Pasar Menilai Hanya Bersifat Sementara

Dampak Kenaikan BBM

Jumat, 07/11/2014

NERACA

Jakarta – Rencana pemerintah menaikkan harga Bahan Bakar Minyak (BBM) bersubsidi memberikan dampak terhadap daya beli masyarakat dan termasuk pertumbuhan ekonomi. Namun efek kebijakan tersebut diyakini hanya bersifat sementara.

Presiden Direktur Ashmore Asset Management Indonesia, Ronni Gandahusada mengatakan, kenaikan BBM bersubsidi memang akan berdampak terhadap perekonomian Indonesia, namun hanya sementara. Namun sebaliknya, dalam jangka panjang, ekonomi Indonesia akan tumbuh semakin sehat,”Selain didukung oleh fundamental yang bagus, kuatnya konsumsi domestik akan menjadi pendorong percepatan ekonomi Indonesia," ujarnya di Jakarta, Kamis (6/10).

Ronni menuturkan, khusus untuk produk reksa dana berbasis saham, masih memiliki ruang untuk terus berakselerasi sejalan dengan pertumbuhan ekonomi Indonesia,"Dengan pengalaman kami mengelola reksa dana selama 20 tahun, produk yang berbasis saham akan tetap menguntungkan," kata Ronni.

Hal senada juga disampaikan Director Head of Structured Finance Mandiri Sekuritas, Teguh Wirahadikusumah, kenaikan BBM diakui berpengaruh terhadap transaksi saham di pasar modal, namun hanya bersifat sementara, “Pelaku pasar sudah mengantisipasi dampak kenaikan harga BBM bersubsidi,”ungkapnya.

Namun demikian, dirinya menyarankan kepada investor untuk memilih saham disektor yang fundamentalnya kuat dan hindari saham di sektor ritel yang bersentuhan dengan daya beli masyarakat. Analis HD Capital Yuganur Wijanarko pernah bilang, pelaku pasar saham di dalam negeri cenderung mengambil aksi ambil untung pada perdagangan saham akhir pekan kemarin seraya mengantisipasi penaikan harga BBM bersubsidi,”Pelaku pasar sedang mengantisipasi kenaikan BBM di awal November dan sentimen lainnya di dalam negeri,”paparnya.

Dia menambahkan bahwa tertekannya indeks BEI juga dikarenakan faktor teknikal, indeks BEI telah mengalami kenaikan dalam beberapa hari terakhir sehingga mendorong pelaku pasar untuk mengambil posisi ambil untung."Keadaan jenuh beli di IHSG meyebabkan aksi 'profit taking' harian,"ujarnya.

Namun demikian, pelaku pasar saham dapat memanfaatkan momentum pelemahan indeks BEI untuk kembali mengakumulasi saham karena naiknya harga BBM bersubsidi nantinya akan berdampak positif karena beban defisit APBN menjadi ringan.

Sebelumnya, Ketua Dewan Komisioner Otoritas Jasa Keuangan (OJK) Muliaman D Hadad menegaskan, kenaikan harga BBM akan memberikan efek positif bagi pelaku pasar lantaran beban defisit APBN bisa dikurangi. Bahkan Muliaman menegaskan, bila rencana Presiden Joko Widodo (Jokowi) menaikan harga BBM bersubsidi berhasil terealisasi, maka dapat menaikan harga saham perusahaan tercatat di pasar modal.

Dirinya menjelaskan alasannya, yaitu karena ruang fiskal yang dimiliki pemerintah dari kenaikan harga tersebut dapat mendorong pergerakan sektor produktif lebih positif dari sebelumnya."Kalau harga BBM subsidi jadi dinaikkan, negara bisa menghemat biaya. Sehingga biaya bisa dialokasikan ke yang produktif, subsidi sekarang hampir Rp 300 triliun. Kalau separuh bisa kita manfaatkan ke infrastruktur, itu dampaknya ke ekonomi lebih signifikan dan persepsi orang akan positif,”ungkapnya. (bani)