Produksi Kopi Luwak Cipanas Menggairahkan

NERACA

Cianjur - Kopi luwak yang konon merupakan kopi termahal di dunia dan pertama kali diproduksi di Indonesia, kini bisa ditemui di wilayah Cipanas Kabupaten Cianjur. Namun produksi kopi Luwak di daerah Cipanas Cianjur tersebut masih terbatas dan realtif baru.

Meskipun demikian, kehadiran perlaku usaha kopi Luwak tersebut perlu jadi perhatian pihak Pemerintah Daerah Cianjur. Sebab tidak menutup kemungkinan, produksi kopi Luwak Cipanas Kabupaten Cianjur tersebut menjadi ikon usaha baru yang memberi kontribusi kepada daerah.

Budianto (42) salah seorang pawang musang penghasil kopi luwak menuturkan, menjadi pawang musang atau penghasil kopi luwak sudah dilakoni sejak 2 tahun lalu. Dimana, ketika itu secara tidak sengaja menangkap seekor musang lantas dipeliharanya.

“Awalnya saya hanya punya 1 ekor. Setelah mengetahui kegunaannya yang dapat memproduksi kopi, akhirnya saya mulai menambah peliharaan saya hingga 10 ekor, “ katanya.

Diakuinya, dari 10 ekor musang, hanya dapat dihasilkan 2 kg kopi luwak dari 14 kg kopi (Sebelum di makan musang) dengan kondisi masih kotor. Setelah itu, kopi luwak yang dihasilkan dari kotoran musang dijemur rata-rata 4 hari supaya betul-betul kering. Setelah itu, lantas dikupas, dicuci hingga bersih, kemudian di sangrai selama 2 jam dengan menggunakan kayu bakar. Lalu ditumbuk hingga rata.

Dikatakannya, selain masih dipasarkan secara door to door di wilayah Cipanas dan sekitarnya, kekurangan bahan baku seperti kopi arabika dan jenis lainnya menjadi salahsatu faktor masih berkurangnya produksi kopi luwak.

“Adapun harganya, kopi luwak peternakan bisa dihargai Rp1 juta per kilogram. Sedangkan kopi luwak liar bisa dihargai sampai Rp 2 juta per kilogram, “ paparnya.

Menurut dia, kopi luwak kalau diminum rasanya beda dari kopi biasanya dan hangat saat di tubuh. Sedangkan khasiatnya, mampu mengobati mag kronis, diare (Berak darah), asma, bahkan darah tinggi.

Sementara itu, Ketua LSM Jerami (Jaringan Ekonomi Rakyat Mandiri) Cianjur, Sugianto mengatakan, usaha yang tengah dilakukan Budianto memproduksi kopi Luwak perlu terus dijaga dan dibantu oleh pemerintah daerah. Diberi pembinaan yang intensif agar produksi kopi Luwak Budianto itu mampu bersaing dengan kopi serupa dari beberapa daerah di Indonesia.

Menurut Sugianto, kehadiran usaha kopi Luwak di Cipanas akan menjadi spirit baru bagi pemerintah Kabupaten Cianjur untuk kembali menyemarakan kota Cipanas yang berada di Kawasan Puncak Cianjur. Seperti diketahui, kawasan Puncak Cianjur sejak adanya tol Padaleunyi mengalami penurunan pengunjung yang secara tidak langsung mempengaruhi perputaran ekonomi di daerah tersebut.

“Jadi kehadiran Budianto dengan produksi Kopi Luwaknya itu, harus didorong agar menjadi lebih besar lagi. Saya bahkan memprediksi, mulai dari Budianto itu kawasan Puncak Cianjur bisa semarak seperti sepuluh tahun lalu,” papar Suginto.

BERITA TERKAIT

Ditopang Produksi Anak Usaha - HRUM Targetkan Produksi 5 Juta Ton Batu Bara

NERACA Jakarta – Mengulang kesuksesan di tahun kemarin, PT Harum Energy Tbk (HRUM) menargetkan produksi batu bara sebesar 5 juta…

Targetkan Produksi 400 Ribu Ton - BOSS Anggarkan Belanja Modal US$ 10 Juta

NERACA Jakarta – Danai operasional kinerja perusahaan guna memacu produksi tambang batu bara tumbuh lebih agrsif lagi, PT Borneo Olah…

Agrowisata Kebun Kopi di Kawasan Bukit Kaba

Provinsi Bengkulu tengah melengkapi 'koleksi' objek wisatanya, khususnya dalam ranah wisata alam. Provinsi yang terletak di bagian barat daya pulau…

BERITA LAINNYA DI EKONOMI DAERAH

Wagub Jabar: Pembentukan DOB Tidak Bisa Ditawar Lagi

Wagub Jabar: Pembentukan DOB Tidak Bisa Ditawar Lagi NERACA Bandung - Wakil Gubernur Jawa Barat (Wagub Jabar) Uu Ruzhanul Ulum…

KPU Kota Sukabumi Lakukan Seleksi Relasi

KPU Kota Sukabumi Lakukan Seleksi Relasi NERACA Sukabumi - Sebanyak 91 orang memenuhi persyaratan administrasi dalam seleksi penerimaan relawan demokrasi…

Nilai Ekspor Banten November 2018 Turun 3,42 Persen

Nilai Ekspor Banten November 2018 Turun 3,42 Persen NERACA Serang - Nilai ekspor Banten turun 3,42 persen pada November 2018…