudah mencapai sebesar Rp51 triliun.

Kata Direktur Utama BEI, Ito Warsito, derasnya dana asing tersebut merupakan rekor baru bagi pasar modal Indonesia,”Ini rekor baru, dana asing yang masuk bursa sudah mencapai Rp51 triliun," ujarnya di Jakarta, Rabu (3/12).

Menurut Ito, dengan banyaknya dana asing yang masuk ke bursa, maka hal itu memberikan sinyal yang baik bagi pasar modal Indonesia di mata investor asing. Dia menjelaskan, investor asing masih banyak datang ke Indonesia, dengan dibuktikan saham-saham yang masih banyak mengalami likuid. Sebagai contoh saham PT Soechi Lines Tbk (SOCI) yang baru masuk bursa.

Lanjut dia, dengan masuknya saham SOCI yang merupakan emiten baru masuk ke bursa, diharapkan perusahaan pelayaran bisa berperan penting dalam mengembangkan sektor infrastruktur dalam negeri,”Kami harapkan sektor maritim bisa berperan penting. Kami harapkan SOCI akan terus tumbuh. Sebagaimana pemerintahan baru yang terus mendorong poros-poros maritim, seperti sektor infrastruktur,”paparnya.

Dirinya juga menuturkan, kondisi pasar modal pada 2015 mendatang diprediksi akan membaik dibandingkan dengan tahun ini. Pasalnya, kondisi politik yang stabil menjadi pendorong pertumbuhan perusahaan yang akan melantai di bursa tahun depan,”Kita optimistis target IPO akan tercapai karena kondisi tahun depan politik sudah stabil, walaupun akan masih ada beda pandangan tapi itu biasa, sudah ada sejak dulu,”cetusnya.

Lebih lanjut dia mengungkapkan, kondisi perekonomian pada tahun depan diyakini juga akan mengalami perbaikan. Dimana tingkat bunga membaik, banyak kebijakan pemerintah yang mendorong percepatan pertumbuhan ekonomi dan dari investor asing akan menambah likuiditas ekonomi Indonesia.

Sebelumnya, Ketua Umum Asosiasi Analis Efek Indonesia (AAEI) Haryajid Ramelan pernah bilang, laju IHSG pada tahun 2015 bakal menembus level 6300,”Pasca dikeluarkannya kebijakan fiskal maupun moneter yang dikeluarkan pemerintah dan Bank Indonesia, diyakini akan memperbaiki fundamental ekonomi yang lebih menyeluruh,”ujarnya.

Banyak alasan laju IHSG bakal terkerek naik, seperti perbaikan di hampir seluruh indikator makro ekonomi domestik akan memberikan sentiment positif indeks BEI. Lebih lanjut dia mengatakan, sejauh ini pasar sudah mengapresiasi positif kebijakan fiskal berupa kenaikan harga bahan bakar minyak (BBM) bersubsidi maupun kebijakan BI yang menaikkan suku bunga acuan (BI Rate) ke level 7,75%. "Memang di akhir tahun ini inflasinya akan meninggi, pasca kenaikan BBM," imbuhnya.

Menurut Haryajid, respons BI dalam menanggapi potensi kenaikan inflasi akibat kebijakan BBM bersubsidi, justru mendapat apresiasi pasar meski kebijakan moneter ini berpotensi melemahkan laju pertumbuhan ekonomi. "Rupiah pun mengapresiasi positif dengan kebijakan fiskal moneter itu," tegas Haryajid. (bani)

BERITA TERKAIT

CCSI Catatkan Oversubscribed 2,51 Kali

NERACA Jakarta – Perusahaan produsen kabel, PT Communication Cable Systems Indonesia Tbk (CCSI) mengungkapkan, mengalami kelebihan permintaan atau oversubscribed sebanyak…

Garap Proyek LRT - ADHI Terima Pembayaran III Rp 1,2 Triliun

NERACA Jakarta –Perusahaan kontruksi plat merah, PT Adhi Karya Tbk (ADHI) menerima realisasi pembayaran tahap III pengerjaan proyek Light Rail…

Danai Ekspansi Bisnis - PTPP Bakal Terbitkan Obligasi Rp 1,5 Triliun

NERACA Jakarta – Tren perusahaan mencari pendanaan di pasar modal cukup marak pasca pemilihan presiden (Pilpres). Dimana salah satu perusahaan…

BERITA LAINNYA DI BURSA SAHAM

BPII Terima Dividen Tunai Rp 12,99 Miliar

PT Batavia Prosperindo Internasional Tbk (BPII) pada tanggal 12 Juni 2019 memperoleh dividen tunai tahun buku 2018 sebesar Rp12,99 miliar…

Kerugian Steady Safe Susut Hingga 54%

Meskipun masih mencatatkan rugi di kuartal pertama 2019, PT Steady Safe Tbk (SAFE) mengklaim rugi bersih yang dibukukan senilai Rp1,809…

Volume Penjualan SMCB Masih Terkoreksi

Lesunya pasar semen dalam negeri dirasakan betul oleh PT Solusi Bangun Indonesia Tbk (SMCB). Perusahaan yang dulunya PT Holcim Indonesia…