DIHI Bakal Ajukan Pembentukan BUMN Ikan Hias

Rabu, 05/11/2014

NERACA

Jakarta - Dewan Ikan Hias Indonesia (DIHI) berencana mengajukan kepada pemerintah untuk pembuatan Badan Usaha Milik Negara khusus ikan hias. Upaya ini dilakukan sebagai upaya terus mengembangkan ikan hias khas Indonesia dan menciptakan nilai bisnis yang tinggi buat masyarakat.

Ketua DIHI yang juga Kepala Badan Pengembangan Sumber Daya Manusia (BPSDM) Kelautan Perikanan, Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) Suseno Sukoyono mengatakan prospek dan potensi ikan hias nasional sangat luar biasa, jika dikembangkan Indonesia menjadi pusat ikan hias terbesar di Indonesia.

“Untuk itu, agar nilai bisnisnya bisa terus dikembangkan makanya kami (DIHI dan pengusaha) berencana mengajuk kepada pemerintah untuk membuat BUMN untuk ikan hias. Ide ini muncul dari kalangan pengusaha ikan hias yang melihat prospek dan potensi ikan hias yang sangat luar biasa,” katanya kepada wartawan di Jakarta, Selasa (4/11).

Menurutnya, jika dibuat BUMN maka peran serta pemerintah akan lebih besar terhadap pengembangan ikan hias nasional sehingga pertumbuhan ikan hias akan lebih bagus lagi. Untuk itu dirinya beranji akan segera mengajukan ide dan gagasan ini kepada pemerintah. “Ini akan segera saya ajukan kepada Ibu Menteri (Susi) agar supaya dapat ditindak lanjuti,” imbuhnya.

Karena apa, berdasarkan hasil Sensus Pertanian 2013, dari 16 bidang pada sektor pertanian yang dilakukan sensus oleh Badan Pusat Statistik (BPS), bidang kelautan dan perikanan menempati rata-rata pendapatan rumah tangga tertinggi dibandingkan dengan kategori-kategori lainnya pada sektor pertanian, berkisar antara Rp 18-50 juta per tahun. Sementara bidang lainnya (non kelautan dan perikanan) hanya berkisar antara Rp 8-20 juta.

Dari seluruh kategori tersebut, ikan hias menempati peringkat tertinggi rata-rata pendapatan rumah tangga per tahun jauh di atas bidang-bidang lainnya, yaitu sebesar Rp 50 juta. “Jika lebih serius digarap, dan mendapatkan campur tangan pemerintah maka hasilnya akan jauh lebih besar dari sekarang,” ujarnya.

Adapun perkembangan ikan hias yang pesat saat ini dikarenakan jenis ikan kian diminati masyarakat, termasuk di wilayah perkotaan. Salah satu persoalan masyarakat urban adalah keterbatasan ruang, sehingga mendorong komunitas di dalamnya lebih kreatif dalam berusaha, termasuk berinovasi dalam menciptakan dan mengembangkan kegiatan. Menjadi fenomena menarik sekarang ini adalah berkembangnya bisnis ikan hias di kalangan kaum urban di wilayah Depok, Bekas, Bogor dan Jakarta.

“Menarik, karena usaha dilakukan di kawasan perumahan, apartemen, kios dan ruko dengan menggunakan lahan terbatas, dapat dilakukan sebagai pekerjaan sampingan, tetapi menghasilkan omzet milyaran rupiah. Disamping mudah untuk dibudidayakan pasar ikan hias tidak terbatas baik domestik, maupun manca negara,” ucapnya.

Pada kesempatan yang sama, Sugiarto Ketua Komisi Ikan Hias Indonesia yang juga Vice President Director PT. Indah Bumi Plantasi menambahkan kami (para pengusaha) ikan hias menginginkan adanya induk di Indonesia (pemerintah) yang mau menampung dari pengusaha-pengusaha lokal. Karena selama ini pengusaha hanya menjual atau mengekspor ke luar negeri dan selama ini kami hanya ditekan dan dikendalikan oleh importer-importir dari luar negeri (pembeli) tapi jika kita punya BUMN yang kuat dan KBRI bisa dimanfaatkan bisa membuka cabang akan sangat bermanfaat.

“Bagaimana kita akan mengembangkan potensi ikan hias nasional jika kita tidak punya kekuatan, maka dari itu disinilah peran pemerintah untuk bisa menjadi induk yang bisa menjadi kekuatan bisnis ikan hias nasional,” katanya.

Karena apa, jika di China pemerintahnya sangat kuat dalam memberikan pembiayaan sehingga mereka bisa survive dan ikan hias di sana berkembang sangat pesat. “Jika Indonesia tidak punya kekuatan akan sangat sulit berkompetisi di kancah pasar international,” tegasnya.

Berdasarkan data United Nations Commodity Trade (UN-Comtrade), pada tahun 2009, total nilai ekspor ikan hias dunia tahun 2009 sebesar US$ 322.763.153 dan total nilai ekspor ikan hias Indonesia hanya US$ 11.660.944. Lima besar eksportir ikan hias dunia diraih oleh Singapura, Spanyol, Jepang, Malaysia, dan Thailand. Namun pada 2013, dari total nilai ekspor ikan hias dunia US$ 24.197.497, Indonesia menduduki peringkat tiga ekportir ikan hias terbesar dengan total nilai ekspor US$ 24.197.497, setelah Spanyol dan Jepang.

Adapun peringkat keempat diraih Ceko dan peringkat kelima diraih Malaysia.Dalam rangka penguatan ikan hias nasional, menurut Suhana, terdapat beberapa strategi antara lain penguatan peran masyarakat (pembudidaya dan pengusaha ikan hias) dan negara dalam peningkatan nilai ekspor ikan hias; penguatan SDM, infrastruktur (termasuk penguatan benih ikan hias), transportasi, dan teknologi; serta penguatan regulasi, koordinasi lintas instansi dan eksekusi kebijakan perikanan ikan hias.