IBF Targetkan Pendapatan Rp 411,8 Miliar

Jumat, 07/11/2014

NERACA

Jakarta –Tahun depan, perusahaan pembiayaan PT Intan Baruprana Finance (IBF) membidik pendapatan sebesar Rp411,8 miliar atau naik 33,79% dibandingkan target akhir tahun ini Rp307,79 miliar.

Corporate Secretary Intan Baruparna Finance, Jonggi Siallagan mengatakan, perseroan optimistis dapat mengejar pendapatan hingga akhir tahun ini. Hal tersebut didukung perolehan pendapatan hingga akhir September 2014,”Target revenue sampai akhir 2014 sebesar Rp307,79 miliar. Sedangkan sampai dengan akhir kuartal III/2014, perseroan telah membukukan pendapatan Rp278,38 miliar,”katanya di Jakarta, Kamis (6/11).

Lebih lanjut Jonggi menjelaskan, perolehan pendapatan hingga akhir September 2014, didominasi dari pendapatan untuk unit pinjaman syariah. Dengan capaian tersebut, IBF yakin target pendapatan tahun depan sebesar Rp411,8 miliar bisa tercapai.

Sementara itu, Presiden Direktur Intan Baruprana Finance Jap Hartono menambahkan, perseroan membidik laba bersih sebesar Rp60 miliar di tahun ini, sedangkan hingga akhir September 2014 perolehan laba bersih telah mencapai Rp50 miliar. Perseroan optimistis IBF pada tahun depan dapat membukukan laba bersih hingga Rp100 miliar. Hal ini didukung dengan strategi bisnis diversifikasi usaha yang telah dilakukan sejak tahun lalu.

Dalam aksi penawaran saham perdananya atau initial public offering (IPO), perseroan mengincar dana sebesar Rp639,79 milar. Perseroan berencana melepas sebanyak-banyaknya 40% atau setara 1,67 miliar saham dari jumlah modal ditempatkan dan disetor penuh setelah penawaran umum.

Adapun harga saham yang ditawarkan perseroan untuk IPO di kisaran Rp311-Rp383 per lembar saham. Dengan demikian, dana IPO yang dibidik mencapai Rp639,79 miliar,”Kami berencana menggunakan dana IPO sekitar 50% untuk modal kerja pembiayaan dan 50% lagi akan digunakan untuk pembayaran utang usaha kepada kreditur grup dan non-grup," kata Jap Hartono.

Lebih lanjut dia menjelaskan, strategi usaha perseroan dalam menghadapi jatuhnya industri batu bara, yaitu melalui diversifikasi pembiayaan kepada industri yang sedang tumbuh. Sejumlah industri yang masih potensial menurut Jap, diantaranya infrastruktur, kontruksi, minyak dan gas maupun transportasi,”Kami juga menambah jenis produk dan merek yang kami biayai. Dengan demikian, IBF tidak hanya fokus kepada satu bidang industri saja," ungkapnya.

Direktur PT BNI Securities, Daniel Nainggolan menjelaskan, saat ini kondisi pasar masih tetap baik, menilik level Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) yang masih berada di atas 5.000. Meskipun industri batu bara tengah menurun, namun dengan strategi yang telah dilakukan IBF, pihaknya optimisi penawaran saham akan diserap pasar. Dia menilai, investor masih akan mencari equity dengan return yang baik pada tahun depan,”Dengan harga saham yang ditawarkan, IBF memiliki PE (price earnings) rasio 13x sampai dengan 16x, sedangkan industri finance rata-rata memiliki PE 18,98 x. Jadi, kami menawarkan discount to market,”tandasnya. (bani)