Menperin: dari Tenun Ikat, Pabrik Gula, hingga Industri Garam

Potensi Pengembangan Industri di Pulau Rote

Senin, 17/11/2014

NERACA

Rote Ndao – Menteri Perindustrian Saleh Husin pulang ke kampung halamannya di Pulau Rote, Kabupaten Rote Ndao, Provinsi Nusa Tenggara Timur, akhir pekan lalu. Kecuali melepas kangen bareng keluarga besarnya, menteri kebanggaan masyarakat Rote ini juga mengaku akan mengembangkan sejumlah potensi industri di kepulauan paling selatan Indonesia yang berbatasan langsung dengan Australia tersebut.

Kepada sejumlah awak media, Menteri Saleh Husin menjelaskan, potensi di Kabupaten Rote Ndao sangat luar biasa untuk dikembangkan. Menurut Menperin, industri kecil berupa tenun ikat yang sudah lama menggeliat di tengah masyarakat dan menjadi ciri khas daerah tersebut masih sangat potensial untuk dikembangkan.

“Termasuk juga adalah bagaimana kita meningkatkan potensi tenun ikat di sini. Kalau dulu masih secara alami, maka akan diberikan pelatihan-pelatihan. Setelah itu untuk mesin diberikan sehingga ada tambahan dari yang diproduksi selama ini,” ujar Menteri Saleh usai bertemu dan berdialog dengan jajaran pemerintah daerah dan masyarakat di kompleks perkantoran Kabupaten Rote Ndao, Jumat (14/11).

Pelatihan pengembangan Industri Kecil dan Menengah (IKM) di Rote Ndao, lanjut Menteri Perindustrian, juga dilakukan dengan cara mengirim sumber daya manusia untuk belajar ke Pulau Jawa. IKM tenun ikat, lanjut Saleh Husin, adalah bidang usaha yang sudah di depan mata untuk dikembangkan. “Yang di depan mata adalah tenun ikat untuk dikembangkan,” tegasnya.

Itu sebabnya, Kementerian Perindustrian langsung memberikan bantuan mesin produksi untuk kelompok tenun ikat. “Itu saja dulu. Daripada terlalu besar tapi tidak jalan, lebih baik yang pasti-pasti. Saya kira pak Bupati akan cepat merespons bagaimana agar pertumbuhan industri, terutama industri kecil yang ada di Rote Ndao lebih meningkat. Itu didahulukan. Saya kira teman-teman investor sudah sangat siap,” tandas Menteri Saleh di samping Bupate Rote Ndao.

Kendati demikian, Menteri Saleh tentu ingin mengembangkan industri skala besar selain tenun ikat dan industri kecil lainnya. Dia memastikan banyak investor tertarik membangun pabrik gula di Rote. Potensi untuk kebun tebu sangat luas, namun minimal untuk satu pabrik butuh 10 ribu hektar. Atau paling tidak 8 ribu hektar. Karena itu, dia secara khusus meminta kepada bupati setempat untuk menyediakan lahan buat investor agar ke depan Rote punya pabrik gula.

“Kami meminta Pak Bupati untuk lahan tebu dan membangun pabrik gula. Pengusaha sudah siap. Lahan untuk pabrik gula minimal 8.000 hektar. Itu baru bangun satu pabrik gula. Di Rote ini bisa untuk tebu dan pabrik gula. Paling tidak dapat menghasilkan sesuatu, meski memakan waktu beberapa tahun,” papar Menperin.

Terkait infrastruktur, Saleh Husin menyebut, sarana dan prasarana pengembangan ekonomi di Rote seperti jalan nasional sudah bagus. Meskipun jalan kabupaten masih perlu dibenahi dan masih butuh waktu yang tidak sebentar. “Membuat kebun tebu tentu tidak satu atau dua bulan, tetapi hitungan tahun. Sehingga nanti ketika sudah bisa berproduksi kebunnya, minimal 8.000 hektar, maka tentu dengan sendirinya pabrik gula akan beroperasi. Kalau pabrik gula beroperasi, tentu investasinya tidak akan kecil,” bebernya.

Di samping merencanakan pengembangan industri gula, Menperin yakin Pulau Rote menyimpan potensi pembangunan industri garam, baik garam konsumsi beryodium ataupun lebih khusus garam untuk kebutuhan industri. “Kita tahun bahwa selama ini kan garam industri itu diimpor dari Australia. Sementara kita kan bertetangga dengan Australia. Kita kan bertetangga dengan Australia. Paling tidak alamnya mirip-mirip. Panasnya, kadar air lautnya, paling tidak dekat. Sehingga saya kira paling tidak secara teknis mirip dengan Australia,” imbuhnya.

Kecuali tenun ikat, gula, dan garam, sektor perikanan pun mendapat perhatian serius dari Menperin. “Terkait dengan perikanan di Rote Ndao saya kira akan kita rapatkan dengan Kementerian Perikanan. Saya kira Ibu Menteri (Menteri Kelautan dan Perikanan Susi Pudjiastuti) begitu aktif dan begitu gesit meningkatkan produksi dari penangkapan ikan,” terangnya.

Apalagi, sambung Menperin, salah satu yang diamanatkan Presiden Joko Widodo kepada para menteri adalah bagaimana meningkatkan pertumbuhan ekonomi. “Kalau di kami adalah meningkatkan industri yang tidak hanya bahan mentah, tapi industri turunan. Kita harus melakukan hilirisasi industri, termasuk juga hilirisasi industri sehingga ada nilai tambah dari potensi yang ada di sini sehingga tenaga kerja akan terserap,” tuturnya.

Di tempat yang sama, Bupati Rote Ndao Lens Haning mengaku siap mendukung penuh pengembangan industri di daerahnya. Pengembangan industri kecil tenun ikat, sebagaimana disampaikan Menperin, menjadi prioritas untuk dikembangkan. Termasuk juga untuk industri gula, garam, perikanan akan dia bantu sepenuhnya, utamanya terkait perizinan. “Saya dukung penuh. Soal perizinan, selama saya jadi bupati, perizinan nol rupiah. Jasa baru bayar,” tegas Bupati Lens Haning.