BBM Naik Berikan Pengaruh Plus Dan Minus

Perdagangan Saham di BEI

Kamis, 20/11/2014

NERACA

Semarang - Pasca pemerintah memutuskan menaikkan harga bahan bakar minyak (BBM) bersubsidi, langsung direspon positif pelaku pasar modal dengan ditandai melesatnya pergerakan indeks harga saham gabungan (IHSG) Selasa (18/11) kemarin, hingga menembus level 5.000,”Artinya ditengah penolakan kenaikan BBM, rupanya ada yang merespon positif dari investor pasar modal dengan terkerek naiknya harga saham di papan perdagangan,”kata Kepala Pusat Informasi Pasar Modal (PIPM) Semarang, Stephanus Cahyanto Kristiadi di Semarang, kemarin.

Kendatipun demikian, dirinya tidak menafikan, imbas kenaikan harga BBM sedikit banyak akan memengaruhi ongkos produksi industri. Selain itu, dalam jangka pendek akan berpengaruh pada penurunan besaran laba perusahaan. Hal inilah yang selanjutnya berdampak pada pasar saham.

Beberapa sektor saham yang berpotensi mengalami penurunan transaksi dalam waktu yang relatif cukup lama, yaitu properti, manufaktur, dan perbankan,”Penurunan ini terjadi karena masyarakat masih menunggu kondisi benar-benar pasti salah satunya terkait dengan harga jual,”ujarnya.

Selain itu, lanjut dia, untuk bertransaksi melalui perbankan mereka juga masih menunggu kepastian suku bunga. Diakuinya, kondisi tersebut biasa terjadi pada kenaikan harga BBM pada tahun-tahun sebelumnya. Kenaikan harga BBM juga akan berpengaruh terhadap penurunan daya beli di kalangan masyarakat,”Penurunan daya beli di kalangan masyarakat ini yang berpengaruh terhadap pergerakan saham. Kalau dampak secara ekonomi, yaitu terjadinya inflasi," jelasnya.

Penurunan daya beli tersebut akan sangat terasa di kalangan masyarakat level menengah ke bawah. Penghasilan mereka tidak terlalu besar, tetapi terpaksa harus membeli kebutuhan hidup dengan harga lebih tinggi dibandingkan biasanya.

Meski demikian, kondisi tersebut tidak akan berlangsung lama, seiring dengan waktu mereka akan makin terbiasa menghadapi penyesuaian harga barang-barang sebagai dampak dari kenaikan harga BBM tersebut,”Selanjutnya daya beli masyarakat akan kembali meningkat seperti sediakala, kondisi ini biasa terjadi pada tahun-tahun sebelumnya. Kondisi akan kembali seperti semula sekitar 3--4 bulan lagi, selanjutnya pasar saham juga akan normal kembali,”tegasnya.

Sebelumnya, Direktur Pengembangan Perusahaan Bursa Efek Indonesia (BEI), Frederica Widyasari Dewi mengakui, kenaikan harga BBM Rp2.000 per liter untuk premium dan solar menimbulkan sentimen positif bagi pergerakan IHSG,”Saya yakin akan positif. Sekarang diarahkan ke lebih yang bisa didorong untuk meningkatkan indeks kita," ujarnya.

Dia menjelaskan, indeks bergerak positif pada perdagangan Selasa dan bahkan pertumbuhannya bisa lebih membaik sampai akhir tahun ini. Menurutnya, saat ini pasar melihat realisasi dari kenaikan BBM, apakah dana subsidi BBM itu bisa dialihkan ke sektor infrastruktur. Ketika itu dijalankan maka akan terlihat dampaknya langsung di pasar saham dan keuangan Indonesia.

Oleh karena itu, lanjut dia, pemerintah harus bisa mengerjakan masalah keuangan, listrik dan daya saing dalam negeri harus bisa lebih ditingkatkan,”Kita lihat market bagus, kalau pemerintah mengerjakan dengan baik, maka market juga akan bagus. Masalah keuangan, listrik dan daya saing kita," tegasnya. (ant/bani)