Eksistensi Sinar Mas Land Bangun Basis Ekonomi

Selalu Hadirkan Inovasi

Selasa, 04/11/2014

NERACA

Jakarta – Eksistensi sebuah perusahaan bukan karena kekuatan modal tetapi kemampuan untuk beradaptasi terhadap perubahan. Komitmen inilah yang menjadi backbone kuat bagi pengembang properti Sinar Mas Land dengan selalu menghadirkan inovasi-inovasi proyek-proyek baru sesuai kebutuhan pasar. Menyadari ketatnya persaingan bisnis industri properti saat ini, menjadi tantangan bagi Sinar Mas Land untuk menunjukkan eksistensinya dengan selalu menghadirkan inovasi terhadap proyek properti baru.

Managing Director Corporate Strategy and Service Sinar Mas Land, Ishak Chandra mengungkapkan bahwa perusahaan harus konsisten melakukan inovasi dalam pengembangan maupun pengemasan produknya,”Suatu keharusan kita, kewajiban kita, untuk menawarkan inovasi produk. Kalau produknya gitu-gitu saja, bagaimana kita berkompetisi. Inovasinya pun harus mengikuti bagaimana permintaan konsumen dan melihat tren ke depan," ujar Ishak.

Menurut Ishak, perusahaannya pun setiap dua bulan sekali meluncurkan perumahan baru untuk menyambut permintaan konsumen. Dia mengatakan, salah satu perumahan terbarunya saat ini adalah The Eminent, BSD City. Selain itu, pihaknya juga "menciptakan" sendiri permintaan terhadap properti residensial. Caranya dilakukan lewat pembangunan pusat ekonomi di lokasi-lokasi strategis,”Kalau ada commercial, office building, perkantoran, itu pasti akan membuat ekonomi bergulir. Setelah itu berjalan, akan timbul permintaan residensial," pungkasnya.

Jika selama ini bisnis properti selalu berpikir lokasi dan lokasi, kini tidak hanya itu tetapi inovasi dan inovasi. Terlebih, ditengah melambatnya pertumbuhan ekonomi dan geopolitik dalam negeri yang kembali memanas, strategi inovasi dan pendekatan yang berbeda menjadi kunci sukses memenangi persaingan bisnis properti saat ini. Meskipun pakar properti Panangian Simanungkalit menegaskan, ke depan investasi properti di Indonesia akan tetap menguntungkan, walaupun dihadang banyak aturan, misalnya Loan to Value (LTV) yang diberlakukan Bank Indonesia.

Dia mengatakan, ada tiga alasan prospek bisnis properti Indonesia dianggap sebagai sektor terbaik. Pertama, masih ada 14 juta dari 61 juta keluarga di Indonesia belum memiliki rumah. Kedua, pemerintah semakin kesulitan menyediakan rumah bagi keluarga kelas menengah ke bawah,”Itu sudah jelas faktanya, karena permintaan rumah mencapai 900 ribu per tahun, sementara pasokan hunian hanya 70 ribu – 80 ribu per tahun," ujarnya.

Ketiga, semua segmen pasar properti di Tanah Air terbuka luas sebagai investasi, termasuk pasar kelas paling bawah. Sementara itu, di luar negeri, bisnis properti untuk pasar kelas menengah ke bawah tertutup untuk pengembang dan investor,”Di Indonesia, peluang ini masih terbuka," katanya.

Fokus Proyek Komersial

Menyadari masih melambatnya situasi ekonomi saat ini yang memberikan dampak pada melambatnya penjualan residensial, memaksa Sinar Mas Land untuk fokus pada properti komersial. Hal itu dilakukan guna membangun basis ekonomi di kota-kota yang dibangun oleh Sinar Mas Land,”Sebenarnya bukan hanya situasi ekonomi yang membuat kami sedikit memperlambat penjualan residensial, tapi itu bagian dari strategi kami. Kami ingin mempercepat pembangunan proyek komersial di 20 kota. Dengan membangun komersial lebih dahulu, basis ekonomi di kota itu sudah ada, yang lain akan mengikuti. Jadi, strategi kami ke depan, lebih mendorong pembangunan komersial,”kata Sihak.

Dia menuturkan, pembangunan properti komersial diharapkan akan mendorong permintaan residensial di wilayah yang bersangkutan. Hal tersebut merupakan kabar baik bagi perusahaan,”Memang, kita akan fokus di proyek komersial. Urban development atau city development itu merupakan faktor yang membangun economy base. Kalau ada commercial, office building, perkantoran, itu pasti akan membuat ekonomi bergulir. Setelah itu berjalan, akan timbul permintaan residensial," ujarnya.

Ishak menyadari, dalam dua tahun ke depan, pertumbuhan properti residensial juga tidak semenarik dua hingga tiga tahun lalu. Namun, secara konsisten menciptakan permintaan merupakan langkah yang tepat. Hal ini juga bisa "menyelamatkan" perusahaan ketika kondisi ekonomi tidak menentu."Kita tahu bahwa dua tahun ke depan pasti residensial growth-nya akan tidak seperti dua tiga tahun yang lalu. Jadi, strategi kita adalah membangun permintaan itu. Jadi, bukannya menunggu permintaan. Menciptakan permintaan(demand) adalah dengan menciptakan basis ekonomi. Caranya, membangun proyek komersial. Sampai tiga tahun ke depan, pasti akan begitu," imbuhnya.

Karena itu, Ishak juga sudah menargetkan agar perusahaannya mampu memiliki recurring income hingga 30% dari total pemasukan. Jika recurring income atau pendapatan berulang bertambah, kondisi perekonomian yang buruk hanya akan sedikit berpengaruh."Kita perlu satu kombinasi. Kombinasi pemasukan dari development income dibandingkan recurring income. Kalau semuanya di development income, kalau nanti keadaan ekonomi jelek, itu akan lebih berpengaruh. Tapi, kalau kita punya pendapatan berulang, ekonomi jelek pengaruhnya akan lebih sedikit," kata Ishak.

Dia menambahkan, bawa kombinasi antara development dan recurring income itu harus ada keseimbangan. Pihaknya menginginkan, recurring income mencapai 30% dari total pemasukan. Perlu diketahui, proyek-proyek baru yang tengah digarap Sinarmas Land pada 2014 ini umumnya berbentuk properti komersial, seperti de Breeze, pengembangan properti retailer besar Courts, Casa de Parco, Apartemen Saveria, Foresta Bussiness Loft, bahkan pengambilalihan Epicentrum Walk seluas 5,5 hektar di Rasuna Epicentrum, Kuningan, Jakarta. (bani)