Electronic City Tingkatkan Purna Jual

Genjot Kinerja Keuangan

Senin, 17/11/2014

NERACA

Jakarta – Diusianya yang ke-13, PT Electronic City Indonesia Tbk (ECII) terus melakukan perubahan menjadi lebih baik guna memberikan benefit baik itu bagi perseroan dan juga para pemegang saham. Salah satunya yang dilakukan perseroan, adalah meningkatkan layanan purna jual.

Kata Commercial and Investor Relations Director Electronic City, Fery Wiraatmadja, saat ini selain memiliki 66 toko di seluruh Indonesia, perseroan akan meningkatkan layanan purna jualnya. Dalam siaran persnya di Jakarta, kemarin, perseroan akan melakukan inovasi baru untuk melengkapi layanan purna jual yang mengacu kepada komitmen perusahaan yang berorientasi pada peningkatan kepuasan pelanggan.

Disebutkan, Electronic City telah menambah layanan purna jual yang bersifat premium dari layanan yang telah ada sebelumnya yaitu EC Express, EC 24-hour Repair dan EC Service Contract,”Sebagai tahap awal, ketiga layanan purna jual baru ini baru dapat dinikmati oleh para pelanggan yang berada di wilayah Jabodetabek, Serang dan Cilegon," ungkap Fery.

Selain itu, dia menilai e-commerce dan jejaring sosial pun mulai akan digencarkan ECII. Selain aktivitas harian online yang biasa dilakukan di Twitter dan Facebook, ECII mengajak pelanggan mengikuti Wishlist dan games Zombie Escape dalam plat form online,”Layanan purna jual baru, program Wishlist dan games Zombie Escape memberikan hal positif,”tandasnya.

Pada kuartal tiga tahun ini, PT Electronic City Indonesia Tbk membukukan penurunan laba bersih 2,2% atau menjadi Rp 93,5 miliar dibandingkan priode yang sama tahun lalu berhasil membukukan laba bersih Rp 95,6 miliar. Perseroan menjelaskan, penurunan laba bersih disebabkan meningkatnya biaya operasional dari toko-toko yang baru dibuka pada tahun 2013 dan 2014 yang terpengaruh oleh melemahnya kondisi pasar.

Meskipun demikian, PT Electronic City Indonesia Tbk masih mencatatkan pertumbuhan pendapatan 12,07% atau sebesar Rp1,52 miliar, dibanding periode yang sama 2013 sebesar Rp 1,36 miliar. Kenaikan pendapatan itu ditopang oleh toko-toko yang sudah beroperasi lebih dari 24 bulan. Kemampuan perseroan dalam menumbuhkan angka top-line merupakan manifestasi dari keberhasilannya dalam meraih pangsa pasar, terutama bila dilihat dari latar belakang melemahnya kondisi pasar saat ini.

Hal ini dapat dilihat dari penurunan permintaan pasar, tidak termasuk ponsel dan gadget.

Sementara itu, "Same Store Revenue Growth" (SSRG) tercatat sebesar 5,2% per bulan September 2014, atau mengalami perlambatan bila dibandingkan dengan periode yang sama pada tahun 2013. Keadaan itu merupakan refleksi dari kondisi makroekonomi secara general di Indonesia sebagai akibat dari melemahnya nilai tukar mata uang rupiah yang menyebabkan adanya penurunan daya beli konsumen.

Bahkan, adanya penguatan pasar yang diperkirakan sebelumnya yang dikaitkan dengan pemilihan presiden pada tahun pemilu tidak terwujud. Selain itu, perseroan juga mencatatkan laba kotor sebesar Rp293,7 miliar dengan margin laba kotor yang bertahan 19,3%. Hal ini mengindikasikan kemampuan perseroan dalam memaksimalkan trading terms dari supplier. (bani)