Pemerintah Prediksi Kenaikan Harga Barang Industri Capai 4% - Dampak Kenaikan BBM

NERACA

Jakarta – Pemerintah terus mencari waktu yang tepat untuk menaikkan harga Bahan Bakar Minyak (BBM) bersubsidi. Yang jelas, pemerintah menyatakan untuk menaikkan harga BBM sebelum masuk tahun 2015. Maka dari itu, Menteri Perindustrian Saleh Husin memperkirakan dampak kenaikan harga BBM akan turut mendorong kenaikan harga barang-barang industri yang diprediksi antara 3-4%.

Saleh menjelaskan bahwa saat ini pemerintah tengah menghitung dan mengkaji dampak yang akan terjadi jika harga BBM bersubsidi jadi dinaikkan. Menurut perkiraan, dampaknya bakal lebih terasa pada sektor logistik atau biaya angkut, namun beberapa produk jadi dari industri manufaktur juga kena dampaknya. “Naiknya sekitar 3%-4%,” katanya di Jakarta, Selasa (11/11).

Menurut Saleh, untuk sektor industri manufaktur, dampak kenaikan BBM bersubsidi tak akan terlalu berpengaruh signifikan. Alasannya karena mayoritas industri sudah menggunakan BBM non subsidi. “Di industri nggak terlalu berpengaruh. Di logistiknya saja,” kata Husin.

Sementara itu, ‎Sekretaris Jenderal Kementerian Perindustrian Ansari Bukhari mengatakan hal senada. Menurutnya kenaikan 46% BBM bersubsidi‎ setara Rp 3.000/liter akan mengerek kenaikan bahan baku produk industri 1,5%, yang juga berimbas pada terkereknya produk industri 3%-4%. “Karena bahan baku itu ada tambahan kenaikan ongkos logistik. Sehingga ke produk akan naik sekitar 3%-4%,” katanya.

Sekretaris Jenderal Gabungan Perusahaan Makanan dan Minuman Indonesia (Gapmmi) Franky Sibarani menghitung: kenaikan harga BBM akan mengerek harga produk industri. Selama ini, biaya energi memberi kontribusi sebesar 10-15% dari biaya produksi.

Selain itu, kenaikan harga BBM bersubsidi juga akan berdampak terhadap biaya distribusi produk sebesar 2%. Tak menjamin harga barang produksi akan tetap, Franky hanya bilang bila kenaikan biaya distribusi cuma 0-2%. "Kami tak akan menaikkan harga jual makanan," kata Franky. Wakil Ketua Umum Kadin Bidang Perdagangan, Distribusi, Logistik dan Pemberdayaan Daerah Natsir Mansur menyebut, efek kenaikan harga BBM membuat kenaikan harga barang hingga 25%.

Sementara itu, Pakar Ekonomi Universitas Sam Ratulangi (Unsrat) Agus T Poputra mengatakan jangan sampai kenaikan Bahan Bakar Minyak (BBM) menimbulkan spekulasi di dunia usaha. “Kenaikan BBM bersubsidi pasti akan mendorong kenaikan harga barang dan sebaiknya tidak menimbulkan spekulasi di dunia usaha,” kata Agus.

Agus mengatakan kenaikan harga BBM bersubsidi sebaiknya tidak menimbulkan spekulasi di dunia usaha sehingga terjadi penimbunan barang oleh penjual. “Jangan sampai muncul spekulan dan pembeli menjadi panik sehingga harga barang naik di atas seharusnya sehingga membebankan masyarakat secara berlebihan,” ujarnya.

Pemerintah juga, katanya, perlu mengamankan distribusi barang agar tidak terjadi kekosongan. Untuk jangka pendek bantuan langsung sementara dapat diberikan maksimum 1 tahun saja sebab kelamaan tidak mendidik. Di samping itu, katanya, penghematan subsidi secepatnya dialihkan untuk pembangunan listrik di luar Jawa agar manufaktur bisa berkembang sehingga menciptakan lapangan kerja. Perluasan lapangan kerja akan meningkatkan pendapatan masyarakat sehingga dapat mengurangi penurunan daya beli yang timbul dari kenaikan harga.

Naik Duluan

Alih-alih membuat harga terkendali, harga sembako pada sejumlah pasar tradisional yang ada di Kabupaten Sumenep, Madura, Jawa Timur, mulai merangkak naik akibat rencana pemerintah menaikkan harga jual bahan bakar minyak bersubsidi. Salah satunya seperti yang terjadi di pasar Anom Baru, Sumenep. “Belum tahu secara pasti kenaikan harga sejumlah komoditas akibat adanya rencana kenaikan harga BBM, tapi kemungkinan besar barang-barang ini naik lantaran musim haji," terang Kepala Dinas Perindustrian dan Perdagangan (Disperindag) Sumenep, Syaiful Bahri.

Selain itu, sambung Syaiful, naiknya harga barang-barang ini karena hasil panen petani kurang maksimal. Sehingga keberadaan cabai menurun di pasaran. "Kami akan pantau terus terkait dengan harga sembako. Apabila sampai bulan depan masih mengalami kenaikan, bisa jadi rencana kenaikan harga BBM berpengaruh pada naiknya harga sembako," kata dia.

Di sana, harga beras jenis Ikan Paus mengalami kenaikan, dari Rp 218 ribu per sak dengan berat 25 kg, kini harganya naik menjadi Rp 220 ribu per sak. Tidak hanya beras yang mengalami kenaikan, komoditas lainnya juga naik. Misal, harga daging sapi. Jika sebelumnya dipatok Rp110 ribu per kilogram (kg), sekarang naik menjadi Rp 120 ribu per kg.

Harga cabai merah juga naik, dari Rp 25 ribu per kg menjadi Rp 38 ribu per kg. Begitu juga dengan harga cabai rawit. Bila sebelumnya harga cabai rawit hanya Rp18 ribu, sekarang naik menjadi Rp28 ribu per kg.

BERITA TERKAIT

Mengukir Harapan Baru: Upaya Serius Pemerintah Membangun Papua

  Oleh : Indah Rahmawati Salam, Mahasiswi IAIN Kendari   Harapan masyarakat Papua untuk menjadi lebih baik, lebih bermartabat, dan…

Marak Korupsi Akibat Tidak Paham Konstitusi - PEMERINTAH DIMINTA BATASI PENERBITAN IUP

Jakarta-Ketua Mahkamah Konstitusi (MK) Arief Hidayat menilai pemahaman masyarakat Indonesia yang kurang terhadap konstitusi menjadi sebab praktik korupsi masih sering…

The Fed akan Lanjutkan Kenaikan Suku Bunga

      NERACA   Jakarta - Beberapa pejabat Bank Sentral AS atau Federal Reserve AS memperkirakan bahwa bank sentral…

BERITA LAINNYA DI INDUSTRI

Meningkatkan Daya Saing SDM Industri Dengan Program Vokasi

NERACA Kediri - Menteri Perindustrian, Airlangga Hartarto mengatakan lemahnya daya saing industri dipengaruhi beberapa faktor. Salah satunya adalah Sumber Daya…

Wilayah Jawa Tengah - KKP Beri Bantuan Alat Tangkap Ramah Lingkungan

NERACA Pekalongan - Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) melalui Direktorat Jenderal Perikanan Tangkap (DJPT) kembali menyalurkan bantuan alat penangkapan ikan…

Korea Nilai Indonesia Mitra Penting di Sektor Industri

NERACA Jakarta – Pemerintah Korea Selatan menyatakan bahwa penguatan kerja sama dengan Indonesia pada saat ini menjadi penting. Salah satu…