Industri Rotan Nasional Siap Hadapi MEA 2015

NERACA

Jakarta –Direktur Industri Hasil Hutan dan Perkebunan, Kementerian Perindustrian, Pranata menegaskan industri rotan nasional siap menghadapi pasar bebas ASEAN atau Masyarakat Ekonomi ASEAN (MEA) 2015 nanti. “Produksi rotan Indonesia paling besar di Asia, disamping itu industri kerajinan rotan lokal sudah mengisi pasar-pasar dunia, pada MEA nanti sudah sangat siap berkompetisi dengan negara ASEAN lain,” katanya kepada wartawan saat menghadiri Rapat lembaga Kolaborasi Pengembangan Rotan Ramah Lingkungan Tingkat Nasional dengan tema “Percepatan Pengembangan Industri Rotan Ramah Lingkungan Melalui Perkuatan Tautan Bisnis Hulu Hilir dan Dukungan Pembiayaan Hijau” di Jakarta, Selasa (4/11).

Menurutnya, MEA itu menjadi peluang bagi industri kreatif rotan membuka pasarnya di ASEAN seluas-luasnya meski pun industri kreatif rotan sudah mendunia tapi dengan adanya pasar bebas peluangnya akan lebih besar lagi terutama di negara ASEAN. “MEA itu peluang bukan ancaman, maka dari itu rapat seperti sekarang melibatkan para pengusaha akan lebih mendapatkan kekuatan industri rotan dalam menghadapi MEA 2015 nanti,” imbuhnya.

Apalagi Indonesia mempunyai keunggulan di bahan baku, sehingga jika industrinya dapat dikejar maka kita kan menjadi raja pada pasar bebas ASEAN nanti. “Setelah Permendag 535 diterbitkan tentang pelarangan ekspor bahan baku rotan dampaknya sangat besar, saat ini lebih dari 50 persen ekspor bahan baku rotan sudah tidak ada lagi sehingga bisa untuk mengisi kebutuhan dalam negeri,” ujarnya.

Namun demikian, memang Pranata mengakui saat ini masih harus dikejar adalah masalah tekhnologi, saat ini masih 80% pengrajin rotan menggunakan alat manual. Tapi memang dengan pertumbuhan penduduk Indonesia yang sangat tinggi, penting industri padat karya digalakan sebagai langkah menarik lapangan kerja. “Tekhnologi memang masih minim, tapi kita juga harus melihat penduduk Indonesia sangat tinggi, jika semua menggunakan mesin maka kasihan masyarakat tidak ada pekerjaan jadi setidaknya 50% mesin, 50% tenaga manual jadi penyerapan tenaga kerjanya tetap ada,” ucapnya.

Adapun disinggung mengenai pembiayaan, saat ini dengan pemerintah baru (Joko Widodo) semua perbankan sudah memberikan kemudahan dan akses kepada Industri Kecil Menengah (IKM) apalagi disinyalir saat ini IKM-IKM nasional banyak dibidik oleh perbankan karena kreditnya tidak bermasalah. “IKM sekarang jadi sasaran perbankan, saya rasa permodaln tidak ada masalah,” tuturnya.

Dukungan Penuh

Pada kesempatan yang sama, salah satu pengusaha industri rotan Lenoko mengatakan seperti kita tahu presiden kita (Jokowi) dan beberapa menteri cabinet kerja seperti Sofjan Djalil berasal dari industri kreatif sehingga kita pasti akan mendapatkan dukungan penuh dari pemerintah untuk terus mengembangkan dan memajukan industri kreatif.

“Kita punya presiden dan beberapa jajaran dipemerintahan yang berasal dari industri kreatif, jadi mereka tahu seluk beluknya, ini merupakan salah satu peluang bagi kita untuk lebih memajukan industri kreatif nasional. Jadi kita sangat siap menghadapi pasar bebas ASEAN nanti,” katanya.

Hal sama juga dilontarkan oleh Ketua Pusat Inovasi Rotan Nasional (Pirnas), Tanra Tellu Industri rotan khususnya mebel dan papan rotan siap bersaing di pasar bebas Asean saat MEA diberlakukan mulai 2015 nanti.

"Saya yakin industri mebel rotan dan papan rotan siap menghadapi AEC," kata di sela-sela pelatihan mebel rotan dan kayu di Kawasan Ekonomi Khusus (KEK) Palu, Rabu siang.

Ada beberapa alasan sehingga hasil industri rotan bisa diandalkan di pasar bebas Asean, yakni negara-negara Asean tidak ada yang punya potensi rotan alam yang besar dan berkualitas selain Indonesia. “Indonesia memasok sekitar 80 persen kebutuhan rotan dunia. Sebanyak 60-an persen rotan Indonesia itu berasal dari Sulawesi Tengah," ujarnya.

Alasan lainnya adalah Indonesia dewasa ini terus mengembangkan berbagai inovasi di bidang desain dan juga jenis produk sehingga lebih diminati pasar global. Selain inovasi dalam desain, Pirnas juga menemukan produk baru rotan yang sangat disukai pasar global yakni papan rotan.

Ia juga mengaku tidak khawatir akan membanjirnya investor Asean ke Indonesia untuk membangun industri rotan saat MEA diberlakukan karena industri dalam negeri sudah semakin siap bersaing dan produk-produknya sudah memiliki hak paten. “Kalau ada investor yang mau masuk silahkan saja, dari pada kita mengeskpor bahan baku keluar, lebih baik mereka membuat pabrik disini. Dan saya rasa kami siap berkompetisi,” tandasnya.

Related posts