Astra Internasional Bidik Pasar Properti

Seimbangkan Bisnis Otomotif

Senin, 01/12/2014

NERACA

Bogor – Menyadari bisnis otomotif sebagai penopang utama pendapatan PT Astra Internasional Tbk tengah mengalami perlambatan tahun ini hingga tahun depan, menjadi alasan bagi perseroan untuk menyeimbangkan bisnis otomotif dan non otomotif. Bahkan perseroan terus melakukan diversifikasi bisnis, teranyar Astra Internasional mulai kembangkan bisnis properti.

Chief Group Treasury & Investor RelationsAstra International, Iwan Hadiantoro mengatakan, perseroan tengah melakukan pengembangan di sektor properti di bawah garapan anak usaha, yaitu PT Menara Astra,”Astra tengah membangun office toweratau Menara Astra setinggi 47 lantai dan Anandamaya Residence Apartment sebanyak 509 unit di Kawasan Sudirman,”ujarnya di Bogor, Kemarin.

Menurutnya, hingga saat ini pihaknya telah berhasil dalam menjual sekitar 500 unit atau sebesar 90% dari total keseluruhan unit apartemen. Rencananya sisanya sebesar 20% lagi ditargetkan sudah dapat laku terjual di penghujung tahun ini. Penggarapan tersebut diharapkan dapat selesai akhir tahun 2017 mendatang."Proyek ini kami seriusi makanya pembangunanoffice towerdan residensial itu dilakukan secara bertahap," tuturnya.

Tercatat, perseroan menginvestasikan dana sebesar US$ 600 juta untuk membangun Menara Astra dan Anandamaya Residence Apartment. Kata Iwan Hadiantoro, bisnis sektor properti ini diharapkan dapat mendorong kinerja di sektor non otomotif meningkat sehingga dapat mengimbangi kinerja sektor otomotif yang lebih mendominasi,”Kita ingin keluar dari ketergantungan dari sektor otomotif, karena sektor itu cukup rentan terkena dampak negatif jika terjadi kenaikan bahan bakar minyak (BBM). Kita ingin kinerja yang 'sustainable',”ungkapnya.

Ke depan, lanjut dia, perseroan tidak menutup kemungkinan untuk mengembangkan bisnis properti, apalagi saat ini Astra International Tbk memiliki lahan yang ada di lokasi yang cukup strategis,”Kami tidak punya lahan kosong, tapi kami punya lahan yang ada untuk dimanfaatkan agar bisa lebih berguna untuk mendukung sektor properti,”tandasnya.

Kendati demikian, Iwan Hadiantoro mengatakan bahwa Astra International Tbk tetap terus fokus dalam menjalankan bisnis lainnya yakni otomotif, keuangan, alat berat dan pertambangan, agrobisnis, infrastruktur, logistik serta teknologi informasi. Dengan kombinasi bisnis diharapkan kinerja sektor otomotif dan non otomotif memiliki perbandingan sama, yakni 50:50.

Selama kuartal III-2014, Astra berhasil meraup laba bersih sebesar Rp 14,5 triliun atau naik 8% dibandingkan periode sama tahun lalu Rp 13,4 triliun. Sementara, pendapatan tercatat sebesar Rp 150,5 triliun atau tumbuh 6% dibandingkan kuartal III-2013 sebesar Rp 141,8 triliun.

Pertumbuhan pendapatan dan laba bersih ditopang sektor agribisnis dan kontrak pertambangan. Sementara, divisi otomotif justru melemah akibat penurunan penjualan mobil. Penjualan mobil Astra secara nasional turun 1% menjadi 476.000 unit. Hal ini menyebabkan penurunan pangsa pasar dari 53% menjadi 51%. Di sisi lain, penjualan sepeda motor mengalami peningkatan sebesar 9%. (bani)