Sritex Incar Lahan 50 Ribu Hektar

Buka Hutan Industri

Rabu, 03/12/2014

NERACA

Jakarta –Perusahaan garmen dan tekstil, PT Sri Rejeki Isman Tbk (SRIL) terus melebarkan sayap ekspansinya dengan rencana mengakuisisi lahan hutan tanaman industri untuk jangka panjang. Dimana hal ini dilakukan perseroan sebagai siasat untuk mengurangi ketergantungan bahan baku yang selama ini impor.

Kata Direktur Utama PT Sri Rejeki Isman Tbk (Sritex), Iwan Setiawan Lukminto, perseroan tengah mencari lahan sebesar 50 ribu hektar untuk membuka industri hutan tanaman industri, “Ada beberapa lokasi yang sedang kita cari diantaranya di Kalimantan dan Sulawesi,”ujarnya di Jakarta, Selasa (2/12).

Dia menjelaskan, pembukaan lahan hutan tanaman industri (HTI) ini dimaksudkan untuk mengurangi ketergantungan bahan baku industri. Rencananya, tanaman industri ini akan di tanam ukaliptus sehingga menghasilkan rayon sebagai bahan baku serat untuk katun,”Dengan pembukaan lahan ini, kita bisa menekan biaya produksi atau efisiensi,”paparnya.

Namun sayangnya, dirinya belum mau bicara banyak untuk pembukaan HTI dengan alasan masih proses panjang untuk kajiannya dan rencana ini juga merupakan jangka panjang untuk 10 tahun kedepan. Dirinya berharap, hasil kajian bisa rampung tiga tahun kedepan dan diharapkan sudah bisa di tanam.

Untuk investasi sendiri, lanjut Iwan, dirinya belum bisa menyebutkan angkanya. Hanya saja yang pasti, perseroan akan mengandalkan pinjaman bank. Asal tahu saja, untuk tahun depan perseroan mengalokasikan belanja modal sebesar US$ 104 juta.

Direktur Keuangan Sritex, Allan Moran Severino menuturkan, belanja tahun depan berasal dari sisa capex atau belanja modal tahun lalu yang mencapai sebesar US$ 245 juta. Dana capex akan digunakan untuk mengembangkan perseroan,”Dana capex yang mencapai US$ 104 juta, sebesar US$ 45 juta akan digunakan untuk investasi finishing, sebesar US$ 10 juta untuk garmen dan sisanya akan digunakan untuk wifing dan spining benang,”ungkapnya.

Dia menjelaskan, dana capex berasal dari kas internal perseroan. Ada juga yang berasal dari penerbitan surat utang jangka menengah atau medium term notes (MTN) sebesar US$ 70 juta. Dana capex kami selama tahun kemarin sampai saat ini kebanyakan datangnya dari laba, meski ada yang diambil dari MTN untuk laba tahun ini," jelas dia.

Selain itu, perseroan juga mengkaji rencana pembukaan pasar ritel untuk pakaian dengan mengakuisisi brand ternama baik lokal ataupun luar. Kata Allan, pembukaan bisnis ritel ini masih dalam tahap kajian untuk ekspansi bisnis tiga tahun mendatang,”Kita sedang kaji pasarnya, namun tidak tertutup kemungkinan kalau ada peluang tahun depan ya segera di eksekusi,”tandasnya.

Nantinya, pembukaan gerai ritel dan fashion ini ditargetkan mampu membukukan penjualan sebesar Rp 2 triliun. Perseroan sendiri mengalokasikan belanja modal untuk pembukaan gerai sekitar Rp 500 juta hingga Rp 1 triliun.

Kemudian imbas kenaikan harga bahan bakar minyak (BBM), perseroan telah memutuskan untuk menaikkan harga jual produknya. Dimana naiknya harga BBM berdampak kepada distribusi barang, sehingga diperlukan penyesuaian harga jualnya kepada pelanggan. (bani)