Pasar Jenuh Sudah Lewat, Perusahaan Swasta Didorong Untuk IPO

NERACA

Jakarta - Di tengah fluktuasi Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) dan gonjang-ganjing pasar saham dunia, rencana penawaran saham perdana (IPO-Initial Public Offering) oleh tujuh perusahaan swasta di Bursa Efek Indonesia (BEI) justru dinilai tepat oleh sejumlah pengamat bursa. Alasannya, situasi pasar jenuh (bottom market) di lantai bursa sudah lewat, sementara situasi ke depan diprediksi sebagai momentum bullish (kenaikan) saham.

Demikian disampaikan Kepala Riset Universal Broker Indonesia Satrio Utomo menanggapi rencana tujuh calon emiten yakni PT Atlas Resources, PT Solusi Tunas Pratama, PT SMR Utama, PT ABM Investama, Erajaya Swasembada, PT Visi Media Asia dan PT Golden Mines Energy yang hendak melakukan IPO pada kuartal IV 2011.

“Bottom market sudah lewat, ke depan akan bullish. Kendati sekarang pasar saham lagi jelek, lagi kacau, tapi tren-nya akan terus naik. Dan saya memprediksi IPO tahun depan akan lebih bagus,” ungkap Satrio kepada Neraca, Selasa (6/9).

Lebih jauh Satrio mengingatkan, selama ketujuh calon emiten tersebut punya daya jual (selling point) yang bagus, maka IPO tidak akan pernah bermasalah. Menurut dia, jika calon emiten memiliki harga jual yang murah dan penjamin emisi yang terpercaya, maka IPO kapan pun tidak akan bermasalah. Sebaliknya, jika ketujuh perusahaan tersebut punya selling point yang jelek, grup yang menaungi pun tidak jelas track record-nya, apalagi ditambah harga penawaran yang terlampau mahal, maka IPO mereka dipastikan tidak akan laku di pasar saham.

“Apalagi kalau Profitability Index (PI) perusahaan bersangkutan di atas 17, maka akan susah laku karena orang malas beli. Meski fundamentalnya kuat, kalau PI-nya mahal, tidak akan dibeli investor,” terangnya.

Senada dengan Satrio, Equity Analyst PT. Trimegah Securities, Bagus Perdana mengungkapkan, IPO tujuh perusahaan swasta yang sedang hangat dibicarakan ini tetap dapat dilakukan dan juga berpeluang meraih keuntungan di tengah fluktuatifnya bursa saham dunia dengan syarat IPO ini harus dilakukan dengan hati-hati.

”Dengan berkaca pada 2008/2009, di mana juga terjadi krisis ekonomi kala itu, dan kondisi bursa saham dunia lebih tidak menentu dari saat ini. Tetap ada beberapa perusahaan yang melakukan IPO, seperti PT. Sampoerna, PT. Cipta Property dan PT. Indika. Dan mereka tidak ada masalah dengan IPO yang mereka lakukan kala itu,” jelas Bagus, kemarin.

Hanya saja, imbuh Bagus, kalau perusahaan dengan ukuran besar juga BUMN dalam melakukan IPO sebaiknya tidak memaksakan diri untuk merealisasikannya segera di tahun ini, karena mereka membutuhkan penawaran terbaik yang tidak bisa diputuskan seperti dengan membalikkan telapak tangan.

Bagus berpendapat, untuk perusahaan dengan ukuran kecil dan menengah, rasanya tidak akan ada masalah untuk IPO tahun ini. Karena biasanya mereka telah mempunyai standing buyer atau anchor. Tentunya mereka tidak akan kesulitan dengan IPO meski dilakukan ditengah kondisi ekonomi seperti saat ini. Pasalnya, kini minat pembeli lokal juga cukup baik.

”Intinya, IPO tujuh perusahaan ini tetap bisa dilakukan di kondisi seperti ini, asalkan mereka (setiap perusahaan) mampu memberikan penawaran yang baik. Seperti dengan menunjukkan prospek cerah dari perusahaan yang akan di-IPO-kan, lalu level harga yang bersaing, dan terakhir tujuan dari penggunanaan dana dari IPO tersebut. Dengan demikian tidak akan ada masalah dengan IPO tujuh perusahaan ini,” kata Bagus.

Pada kesempatan lain, pengamat ekonomi FEUI Lana Soelistianingsih menyatakan, pasar saham Indonesia punya potensi yang baik dari pengaruh sedang menurunnya perekonomian di Amerika dan Eropa. Menurut dia, dalam situasi seperti inilah, akan banyak investor yang sedang mencari peluang investasi diIndonesia. Lebih jauh Lana memaparkan, IPO yang akan akan dilirik para investor adalah IPO yang relatif besar dan jumlah produk yang besar (market capital). ”Kalau IPO yang kecil tidak akan dilirik juga oleh investor,” tutupnya.

Sebelumnya, Direktur Penilaian Perusahaan BEI Eddy Sugito mengungkapkan, PT Atlas Resources, PT Solusi Tunas Pratama dan PT SMR Utama telah mendapat persetujuan awal IPO dari BEI dan kemudian melanjutkan proses ke Bapepam-LK. Dia menambahkan Atlas Energy Resources siap melepas 17% saham baru, Solusi Tunas Pratamaakan melepas 17% saham, SMR Utama menawarkan 500 juta saham baru atau 30% dari total saham yang dicatatkan.

Adapun PT ABM Investama berencana melepas 20% saham, Erajaya Swasembada akan melepas 40% saham, PT Dian Swastatika Tbk (DSSA) menawarkan 1,25 miliar lembar saham dan harga penawaran Rp 2.300-3.500 per lembar. Rasio saham perdana mencapai 20% dari total yang dicatatkan. Sementara Visi Media, sebelumnya perseroan menawarkan saham Rp 280 per lembar, dengan target harga Rp 640,1 miliar. ahmad/iwan/munib

Related posts