2015, Sektor Perkebunan Raup Untung - Tren Harga CPO Mulai Naik

NERACA

Jakarta – Meskipun akhir tahun ini harga komoditas crude palm oil (CPO) atau hasil kepala sawit diyakini akan stabil dan bahkan mengalami tren kenaikan, namun rencana pemerintah menaikkan harga bahan bakar minyak (BBM) bersubsidi juga memberikan dampak terhadap kinerja perkebunan sawit. Meksipun produksi CPO tidak bergantung kepada BBM, namun distribusi barang akan mempengaruhi cost produksi hingga penjualan, “Kenaikan BBM ada dampaknya, seperti distribusi barang dan karena itu kita masih kaji berapa kenaikan cost produksinya,”kata Sekjen Gabungan Perusahaan Kelapa Sawit Indonesia (Gapki), Joko Supriyono di Jakarta, Kamis (6/11).

Soal harga, kata Joko, dirinya memperkirakan kenaikan harga komoditas CPO akan terasa di kuartal pertama tahun 2015. Dimana harga CPO, diperkirakan akan stabil di kisaran 2500 dan bahkan bisa tembus. Asal tahu saja, produk CPO nasional akan mencapai 30 juta ton tahun 2015. Sebagian besar diolah menjadi minyak goreng. Padahal, kebutuhan dalam negeri untuk minyak goreng hanya sekitar 7 juta ton. Hal ini dikarenakan, banyak yang diolah menjadi biodiesel. Tapi kebutuhan biodiesel dalam negeri diperkirakan 4 juta ton pada tahun 2015 mendatang.

Seiring mulai pulihnya harga komoditas CPO, tercermin dari catatan kinerja emiten sektor perkebunan yang mengalami kenaikan signifikan pada kuartal tiga tahun ini dan begitu juga dengan harga sahamnya. Tengok saja, PT Astra Agro Lestari Tbk (AALI) membukukan laba yang dapat diatribusikan ke pemilik perusahaan mencapai Rp 1,88 triliun hingga kuartal III 2014. Kinerja laba itu tumbuh 106,75% dari periode sama tahun sebelumnya Rp 910,9 miliar.

Kenaikan laba itu ditopang dari pendapatan tumbuh 41,27% menjadi Rp 11,75 triliun hingga kuartal III 2014 dibandingkan periode sama tahun sebelumnya Rp 8,32 triliun. Selain itu, perusahaan perkebunan milik grup Salim juga mencatatkan kinerja cemerlang. PT PP London Sumatra Tbk (LSIP) mencatatkan penjualan naik 12,46% menjadi Rp 3,52 triliun hingga kuartal III 2014. Hal ini diikuti dengan laba naik 57,74% menjadi Rp 698 miliar.

PT Salim Ivomas Pratama Tbk (SIMP) juga mencatatkan kenaikan laba sekitar 225% menjadi Rp 557,36 miliar. Kenaikan laba diikuti kenaikan penjualan sebesar 13% menjadi Rp 10,77 triliun. Sementara itu, PT Sampoerna Agro Tbk (SGRO) juga membukukan kenaikan penjualan sebesar 72% menjadi Rp 2,48 triliun hingga kuartal III 2014. Diikuti kenaikan laba sebesar 912,96% menjadi Rp 310,84 miliar. Kinerja cukup baik ini ditopang dari perseroan mampu menurunkan beban operasi dari Rp 16,43 miliar pada kuartal III 2013 menjadi Rp 9,29 miliar.

Hal yang sama juga dialami PT Dharma Satya Nusantara Tbk (DSN Grup) yang membukukan pendapatan tumbuh hingga 39,2% menjadi Rp3,73% dari periode yang sama tahun lalu. Kenaikan harga CPO mendongkrak pendapatan yang tinggi hingga mengerek pertumbuhan laba perseroan di level fantastis.(bani)

Related posts