UNTR Realisasikan Capex US$ 225 Juta

Rabu, 19/11/2014

NERACA

Bogor - PT United Tractors Tbk (UNTR) menyatakan bahwa hingga saat ini perseroan telah merealisasikan dana belanja modal ataucapital expenditure(capex) sebesar US$ 225 juta atau sekitar 75% dari total anggaran dana sepanjang tahun ini yang sebesar US$ 300 juta,”Capex kami tahun ini US$ 300 juta. Realisasinya sesuai target, sekitar tiga perempat sudah terpakai,”kata Sekretaris Perusahaan PT United Tractors Tbk, Sara K Loebis di Bogor, Jawa Barat, Selasa (18/11).

Menurut Sara, capex perseroan sebesar US$ 250 juta dialokasikan untuk anak usaha perseroan, yakni PT Pamapersada Nusantara (PAMA).Sebagian besar capex itu untuk PAMA dan sisanya alat berat. Lebih lanjut, Sara menyebutkan dana capex seluruhnya dianggarkan perseroan dari dana kas internal.

Tercatat, hingga kuartal III-2014 perseroan berhasil untuk membukukan pendapatan sebesar Rp 40,81 miliar dari Rp 37,30 miliar pada periode yang sama tahun sebelumnya. Laba bersih sebesar Rp 4,77 triliun atau meningkat 41,12% bila dibandingkan dengan laba bersih pada kuartal III 2013 sebesar Rp 3,38 triliun.

Sedangkan, beban pokok UNTR hanya mengalami kenaikan dari Rp 30,51 triliun menjadi Rp 32,18 triliun. Beban usaha dan lainnya UNTR mengalami penurunan dari Rp 2,25 triliun menjadi Rp 2,14 triliun. Asal tahu saja, belum pulihnya harga batu bara seiring anjloknya harga komoditas dunia, memberikan imbas yang berarti terhadap bisnis penjuaan alat berat. Kondisi inilah yang dirasakan PT United Tractors Tbk yang harus merevisi target penjualan tahun ini.

Wakil Presiden PT United Tractors Tbk, Gidion Hasan menyatakan, melemahnya harga komoditas batu bara menghantam kinerja perseroan. Hal ini menyebabkan turunnya jumlah target penjualan alat berat yang sebelumnya ditargetkan 4.200, menjadi 4.000 sampai akhir tahun 2014,”Sektor pertambangan biasa menyumbang pendapatan 60-70% sekarang 35%,”katanya.

Tahun ini menjadi tantangan bagi PT United Tractor Tbk, lantaran proyeksi permintaan dari sektor pertambangan dan harga komoditas yang terus bergejolak. Selain harga komoditas, penurunan permintaan alat berat di sektor pertambangan juga di akibatkan dari pemberlakuan bea keluar ekspor barang mineral non olahan sesuai Undang-Undang Nomor 4 Tahun 2009 tentang Mineral dan Batu Bara. Aturan tersebut melarang ekspor barang mineral non olahan pada 2014 sehingga mempengaruhi industri alat berat nasional.

Bahkan menurut Himpunan Alat Berat Indonesia, hingga akhir tahun ini produksi alat berat nasional diperkirakan mencapai 8.000 unit atau 75%. Dimana angka ini menurun dari target awal tahun sebesar 10.000 unit. Merespon kondisi tersebut, United Tractor lebih memilih angka konservatif dan termasuk penurunan angka belanja modal atau capital expenditure tahun ini dibandingkan tahun lalu.

Sementara Presiden Direktur UNTR Djoko Pranoto pernah bilang, perusahaan memang telah memperkirakan permintaan alat berat nasional di tahun ini akan stagnan sebanyak 10.500 unit. Oleh karena itu, fokus perseroan di tahun ini akan lebih kepada peningkatan pangsa pasar (market share) bukan memacu volume penjualan.,“Ditagetkan market share bisa mencapai 43% di 2014, lebih tinggi dari tahun lalu yang 41%," ucapnya.

Bahkan ,enyadari prospek bisnis batu bara tidak sejaya dahulu lantaran kondisi pasar yang belum mendukung, langsung disikapi perusahaan untuk melakukan diversifikasi usaha ke sektor konstruksi dengan ditandai rencana pembelian saham PT Acset Indonusa Tbk (ACST) sekitar 250, 50 juta saham. Disebutkan, perseroan akan membeli saham PT Acset Indonusa Tbk yang bergerak di jasa konstruksi yaitu dari PT Loka Cipta Kreasi dan PT Cross Plus Indonesia. Manajemen perseroan menyatakan, tujuan pengambilalihan saham ini sebagai bentuk diversifikasi bisnis dan ekspansi usaha UNTR untuk mendukung kegiatan usaha perseroan. (sahlan)