Fenomena Susi Pudjiastuti Dikaitkan Konsep Pendidikan Masa Depan

Oleh: Prof Dr H Imam Suprayogo, Dosen UIN Malang

Kamis, 06/11/2014

Tatkala Susi Pudjiastuti diumumkan menjadi menteri kelautan dan perikanan maka segera muncul banyak komentar. Penunjukannya sebagai menteri pada awalnya diangap aneh. Sebab, wanita kelahiran Pangandaran itu diketahui tidak tamat SMA. Memang, banyak orang tahu, bahwa Susi Pudjiastuti adalah wanita sukses. Ia telah berhasil mengembangkan usaha di bidang perikanan dan bahkan juga maskapai penerbangan.

Namun, kecakapan Susi Pudjiastuti dalam mengembangkan usahanya itu, oleh sementara kalangan, dianggap belum cukup digunakan untuk menambal kekurangannya, yakni terkait pendidikan formal yang telah dijalaninya. Mungkin diangapnya bahwa, seorang menteri idealnya harus bergelar sarjana, setidak-tidaknya S1. Susi Pudjiastuti tidak memiliki latar belakang pendidikan formal setingkat sarjana. Pengusaha ikan dan maskapai penerbangan itu hanya lulusan SMP dan beberapa tahun di SMA, tetapi belum sampai lulus.

Mungkin saja banyangan orang terhadap Susi Pudjiastuti adalah sebagaimana tatkala melihat lulusan SMP pada umumnya. Misalnya, tampak kurang cerdas, pengalaman terbatas, tidak pintar bergaul, ketinggalan informasi, penakut, kurang percaya diri, dan seterusnya. Padahal pengusaha wanita itu justru sebaliknya. Saya pernah bertemu sekali, bahwa penampilan wanita itu sama sekali tidak menggambarkan memiliki kekurangan sebagaimana disebutkan itu. Bagi orang yang tidak mengetahui sejarah hidupnya maka tidak akan tahu bahwa dia sekedar lulusan SMP.

Sekalipun sekolahnya tidak terlalu lama, tetapi penampilan Susi Pudjiastuti, apalagi dilihat dari usaha yang berhasil dikembangkan, melebihi orang-orang yang mungkin saja memiliki banyak gelar akademik. Cara berpikirnya, cara berbicara, bahasa yang digunakan, pergaulannya, dan lain-lain sama sekali tidak menggambarkan bahwasanya, ia lulusan SMP. Orang akan mengira bahwa ia adalah seorang sarjana. Mungkin saja bisa disebut bukan sarjana keluaran kampus, tetapi adalah sarjana alam kehidupan.

Ketika seseorang bersedia berpikiran positif, maka seharusnya justru menghargai prestasi yang dibangun dan ditunjukkan oleh menteri kelautan dan perikanan itu. Ia tidak belajar secara sempurna di sekolah atau bahkan apalagi di kampus.

Akan tetapi pengalaman, pengetahuan, dan kecakapan yang dimilikinya tidak kalah dibanding orang-orang yang memiliki banyak ijazah dan gelar akademik. Tanpa belajar di kampus dengan berbiaya mahal, tetapi ia berhasil memperoleh pengetahuan di tempat lain yang ternyata bermanfaat bagi dirinya dan kehidupan masyarakat luas.

Kehebatan Susi Pudjiastuti, sebagai seorang yang tidak tamat SMA itu, bisa segera tampak ketika baru saja dilantik menjadi seorang menteri. Berbagai statemen yang direkam oleh para jurnalist menggambarkan bahwa ia sangat menguasai lapangan tugasnya. Ia berhasil menangkap kemauan yang akan dijalankan oleh pemerintahan baru Jokowi-JK .

Bahkan di antara menteri-menteri lainnya, menteri kelautan dan perikanan ini termasuk yang sangat produktif dalam menyampaikan gagasan-gagasan baru untuk menjawab persoalan yang dihadapi oleh bangsa ini.

Oleh karena itu, fenomena Susi Pudjiastuti ini seharunya ditangkap secara positif oleh kalangan pemikir dan teoritisi pendidikan. Di tengah-tengah kesulitan mencari cara atau pendekatan dalam meningkatkan kualitas pendidikan, ternyata muncul fenomena baru yang menarik. Terdapat seseorang yang dalam hidupnya tidak melewati masa pendidikan formal yang cukup tetapi sukses di dalam berbagai hal, baik di dalam mengembangkan ranah intelektual, sosial, maupun lainnya.

Melihat keberhasilan hidup menteri kelautan dan perikanan itu, seharusnya menyadarkan kita semua bahwa ilmu pengetahuan, wawasan, dan kecakapan tidak saja bisa diperoleh melalui lembaga pendidikan, melainkan juga dapat diperkaya lewat kehidupan nyata sehari-hari. Orang sebenarnya bisa belajar melalui pengalaman hidup atau apa yang disebut dengan autodidak.

Namun selama ini, masyarakat dan bahkkan juga pemerintah kurang memberi apresiasi terhadap orang yang nyata-nyata sukses dimaksud. Susi Pudjiastuti adalah salah satu di antara contoh keberhasilan itu. Maka, sudah seharusnya para pihak yang berwenang dan penyusun konsep pendidikan masa depan di negeri ini menghargai prestasi orang-orang yang berhasil melakukan autodidak itu. Wallahu a'lam. (uin-malang.ac.id)