Antam Siap Eksplorasi di Gorontalo - Tunggu Restu Dari BUMI

NERACA

Jakarta –Meskipun bisnis tambang emas saat ini belum sebaik tahun lalu, tidak menyurutkan rencana PT Aneka Tambang Tbk (ANTM) untuk menambah kontrak karya baru dalam eksploitasi tambang emas. Bahkan perusahaan plat merah ini begitu berminat besar untuk melakukan eksplorasi emas di Gorontalo.

Namun sayangnya, perseroan belum bisa memutuskan sendiri lantaran diajak PT Bumi Resources Tbk (BUMI) menggarap tambang emas dan tembaga di Gorontalo melalui perusahaan patungan PT Gorontalo Minerals.

Anak usahanya ini belum bisa mulai operasi karena biaya feasibility study belum tersedia. Rencana tersebut mengandalkan dana hasil rights issue BUMI, yang sayangnya tidak mencapai target,”Kita masih menunggu feasebility study. Di situ kan kami cuma 20%, mayoritasnya BUMI," kata Direktur Utama PT Aneka Tambang Tbk, Tato Miraza di Jakarta, Senin (24/11).

Dia mengatakan, pihaknya menunggu arahan dan hasil feasibility study dari perusahaan tambang Grup Bakrie tersebut sebelum melanjutkan operasional Gorontalo Minerals,”Semuanya ada di BUMI, kita tidak tahu menahu. Nanti kalau hasilnya sudah ada baru kita bisa komentar," ujarnya.

Seperti diketahui, Gorontalo Minerals adalah anak perusahaan yang 80% sahamnya dimiliki anak usaha BUMI, PT Bumi Resources Minerals Tbk (BRMS). Sedangkan 20% sisa sahamnya dimiliki Antam. Fokus kegiatan penambangan Gorontalo Minerals adalah tembaga dan emas di konsesi tambang seluas 36.070 hektar di Bone Bolango, Gorontalo, Sulawesi. Kegiatan eksplorasi yang akan dilakukan terletak di Sungai Mak dan Cabang Kiri.

Tadinya emiten berkode BUMI itu akan melakukan feasibility study di area tambang itu setelah menggelar penerbitan saham baru dengan mekanisme hak memesan efek terlebih dahulu (HMETD) alias rights issue yang awalnya diperkirakan bisa meraih dana Rp 7,7 triliun.

Rencana tersebut tidak berjalan mulus gara-gara tidak banyak pemegang saham yang menyerap saham baru. Alhasil dana hasil rights isssue hanya terkumpul Rp 3,6 triliun saja. Akibatnya, sebagian besar dana yang diraih BUMI hanya bisa digunakan untuk melunasi sebagain utang saja. Sementara proyek perseroan untuk feasibility study konsesi tembaga dan emas di Gorontalo harus ditunda.

Hingga kuartal tiga tahun 2014, PT Aneka Tambang Tbk membukukan kerugian mencapai Rp 563,90 miliar hingga September 2014 dari periode sama tahun sebelumnya untung Rp 347,99 miliar. Penjualan juga turun 34% dari Rp 8,8 triliun menjadi Rp 5,81 triliun hingga kuartal III 2014.

Komoditas emas menjadi kontributor terbesar penjualan bersih unaudited senilai Rp 2,8 triliun atau 48% dari total penjualan bersih. Penjualan emas Antam ini turun 26%. Volume penjualan emas turun 28% menjadi 5.520 Kg hingga kuartal III 2014. Beban pokok penjualan turun menjadi Rp 5,29 triliun hingga kuartal III 2014. Alhasil, laba kotor turun 59% menjadi Rp 520,77 miliar hingga kuartal III 2014. (bani)

BERITA TERKAIT

PJAA Siap Lunasi Obligasi Jatuh Tempo

NERACA Jakarta - Emiten pariwisata, PT Pembangunan Jaya Ancol Tbk (PJAA) memiliki tenggat obligasi jatuh tempo senilai Rp350 miliar. Perseroan…

Genjot Pertumbuhan DPK, BTN Siap Kelola Dana IKAL

Pacu pertumbuhan dana pihak ketiga (DPK), PT Bank Tabungan Negara (Persero) Tbk terus perluas kerjasama dengan berbagai instansi. Teranyar, perseroan…

Pemerintah Serap Rp10,8 Triliun dari Lelang SUN

    NERACA   Jakarta - Pemerintah menyerap dana Rp10,8 triliun dari lelang tujuh seri surat utang negara (SUN) untuk…

BERITA LAINNYA DI BURSA SAHAM

Pefindo Raih Mandat Obligasi Rp 52,675 Triliun

Pasar obligasi pasca pilpres masih marak. Pasalnya, PT Pemeringkat Efek Indonesia atau Pefindo mencatat sebanyak 47 emiten mengajukan mandat pemeringkatan…

GEMA Kantungi Kontrak Rp 475 Miliar

Hingga April 2019, PT Gema Grahasarana Tbk (GEMA) berhasil mengantongi kontrak senilai Rp475 miliar. Sekretaris Perusahaan Gema Grahasarana, Ferlina Sutandi…

PJAA Siap Lunasi Obligasi Jatuh Tempo

NERACA Jakarta - Emiten pariwisata, PT Pembangunan Jaya Ancol Tbk (PJAA) memiliki tenggat obligasi jatuh tempo senilai Rp350 miliar. Perseroan…