Momen Kenaikan Harga BBM Dinilai Tak Tepat

Sabtu, 22/11/2014

NERACA

Sejak pemerintahan Jokowi-JK resmi menaikkan harga, reaksi atas kenaikan BBM ini pun bermacam, ada demo mahasiswa, kritik dari tokoh-tokoh politik. Beragam komentar miring seputar kenaikan BBM pun terus berdatangan. Isu ini terus men-jadi trending topik di twitter dengan tag#salamgigitjari. Tak hanya itu, paranetizenjuga membuat dan menyebarkan gambarmemelucu tentang kenaikan Premium dan solar bersubsidi ini.

Bukan sekali atau dua kali rakyat Indonesia menerima kebijakan kenaikan harga BBM. Hampir di setiap rezim pemerintahan, rakyat selalu dihadapkan pada kebijakan kenaikan harga BBM. Dari tujuh orang presiden RI, hanya Habibie yang tidak pernah menaikkan harga BBM.

Dalam sejarah RI, ini pertama kalinya harga BBM naik disaat harga minyak dunia turun. Harga minyak dunia saat ini turun hingga USD 77,52 per barel, harga tersebut merupakan harga terendah dalam kurun 4 tahun terakhir.

Padahal dengan kondisi itu, beberapa pengamat ekonomi menilai seharusnya pemerintah bisa lebih memperbesar ruang fiskal untuk digunakan pada sektor lain. Namun, di umur pemerintahannya yang belum genap satu bulan berjalan ini, Pemerintahan Jokowi – JK tetap bersikeras menaikkan harga.

Mengapa? Harga minyak mentah di pasar internasional selalu meningkat. Sebabnya karena minyak mentah adalah fosil yang tidak terbarui (not renewable). Setiap kali minyak mentah diangkat ke permukaan bumi, persediaan minyak di dalam perut bumi berkurang.

Pemakaian (konsumsi) minyak bumi sebagai bahan baku BBM meningkat terus, sehingga permintaan yang meningkat terus berlangsung bersamaan dengan berkurangnya cadangan minyak di dalam perut bumi. Hal ini membuat bahwa permintaan senantiasa meningkat sedangkan berbarengan dengan itu, penawarannya senantiasa menyusut

Ya, tidak seperti komoditas yang bisa dibudidaya atau dikembangkan, minyak tidak bisa dicipta sehingga secara teori ekonomi dimana harga barang akan pasti naik karena permintaan meningkat sementara persediaan terbatas.

Tertinggi di Asia Tenggara

Jika dibandingakan dengan Malaysia harga BBM bersubsidi bensin premium (Rp8500) di Indonesia lebih mahal dari pada bensin di Malaysia yang memiliki RON 95 dengan harga 2,30 ringgit (sekitar Rp 8.400). Dengan demikian praktis harga BBM di indonesia lebih mahal di banding dengan malaysia padahal bensin premiun di Indonesia memiliki RON 88.

Namun untuk harga solar relatif lebih murah. Sementara jika dibandingkan dengan negara ASEAN lain seperti Thailand dan Singapura harga BBM di Indonesia lebih murah. Di Singapura misalnya, bensin dengan RON 95 dibanderol dengan harga Rp 19,643,- perliternya, lebih mahal dari Pertamax Plus di Indonesia.

Terkait kenaikan BBM, beberapa pihak menuding kondisi saat ini tidak bisa dilepaskan dari kebijakan era pemerintahan Susilo Bambang Yudhoyono (SBY). SBY dinilai gagal dalam melakukan tata kelola minyak dan gas (migas).

Selama dua periode kepemimpinannya, Presiden SBY tercatat tiga kali menaikkan harga BBM dan tiga kali pula menurunkan harga bensin. SBY menaikkan harga BBM menjadi Rp 2.400 per liter pada Maret 2005. Harga BBM kembali naik menjadi Rp 4.500 per liter pada Oktober 2005. SBY kembali menaikkan harga BBM menjadi Rp 6.000 per liter pada 23 Mei 2008.

Di penghujung 2008 atau menjelang Pemilu 2009, SBY menurunkan harga BBM menjadi Rp 5.500 per liter. Harga BBM kembali turun menjadi Rp 5.000 per liter pada 15 Desember 2008. SBY kembali menurunkan harga BBM menjadi Rp 4.500 per liter pada 15 Januari 2009. Setahun jelang lengser, pemerintahan SBY kembali menaikkan harga BBM menjadi Rp 6.500 per liter.