Siasat Unilever Perkuat Inovasi Produk

Menghadapi Tantangan 2015

Jumat, 28/11/2014

NERACA

Jakarta – Proyeksi tahun depan bakal terjadi perlambatan ekonomi, menjadi tantangan bagi PT Unilever Indonesia Tbk (UNVR) sebagai perusahaan di sektor consumer goods untuk meningkatkan kinerja keuangan. Namun demikian, perseroan optimis sektor konsumsi dan barang kebutuhan sehari-hari (fast moving consumer good (FMCG) masih menjanjikan karena menjadi kebutuhan sehari-hari.

Industri FMGC sangat tergantung realisasi pertumbuhan ekonomi (gross domestic product/GDP) tahun depan yang diperkirakan mencapai 5,8%,”Tahun 2015 is another challenging years, pertumbuhan permintaan relatif stagnan seiring penyesuaian daya beli konsumen akibat kenaikan bahan bakar minyak (BBM) dan suku bunga. Semoga program pemerintah terealisasi cepat agar growth GDP sesuai target dan berdampak positif pada industri FCMG," kata Sekretaris Perusahaan PT Unilever Indonesia Tbk, Sancoyo Antarikso di Jakarta, Kamis (27/11).

Untuk mengantisipasi kondisi pasar, produsen Rexona, shampo Sunsilk dan kecap Bango ini akan mengkaji kapasitas produksi setelah utilisasi mencapai 80%. Perusahaan juga akan terus melakukan launching maupun relaunching product, minimal sama dengan target tahun ini sebanyak 50 produk. Jumlah ini tersebar dalam 14 kategori dan 1.000 stock keeping unit,”Kami tambah packaging setelah 80% utilisasi, kami juga selalu bikin produk yang selalu relevan dari sisi pack size serta terus melakukan product offering agar jangan sampai konsumen yang semula mengkonsumsi produk kita kemudian tidak mengkonsumsi," paparnya.

Selain itu lanjut Sancoyo, perusahaan berencana merealisasi penyelesaian pembangunan pabrik olekimia berkapasitas 200.000 ton pada kuartal-I tahun depan demi menjaga kapasitas produksi. Pabrik yang berada di Kawasan Ekonomi Khusus (KEK) Sei Mangkei Sumatera Utara ini bakal menyuplai 15-20 persen produk turunan crude palm oil (CPO) untuk memenuhi pabrik Unilever baik di Indonesia maupun Unilever global.

Untuk ekspansi kategori produk sendiri, perusahaan berencana menambah variasi dalam satu jenis katogori produk yang sama. "Kami cukup puas dengan jumlah kategori saat ini, adapun ekspansi pada kategori yang sama, misal kecap Bango kami kembangkan jadi kecap Bango Bacam, sehingga konsumen yang ingin bacam tahu, tempe atau ayam akan tertarik," tambahnya.

Per 30 September lalu, Unilever masih mencatatkan kenaikan penjualan 13,3% menjadi Rp 26,09 triliun dari Rp 23,03 triliun setahun lalu, naik dua digit di tengah pelemahan industri FMCG yang hanya tumbuh 5%. Adapun laba sedikit terkoreksi sebesar 0,24% menjadi Rp 4,08 triliun dari Rp 4,09 triliun setahun lalu, akibat biaya keuangan yang melonjak menjadi Rp 72,24 miliar dari Rp 29,22 miliar.

Asal tahu saja, perseroan akan memperkuat inovasi produk yang ada saat ini (existing categories) guna menangkap pertumbuhan pasar kelas menengah di Indonesia. Dimana perseroan akan memfokuskan diri pada pengembangan kategori yang sudah ada. Pihaknya belum berencana melakukan akuisisi produk maupun merek baru. (bani)