Impack Pratama Lepas 40% Saham Ke Publik

Senin, 24/11/2014

NERACA

Jakarta - Jelang akhir tahun, jumlah penawaran saham perdana ke publik/initial public offering (IPO) bertambah. Satu lagi perusahaan yang berniat IPO yaitu PT Impack Pratama Industri Tbk, perusahaan bergerak di produsen dan distributor bahan bangunan, dan barang plastik.

Dalam siaran persnya di Jakarta, kemarin, perseroan berencana lepas saham sebanyak-banyaknya 193,35 juta saham dengan nilai nominal Rp 100. Jumlah itu 40% dari modal ditempatkan dan disetor penuh setelah IPO. Dimana saham yang dilepas itu terdiri dari saham simpanan portepel perseroan sebanyak-banyaknya 48,35 juta saham baru dan pemegang saham lama yaitu PT Harimas Tunggal Perkasa, PT Tunggal Jaya Investama dan Haryanto Tjiptodiharjo sebesar 145 juta saham.

Rencananya, dana hasil IPO antara lain digunakan untuk pembayaran sebagian pembelian tanah berstatus hak guna bangunan seluas enam hektar di Delta Silicon VIII, Lippo Cikarang dan sisanya modal kerja perseroan. Untuk melakukan IPO, perseroan telah menunjuk PT Ciptadana Securities sebagai penjamin pelaksana emisi efek. Sebelum IPO ini, pemegang saham perseroan antara lain PT Harimas Tunggal Perkasa sebesar 48,85 persen, PT Tunggal Investama Jaya sebesar 48,85 persen, dan Haryanto Tjiptodiharjo sebesar 2,3 persen.

Jadwal IPO antara lain masa penawaran awal pada 21 November-1 Desember 2014, pernyataan efektif dari Otoritas Jasa Keuangan (OJK) pada 8 Desember 2014, dan masa penawaran umum pada 10-11 Desember 2014. Sedangkan masa penjatahan pada 15 Desember 2014, pengembalian uang pemesanan dan distribusi saham secara elektronik pada 16 Desember 2014, dan pencatatan saham di Bursa Efek Indonesia (BEI) pada 17 Desember 2014.

Sebegai informasi, tahun ini target 30 calon emiten BEI dipastikan tidak tercapai dan hal ini menjadi tantangan bagi industri pasar modal kedepan. Pasalnya, besarnya potensi pasar modal dalam negeri belum didukung dengan peningkatan jumlah investor lokal, produk investasi dan termasuk jumlah perusahaan yang listing di pasar modal.

Bila di bandingkan di China dengan bursa Shanghainya, jumlah emiten Indonesia yang saat ini terdapat 500-an emiten, masin tertinggal jauh dibandingkan dengan jumlah emiten di bursa Shanghai telah mencapai 900-an. Bahkan disana, perusahaan BUMN harus ngantri untuk bisa mencatatkan saham di bursa Shanghai. Bahkan, tahun depan ada sebanyak 300 BUMN yang waiting list atau masuk daftar tunggu untuk masuk bursa. “Di 2015 ada 500 perusahaan yang waiting list masuk bursa Shanghai. 300 di antaranya merupakan BUMN,”kata Ketua Asosiasi Analis Efek Indonesia (AAEI) Haryajid Ramelan. (bani)