Optimalisasi Krakatau Steel Bangun Daya Saing

Agresif Tambah Pabrik Baru

Selasa, 04/11/2014

NERACA

Jakarta - Meskipun performance kinerja keuangan PT Krakatau Steel Tbk (KRAS) mengalami perlambatan, namun tidak mengurungkan niat perseroan untuk terus ekspansi usaha. Bahkan perseroan terus mengoptimalkan kinerja perusahaan dan meningkatkan daya saing melalui pembangunan pabrik Blast Furnace dan pembangkit listrik berteknologi Combined Cycle (Combined Cycle Power Plant/CCPP) berkapasitas 120 MW,”Pabrik Blast Furnace akan mampu menurunkan beban konsumsi listrik hingga 50 persen dibandingkan pola konvensional yang dilakukan sekarang," kata Direktur Utama PT Krakatau Steel Irvan K Hakim di Jakarta, kemarin.

Pabrik Blast Furnace tersebut ditargetkan selesai pada pertengahan 2015, sementara CCPP berkapasitas 120 MW, ditargetkan selesai pada akhir 2014. Menurut Irvan, beroperasinya pabrik Blast Furnance dan CCPP diharapkan beban biaya perusahaan dapat menurun sehingga berimbas pada peningkatan laba.

Dia menjelaskan, pabrik blast furnace mengadopsi teknologi berbasis batubara dengan proses yang lebih efisien, sehingga menurunkan biaya produksi baja cair dan slab, meningkatkan marjin laba, dan menciptakan keseimbangan kapasitas produksi iron making, steel making & rolling mill,”Keberadaan pabrik blast furnace tersebut dapat menurunkan konsumsi energi listrik dalam proses pembuatan baja slab," ujar Irvan.

Berdasarkan perhitungan, setiap 100 kwh/ton penurunan konsumsi listrik akan berimbas pada penurunan beban biaya produksi hingga 10 dolar AS/ton dengan tarif listrik terbaru. Hal tersebut terbukti di beberapa pabrik baja lain yang menggunakan Hot metal di dalam proses Electric Arc Furnace (EAF).

Hingga kuartal III-2014, proses pembangunan fisik pabrik blast furnace sudah mencapai 62,4% dan diharapkan bisa mencapai 100% pada kuartal III-2015,”Upaya meningkatkan daya saing biaya yang dilakukan melalui pembangunan pabrik blast furnace berteknologi batu bara ini diharapkan akan semakin membuat kinerja produksi lebih efisien," kata Irvan.

Sementara itu, terkait dengan pembangunan CCPP 120 MW tersebut, Irvan mengharapkan nantinya akan berdampak pada peningkatan kapasitas produksi listrik, menurunkan biaya produksi dan meningkatkan efisiensi pabrik baja yang berujung pada peningkatan laba. Selain hal tersebut, program efisiensi juga dilakukan dengan konversi boiler 400 MW yang saat ini berbasis gas menjadi berbasis batubara. Program konversi energi itu akan dilakukan dengan konversi tahap awal 2x80 megawatt terlebih dahulu mulai tahun 2014.

Sebelumnya, perseroan melalui anak usahanya, PT KHI Pipe Industries telah menyelesaikan pembangunan fasilitas produksi pipa Electric Resistant Welding (ERW) ke-2. Dengan selesainya penambahan fasilitas lini produksi, kapasitas PT KHI Pipe Industries bertambah sebanyak 115.000 ton menjadi 233.000 ton per tahun.

Direktur Utama PT KHI Pipe Industries Purwono Widodo mengatakan, ekspansi ERW ke-2 dilakukan untuk mengantisipasi potensi pasar pipa ERW yang terus berkembang terutama pada sektor minyak dan gas (migas),”Melalui pengembangan ERW ke-2, PT KHI membidik potensi pasar pipa ERW, terutama pada sektor migas, yang terus berkembang dengan peluang pasar pipa berdiameter 14 inci-20 inci, yang saat ini hanya bisa dipasok oleh satu pabrikan pipa,” kata Purwono.

Dia melanjutkan, penambahan fasilitas produksi ERW ke-2 ini dapat menambah daya saing dan pertumbuhan perusahaan ke depannya, baik dari sisi perolehan pendapatan maupun laba, sehingga berdampak juga terhadap kinerja PT Krakatau Steel Tbk secara konsolidasi.

Dijelaskannya, penambahan fasilitas produksi ERW ke-2 pada tahap awal akan mampu menyerap kurang lebih 50.000 ton produk HRC PT Krakatau Steel Tbk dan bila telah beroperasi secara lancar, penyerapannya bisa mecapai kurang lebih 120.000/ton,”Penyerapan ini akan membawa kabar baik karena akan menambah captive market bagi produk HRC PTKS," ungkap dia.