Garuda Pesimis Bisa Tutupi Rugi

Senin, 17/11/2014

NERACA

Jakarta – Menjelang akhir tahun tinggal, performance kinerja keuangan PT Garuda Indonesia Tbk masih merugi, dalih menambah armada baru bukannya untung malah buntung. Tak ayal, Direktur Utama PT Garuda Indonesia (Persero) Tbk Emisyah Satar pesimistis bisa menutupi kerugian pada akhir 2014 yang membengkak pada kuartal III-2014,”Masih negatif, enggak mungkin satu kuartal 'recover' (menutupi) 'loss' (kerugian) di tiga kuartal,”ujarnya di Jakarta, kemarin.

Namun, Emirsyah masih berharap kerugian akan terus tertutupi secara perlahan hingga tutup buku nanti. Menurut laporan keuangan kuartal III 2014, Garuda mengalami kerugian sebesar US$ 204,65 juta yang setara Rp2,49 triliun atau membengkak 528,14% dibandingkan jumlah kerugian periode yang sama pada 2013 sebesar US$ 32,58 juta atau Rp397,49 miliar.

Namun, dia mengatakan kerugian pada Juli sebesar US$ 42,4 juta dan keuntungan yang hanya US$ 0,4 juta tertolong pada September yang berhasil membukukan keuntungan US$ 22,1 juta. Perseroan menjelaskan, peningkatan kerugian akibat meroketnya biaya operasonal serta depresiasi nilai tukar rupiah terhadap dolar AS yang mencapai lebih dari 20%.

Kata Emirsyah Satar, melambatnya pertumbuhan ekonomi global berpengaruh pada penurunan permintaan untuk rute-rute internasional dan penurunan kinerja Garuda maupun sejumlah maskapai penerbangan internasional lain, khususnya di kawasan Asia Pasifik yang pasarnya memang semakin kompetitif.

Selain itu, lanjut dia, masih tingginya harga bahan bakar juga ikut menekan laba mengingat biaya bahan bakar merupakan salah satu komponen biaya operasional terbesar, yaitu mencapai 40%. Dia menambahkan, tertekannya kinerja perusahaan juga dipengaruhi oleh langkah investasi dalam pengembangan armada dan Citilink selama periode dua tahun terakhir.

Namun, Garuda membukukan pendapatan operasi sebesar US$ 2.801,7 juta atau tumbuh 4,3% dibanding periode yang sama 2013,”Garuda juga akan mengurangi kapasitas sementara ini melalui penghentian operasional pesawat tua yang boros bahan bakar dan menunda kedatangan pesawat yang dipesan,”ungkapnya.

Dirinya menegaskan, perseroan akan meningkatkan kegiatan penjualan secara agresif, khususnya penumpang corporate, bisnis dan wisata, serta mengurangi belanja modal tahun 2014 hingga US$ 54 juta. Kendati kinerja keuangan maskapai penerbangan pelat merah ini masih kurang bagus, namun aset perseroan justru mengalami pertumbuhan di akhir September 2014, yakni menjadi US$ 3,16 miliar dari posisi akhir tahun lalu US$ 2,95 miliar.

Adapun untuk ekuitas hingga akhir September 2014 tercatat sebesar US$ 1,04 miliar, atau menurun dibanding akhir 2013 yang tercatat sebesar US$ 1,12 miliar. Kemudian di kuartal tiga, perseroan juga berhasil mengangkut 20,9 juta penumpang atau tumbuh sebesar 15,2% dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya 18,1 juta penumpang. Selain peningkatan penumpang, Garuda juga berhasil meningkatkan muatan kargo yang diangkut pada kuartal II/2014 sebesar 15,4% menjadi 292.888 ton. (bani)