Pemerintah Bakal Bangun 10 Kawasan Industri

Pemerataan Pembangunan Ekonomi

Rabu, 29/10/2014

NERACA

Jakarta - Menteri Perindustrian Saleh Husin mengatakan berdasarkan rapat kabinet arah kebijakan dari pemerintah Joko Widodo (Jokowi)–Jusuf Kalla (JK) tentu ingin memajukan industri nasional. Pemerintah baru di bawah label Kabinet Kerja itu, menurut Menperin, bakal menjadikan industri sebagai tulang punggung kemajuan ekonomi dan penopang utama pertumbuhan ekonomi di Indonesia.

“Untuk itu rencananya ke depan kami (pemerintah) akan membangun 10 kawasan industri yang berada dari Sabang sampai Merauke, wilayah Barat hingga Timur. Kalau detailnya nanti, kita ingin rapat internal dulu. Tapi gambaran umumnya pemerintah pengin membangun 10 kawasan industri. Adapun dimana saja nanti secepatnya kami sampaikan. Tapi kami ingin pembangunan kawasan industri ini bias merata untuk pembangunan ekonomi agar tidak berpusat di pulau jawa saja,” ungkap Husin kepada wartawan sesaat setelah melakukan serah terima jabatan dengan menteri lama M.S Hidayat di Jakarta, Selasa (28/10).

Disinggung mengenai target-target apa saja yang akan dicapai, jelas Menteri Perindustrian, kalau bicara target pasti ingin memajukan industri nasional, peningkatan upah buruh peningkatan kualitas produk domestik. “Dan banyak hal tapi lagi-lagi itu kan tidak harus dibicarakan secara internal kementerian dulu mau mulai dari mana step by step-nya harus seperti apa. Target dari presiden ada pasti, tapi saya ingin dengar masukan dulu, dari situ kita tahu mulai dari mana,” terangnya.

Tapi memang, lanjut dia, keinginan besar dari pemerintah adalah tentu menjadikan industri nasional menjadi raja di negara sendiri, bahkan bisa disegani di Asia Tenggara. “Intinya kami akan bekerja memajukan industri nasional dengan menghasilkan sesuatu demi kemajuan bangsa. Nanti apa saja program dan target-target kami pasti akan kami sampaikan selanjutnya,” kata Husin.

Terpusat Di Jawa

Lebih jauh dia menegaskan, selama ini dirinya melihat masih banyak ketimpangan ekonomi dan masih terpusat di daerah Jawa saja. “Padahal negara kesatuan kita luas jadi memang kita ingin ada pemerataan. Nantinya pembangunan kawasan industri itu bisa di barat, timur, atau tengah. Intinya biar pembangunan ekonomi bisa merata dan dinikmati oleh seluruh masyarakat Indonesia,” tuturnya.

Pada kesempatan berbeda, Direktur Departemen Kebijakan Ekonomi dan Moneter Bank Indonesia (BI) Dodi Zulverdi mengatakan perekonomian Indonesia selama tahun 2013 tercatat tumbuh 5,7%. Akan tetapi pertumbuhan yang dinilai masih tinggi itu tidak dirasakan semua daerah. Ekonomi negara ini masih sangat timpang. "Ketimpangan ekonomi di daerah itu masih terjadi. Masih ada terus daerah yang tertinggal. Meskipun total pertumbuhannya tinggi. Ini menjadi masalah dan tantangan ke depan," katanya.

Dodi mengatakan, ekonomi terbesar masih terjadi di pulau Jawa. Ini karena kondisi stabilitas makro yang lebih baik. Di samping itu, ada keunggulan dari institusi pemerintah dan tenaga kerja. "Memang dilihat dari kondisi sumber daya manusia (SDM) itu memang Jawa lebih tinggi. Industrinya juga banyak di sini. Jadi wajar jika Jawa lebih tinggi," ujarnya.

Selain itu, kondisi di luar Jawa menurut Dodi masih sangat tertinggal infrastrukturnya. Sehingga akses untuk mendorong aktivitas ekonomi itu masih terbatas. Ini terlihat dari rendahnya daya saing produk. "Daerah Sulawesi, Maluku, Papua, sebagian Sumatera, dan sebagian Kalimantan itu juga terkendala kestabilan ekonomi dan infrastruktur," kata Dodi.

Untuk pemerataan ekonomi, Dodi menilai perlu dilakukan beberapa hal. Terutama adalah membangun industri bernilai tambah sesuai dengan sumber daya andalannya. Seperti Papua yang mengandalkan tembaga.

Menurut Dodi, tidak mungkin bila Papua dibangun banyak industri tekstil. Karena tidak berkaitan dengan sumber dayanya. Harusnya yang dikembangkan adalah pabrik pengolahan tembaga. Ini sudah dimulai dengan penerapan aturan Minerba oleh pemerintah. "Agar tidak ada ekonomi yang timpang. Maka strategi pertumbuhannya itu harus diubah dengan pengembangan industri sesuai keunggulan daerah. Itu dimulai sekarang. Jadi ekonomi daerah itu tumbuh dengan stabil," jelasnya.

"Tidak seperti sebelumnya yang kalau lihat Papua, itu kalau bahan mentah ekspor masih menjadi andalan. Kadang ekspor tinggi maka ekonominya langsung melejit. Tapi kalau lagi turun itu langsung anjlok. Itu kan tidak stabil dan ekonominya tetap rendah," terang Dodi.