Industri Kopi Olahan Perlu Tingkatkan Nilai Tambah

Rabu, 12/11/2014

NERACA

Jakarta – Ketua Gabungan Eksportir Kopi Indonesia (Gaeki) Hutama Sugandi meminta agar pemerintah bisa memberikan perhatian lebih kepada industri kopi untuk dapat meningkatkan nilai tambah di komoditas perkebunan tersebut. Pasalnya selama ini, Indonesia lebih banyak mengekspor kopi dalam keadaan mentah atau masih berbentuk biji kopi.

“Saat ini, sebanyak 70% dari ekspor kopi nasional dalam bentuk green beans atau biji kopi yang belum diolah dan hanya 30% yang diekspor dalam bentuk olahan. Padahal jika yang diekspor dalam bentuk olahan maka hal itu akan memberikan nilai tambah bagi petani dan Negara. Pada tahun ini pun ekspor kopi diperkirakan menyentuh 425.000 ton,” kata Hutama, di Jakarta, Selasa (11/11).

Industri kopi nasional, menurut Hutama, harus dikembangkan dari yang hanya memproduksi kopi dalam green beans menjadi produk olahan. Saat ini, ekspor kopi Indonesia masih kalah dengan Vietnam, dari total ekspor sebanyak 30% produk kopi Indonesia telah berbentuk olahan dan sisanya masih berbentuk biji. “Indonesia harus mulai melakukan pengolahan kopi yang dieskpor guna meningkatkan nilai tambah, dengan hanya dikemas dalam kemasan yang lebih baik lagi itu juga sudah bisa meningkatkan nilai tambah dari kopi,” paparnya.

Untuk mendorong industri pengolahan kopi nasional, lanjut Hutama, langkah yang harus dilakukan adalah teknologi bagi petani agar dapat meracik biji kopi menjadi produk olahan, di sisi lain menciptakan suasana usaha yang kompetitif. “Kami memperkirakan, ekspor kopi tahun depan tidak akan menggembirakan karena adanya fenomena El Nino di sejumlah daerah penghasil kopi di Indonesia,” jelasnya.

Ia memproyeksikan ekspor kopi pada tahun depan hanya 400.000 ton sehingga ada penurunan dari tahun ini yang diprediksi bisa mencapai 425.000 ton. Hutama menambahkan, dari sisi kualitas, kopi mentah asal Indonesia sebenarnya sudah jauh berkualitas dan memiliki daya saing yang tinggi karena cita rasanya, namun ketika diolah justru daya saingnya turun.

Patut diketahui, saat ini Indonesia di plot sebagai pengekspor kopi ke tujuh terbesar di dunia. "Kita ini eksportir ke-7 dunia (kopi) dengan pertumbuhan 10,97%," ungkap Direktur Jenderal Pengembangan Ekspor Nasional (PEN) Kementerian Perdagangan (Kemendag) Nus Nuzulia Ishak. Menurut Nus, saat ini negara eksportir kopi yang terbesar yang pertama diduduki oleh Brazil dengan persentase pertumbuhan 16,67 persen dan yang kedua Vietnam dengan 10,34%. “Terus Jerman dengan 8,25%, Swiss dengan 7,6% serta Kolombia 6,72%. Jadi eksportir terbesar itu. Makanya kita harus waspada," ucapnya.

Sementara itu, pangsa importir kopi dunia tahun 2013 sebesar US$38,28 miliar dengan pertumbuhan impor dari tahun 2009 hingga 2013 sebesar 10,64%. "Negara pengimpor terbesar adalah Amerika Serikat (AS) dengan pangsa pasar sekitar 19,27%, kedua ada Jerman dengan 12,73%, Prancis dengan 8,48%, Italia dengan 5,8% dan Jepang dengan 5,5%. “Jadi 5 importir dunia itu yang harus kita isi,” imbuhnya.

Lanjut Nus mengungkapkan bahwa beberapa waktu mendatang pihaknya akan membawa sekitar 190 pengusaha ke Naning dan salah satu komoditi yang akan dipamerkan adalah kopi. “Yang paling laku kopi kita kopi spesial, ada kopi Java, lalu ada Mandailing, Gayo, Toraja, dan Ijen,” pungkasnya.

Impor Kopi

Saat ini, impor kopi olahan yang disebut kopi instan semakin meningkat. Terutama dari Malaysia dan Vietnam. Harga kopi instan impor tersebut juga terbilang sangat murah. Kualitasnya pun dipertanyakan. Hutama merasa, bahwa kopi impor dengan kualitas yang tidak jelas itu tentu akan sangat merugikan konsumen, yaitu masyarakat Indonesia.

“Yang paling dikhawatirkan kan adalah pengaruhnya terhadap konsumen di dalam negeri. Kedua, program hilirisasi dari pemerintah ini bisa terhambat. Jadi secara langsung mempengaruhi industri dalam negeri. Harganya juga jauh lebih rendah, jadi diragukan kualitasnya,” tutur Sugandhi.

Kopi instan impor yang membanjir di pasaran dengan harga yang murah secara tidak langsung bisa menyebabkan lesunya para investor untuk mengembangkan industri kopi instan nasional. Sehingga kecenderungan memilih kopi instan impor sebagai alternative, lebih mudah menjadi pilihan yang menarik. Apalagi sebagian besar masyarakat Indonesia masih menyukai barang impor.

Untuk menyiasati arus kopi instan impor kualitas rendah, maka GAEKI sudah lama mendorong pemerintah untuk mengeluarkan SNI wajib, yang menggunakan standar internasional. Supaya kopi instan impor dapat tersaring, hanya yang memenuhi standar yang bisa beredar di pasaran. SNI tidak akan menjadi pisau bermata dua yang memberatkan industri kopi nasional, karena industri kopi nasional sudah terstandar semua.

“Industri nasional sudah tidak ada masalah. Kita kan produsen kopi. Ekspornya sudah besar, sudah ratusan tahun. Industri dalam negeri standarnya sudah standar internasional. Justru kopi yang impor ini yang standarnya diragukan. SNI wajib tidak akan berpengaruh pada industri dalam negeri, justru industri dalam negeri akan terlindungi karena standarnya nanti standar internasional,” jelas Sugandhi.