Pasar Keuangan Indonesia Masih Terhambat

Surabaya, Jawa Timur

Kamis, 20/11/2014

NERACA

Surabaya -Ekonom Standard Chartered Bank Indonesia, Alexander Eric Sugandi, memprediksi kondisi pasar keuangan Indonesia hingga tahun depan masih mengalami banyak hambatan dan akan berdampak pada pelemahan nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS)."Salah satu faktor yang cukup dominan adalah kekhawatiran kenaikan suku bunga yang akan diberlakukan oleh Amerika yang lebih cepat dibanding ekspektasi pasar," katanya, di Surabaya, Jawa Timur, Rabu (19/11).

Menurut dia, pergerakan nilai tukar rupiah terhadap dolar AS diperkirakan masih akan mencapai di posisi Rp12 ribu per dolar AS sampai pertengahan tahun depan."Sementara pada tahun 2009-2010, banyak uang dari negara maju yang mengalir dan masuk ke 'emerging market' seperti Indonesia karena negara-negara maju tersebut mengalami krisis," ujarnya.

Kalau saat ini, jelas dia, kondisi perekonomian Amerika sudah mulai pulih. Dengan begitu ada kekhawatiran pasar Amerika akan segera menaikkan suku bunganya. Apalagi suntikan dana dari Bank Central Amerika Serikat (The Fed) juga sudah mulai dikurangi dan berakhir di November 2014.

"Hal itu akan menjadi tekanan, tidak hanya kepada rupiah tetapi juga kepada 'emerging market' yang lain," tambah Eric.Selain itu, kata dia, faktor lain yang ikut menekan nilai tukar rupiah adalah defisit transaksi berjalan Indonesia. Apalagi kebijakan Bank Indonesia tidak sangat ketat untuk mempertahankan nilai tukar rupiah di level tertentu.

"Gaya Gubernur Bank Indonesia saat ini (Agus Martowardojo) sangat berbeda dengan sebelumnya (Darmin Nasution). Dia (Agus Marto) masih bisa mentolelir pelemahan rupiah selama masih berjalan pada fundamental," kata Eric.Penyebabnya, sebut dia, dengan pelemahan rupiah maka impor akan melambat karena biaya impor semakin tinggi. Bahkan, kondisi itu juga mengakibatkan ekspor akan lebih kompetitif khususnya untuk impor nonmigas. [ardi/ant]