Melalui Pendidikan, Kebiasaan Menerima Apa Adanya Harus Diubah

Oleh: Prof Dr H Imam Suprayogo,  Dosen UIN Malang

Rabu, 05/11/2014

Manakala dicermati secara saksama, bangsa ini memiliki ciri yang kurang menguntungkan, yaitu selalu menerima apa adanya. Sikap seperti itu bisa dilihat dari berbagai jenis lapangan kehidupan, baik kehidupan yang terkait dengan ekonomi, ilmu pengetahuan, teknologi, hingga menyangkut tentang kehidupan keagamaan sekalipun. Sikap menerima apa adanya itu dalam hal-hal tertentu mungkin saja ada gunanya, misalnya orang menjadi tidak berebut dan memiliki kesabaran yang tinggi. Akan tetapi sikap itu menjadikan orang tidak terdorong untuk maju.

Dalam bidang ekonomi misalnya, sekalipun sehari-hari seseorang hanya bekerja sebagai tukang becak, tukang parkir, buruh tani, pembantu rumah tangga, dan sejenisnya yang hal itu hasilnya tidak cukup untuk membiayai diri dan keluarganya, tetapi tetap saja bertahan dengan statusnya itu. Bahkan mata pencaharian seperti itu juga diwariskan dari generasi ke generasi. Lewat pewarisan seperti itu, tidak sedikit anak tukang becak menjadi tukang becak, anak buruh tani menjadi buruh tani, anak tukang parkir menjadi tukang parkir, dan seterusnya.

Anggapan yang sama juga dalam melihat ilmu pengetahuan. Mereka mengira bahwa anak orang yang tidak berpendidikan dianggap tidak perlu sekolah, dan sebaliknya diyakini bahwa, kepintaran hanya bisa diraih oleh kelompok tertentu saja. Padahal banyak kenyataan, bahwa anak orang desa miskin bisa berprestasi menjadi pejabat, ilmuwan, dan lain-lain. Bukti-bukti seperti itu, kadang juga masih diartikan secara salah. Bahwa beberapa anak miskin yang sukses bukan oleh karena usaha keras, melainkan oleh karena nasip dan sejenisnya.

Kebiasaan menerima sesuatu apa adanya, lebih-lebih lagi, sangat kelihatan di dalam bidang teknologi. Kita lihat banyak orang sejak dulu hingga sekarang, mengolah sawahnya hanya dengan cangkul, dan ketika ada perubahan, maka berjalan sangat pelan. Manakala kita perhatikan, dari menggunakan tangan, lalu cangkul, hingga menggunakan bajak memerlukan waktu yang sedemikian lama. Anehnya lagi, kelambanan dalam penerapan teknologi itu tidak saja dalam penggunaan alat pertanian, tetapi di dalam berbagai hal lainnya.

Anehnya lagi, seseorang tatkala sudah berhasil menyelesaikan persoalan, sekalipun baru pada tahap sederhana, mereka segera puas dan tidak berminat untuk berinisiatif mencari cara baru atau lainnya yang lebih efektif dan efisien. Sebagai contoh sederhana, tatkala sudah berhasil menanak nasi dengan kayu bakar, memarut buah kelapa dengan parut, mengolah sawah dengan cangkul, memotong kayu dengan gergaji, dan sejenis lainnya, mereka tidak selalu mau berusaha mencari cara baru yang lebih mudah lagi.

Bandingkan dengan orang-orang yang hidup di negara maju. Mereka itu selalu berpikir dan mencoba untuk mencari cara kerja yang lebih efisien. Tatkala menulis dengan tangan dirasa kurang cepat dan melelahkan, maka mereka mencari cara lain dan akhirnya menemukan mesin ketik, dan bahkan akhirnya berhasil menciptakan computer. Tatkala merasakan bahwa berjalan kaki itu lambat dan melelahkan, maka mereka menggunakan binatang tunggangan, seperti gajah atau kuda. Selanjutnya, tatkala merasakan bahwa kuda tidak efektif, mereka mencari cara baru dan menemukan jenis sepeda, lalu berganti sepeda motor, dan seterusnya mobil, kapal, dan sekarang, orang sudah menggunakan pesawat terbang.

Gejala yang tidak kurang menariknya lagi adalah, bahwa perasaan segera puas tidak saja dalam tulis menulis, tetapi juga dalam hal lainnya, menggambar misalnya. Dulu orang membuat gambar, tetapi sekarang dengan mengambil foto. Bahkan foto itu bisa dibuat lebih jelas dibanding aslinya, dan bisa dikirim dan dibagi kepada siapapun lewat alat yang telah dibuatnya. Sementara itu, kebanyakan kita belum berpikir menciptakan alat semacam itu, tetapi baru bisa ikut memanfaatkan hasil kreasi dan ciptaan orang yang dengan ketajaman otaknya berusaha mencari sesuatu yang lebih baru itu.

Sudah barang tentu, masih banyak lagi contoh-contoh lagi lainnya tentang kreatifitas yang dihasilkan oleh orang-orang yang dalam hidupnya tidak mau menerima apa adanya. Contoh lain hingga yang amat sederhana, yaitu sekedar sambal trasi saja, oleh orang kreatif dikemas dengan menggunakan mesin. Begitu pula bumbu kare, bumbu soto, hingga tusuk gigi, dan sejenisnya diproduk dengan alat modern hasil ciptaannya. Dengan kemajuan seperti itu, maka orang yang tidak kreatif menjadi semakin tertinggal. Maka, generasi ke depan akan sekedar menjadi konsumen dan tertinggal manakala mental puas dengan apa yang ada itu tidak segera diubah.

Sikap menerima apa adanya ternyata juga terjadi dalam kehidupan keagamaan. Misalnya, seseorang yang sudah sekian lama menjalankan shalat, membaca al Qur'an, dan juga selalu berdoa, sekalipun belum mengetahui maknanya, tetapi hatinya juga tetap belum tergerak untuk meningkatkan kemampuannya itu. Sekalipun sudah lama, tatkala berdoa dan membaca al Qur'an belum mengerti artinya, namun juga tidak ada usaha untuk menghilangkan kelemahannya itu. Mereka merasa cukup dengan apa yang ada pada dirinya itu. Sekalipun setiap hari mereka berdoa dengan bahasa yang tidak dimengerti, tetapi sudah merasa cukup dan menerima apa adanya.

Melalui pendidikan, seharusnya bangsa ini harus diubah mentalnya. Kemampuan membaca dan mencipta harus ditumbuhkan. Generasi ke depan harus ditantang dan disadarkan bahwa zaman sekarang ini adalah masanya orang menggunakan mesin, computer, dan seterusnya. Mereka harus ditanamkan kesadaran bahwa orang yang akan memenangkan kompetisi dalam pentas kehidupan ini adalah mereka yang pintar membaca dan mencipta. Oleh sebab itu, pendidikan harus diubah secara mendasar, yaitu dari menerima apa adanya menjadi pintar membaca dan mencipta itu. Islam melalui al Qur'an, sebenarnya mendorong umat agar kreatif dan selalu mencari yang baru, dan sama sekali bukan sekedar meniru. Apalagi, meniru sesuatu yang sudah ketinggalan zaman. Wallahu a'lam. (uin-malang.ac.id)